September 5, 2018

Good Communication Skill



“Kalian cocok banget, yang satunya cerewet yang satunya pendiem. Jadi balance gitu!” Ucap seseorang selepas kami berstatus menikah.

“Biasanya ya gitu, kalau pendiem dapetnya ya yang cerewet.” Ucap saudara kepada suami saya kala itu.

Jika mengingat komentar di atas, saya cukup menghela nafas. Terlepas dari yin yang , bagi saya memiliki suami pendiam itu PR. Komunikasi sangat penting, bagaimana bisa jika tetap menjadi pendiam terutama pada istri?, pikirku Ibaratnya sebagai amunisi saya saat berperang, sebagai kail saat saya memancing dan sebagai keyboard saat saya mengetik. 

Maka dari itu karena penting, pada New Alenia saya mengawali tulisan mengenai mendengarkan yang tentunya masih satu paket dengan seni berkomunikasi.

Kejutannya adalah... saat ini saya juga tengah mengikuti kelas Bunda Sayang Batch #4 yang Materi pertamanya membahas mengenai ‘Komunikasi Produktif’. Seperti senada dan seirama, saya akan lebih mudah membahasnya karena memang ini menjadi PR utama saya dalam menjalani pernikahan dengan Pria yang awalnya memang kurang komunikatif alias pendiam.

TANTANGAN!

Mungkin dengan oranglain Suami saya boleh saja tidak banyak bicara. Tapi dengan saya tentunya suami harus sering bicara, bahkan hal yang sepele saja kadang ia bahas. Haha..

Bagaimana bisa berubah seperti ini? tentunya bukan tanpa upaya. Kami berdua berkomitmen untuk memegang kunci bersama. Menurut kami, kunci dari hubungan yang baik adalah komunikasi yang baik.

Pada awalnya selisih paham sering terjadi, karena tidak dikomunikasikan dengan baik.  Cara penyampaian juga berpengaruh besar terhadap kelangsungan komunikasi yang baik.

Saya curhat ke Papa terkait selisih paham yang sering terjadi di awal penikahan, saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan Suami saya. Seperti harus menebak-nebak apa yang sedang ia pikirkan ataupun rasakan. Tentunya tidak bisa terus begini. Kemudian Papa memberi contoh kepada saya terkait cara menyampaikan.

“Misal ada orang yang akan memberikan uang seratus ribu, jika memberikannya dengan cara dilempar dan memberikannya dengan berkata: Ini ada sedikit hadiah untukmu, ditabung ya.. Kiranya kamu pilih yang mana?”

“Yang berkata dengan baiklah pah” Jawab saya dengan cepat.

“Jika dengan sama-sama berkata, nih uang ambil aja jangan boros-boros!  dan contoh sebelumnya, kamu pilih yang mana?” tanya Papa lagi.

“Aku pilih yang menyampaikan dengan baik-baik dong” saya menjawabnya lagi.

“Nah..kalau kamu juga suka dengan cara yang baik-baik, maka sampaikan juga semua hal dengan cara yang baik. Cara menyampaikan itu penting, kamu harus belajar itu” jelas Papa kala itu.

Setelah mendapat nasihat mengenai cara berkomunikasi, banyak hal yang harus saya ubah untuk dapat berkomunikasi dengan Suami. Pertama saya ubah dulu minset saya, jika saya dan Suami adalah dua individu yang berbeda. Bahkan kami dilahirkan dari Ibu yang berbeda, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda sehingga harus disadari betul oleh saya jika Suami memiliki cara yang berbeda juga dalam berkomunikasi.

Dalam Materi Bunsay sesi #1 ada istilah FoR (Frame of Reference) yaitu cara pandang, keyakinan, konsep dan tata nilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari didikan orangtua, buku yang dibaca, pergaulan dll. Kemudian ada istilah FoE(Fram of Experience) yaitu serangkaian kejadian yang dialami seseorang dan dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang. FoR dan FoE inilah yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang.

Dari penjelasan itu saya jadi semakin memahami bahwa Suami saya juga memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda atas sesuatu karena FoR dan FoE yang ia miliki berbeda dengan yang saya miliki. Komunikasi bermasalah saat masing-masing dari kita “memaksakan” agar pendapatnya dapat diterima. Terpaku dalam sudut pandang masing-masing tanpa saling memahami.

Nah..setelah mendapat materi ini. saya hanya ingin  ilmu yang saya peroleh dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Masih dalam perjalanan panjang untuk melangsungkan komunikasi produktif sebagai komponen penting menjalani suatu hubungan. Semoga Allah selalu mampukan saya dan juga pembaca semua dalam melakukan komunikasi produktif, baik itu ke pasangan (suami/istri), orang tua, saudara, teman dan juga anak.

Komunikasi adalah sebuah keterampilan yang dapat kau pelajari. Belajar berkomunikasi itu seperti mengendarai sepeda atau mengetik. Jika kau mau mengerjakannya, kau akan dapat mengubah kualitas dari semua bagian hidupmu” _Brian Tracy

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day03



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 4, 2018

NEW ALENIA (Part 1: Letakkan Handphonemu!)






"Salah satu bentuk hormat yang paling tulus adalah benar-benar mendengarkan orang lain.”

__ Bryant H. Me Gill



Seperti menjadi Alenia Baru bagi saya, menulis dalam sebuah blog. Kiranya bisa diambil hikmah bagi pembaca dan tempat ini menjadi ruang yang saya sebut sebagai Dapur Kata Ibu Mahira (tempat saya belajar meramu aksara).

Setelah The Best Plan dari Allah dapat saya lalui kini telah menjadi keputusan saya dalam memenggal status Ayah LDR untuk Mahira. Tanggal 9 Agustus menjadi hari bersejarah bagi kami, melewati rangkaian jalan panjang yang saat kita melintasinya, kita harus membayar. Tak apa membayar, tidak ada harga setara dengan kebahagiaan saat kita bersama. Tinggal dalam atap yang sama.

Dalam perjalanan ada sedih yang saya hempaskan begitu keras, mengedepankan logika untuk dapat melangkah dengan pasti. Sekalipun masih terasa berat jika semua detailnya teringat.

Hari cukup terik, matahari mulai meninggi dan bergerak ke arah Barat. Saya menurunkan sun visor mobil untuk menghalau sinar yang perlahan mengganggu pandang. Suami saya masih menyetir mobil dengan serius seraya menikmati pemandangan tol Palimanan yang begitu sepi kala itu. Mahira anak saya tidur dalam pangkuan, mungkin saya ini adalah car seat ternyaman dan termahal yang Mahira miliki.

Teringat jika hari itu adalah deadline untuk mengumpulkan sinopsis kelas lanjutan cernak di Pejuang Literasi. Tangan saya perlahan merogoh tas yang saya letakkan dibagian kursi belakang. Suami saya melirik sebentar sambil tersenyum, saya juga tahu ,di tengah fokusnya ia juga memperhatikan saya.

“ Pasti nyari HP” tebaknya.

“Sayang..aku diizinkan bikin outline ya? Karena ada DL hari ini.” Pinta saya padanya dengan penuh harap.

Kami memang mengadakan perjanjian, saat kita bersama sebisa mungkin jangan ada yang mengoperasikan HP. Apalagi saat perjalanan. Seperti perjanjian Linggar jati yang begitu menguntungkan pihak Belanda. Terkadang saya sering ingkar. Jadi sudah tahu ya siapakah pihak Belanda tersebut? Haha...

“Kamu sudah nggak sedih lagi sayang?” Suami saya mencoba membuka percakapan, mumpung jalan begitu senggang. Tingkat fokus dan akomodasi mata tidak sedang ekstra.

“Nggaklah.. aku kan ada DL” jawab saya mengingatkan kembali terkait izin tadi.

“Kamu bisa mengerjakan di mobil? Nanti ajalah kalau sampai rumah.” Tawarnya meragukan kemampuan saya.

Tanpa pikir panjang saya tidak menjawab lagi percakapan tersebut dan membuat suami saya melirik kembali saya dengan wajah tanpa senyum.

“10 menit ya? Aku mau ditemani” Celetuknya lagi

Seketika itu saya merasa bahwa saya lah yang membutuhkan fokus dan akomodasi mata sangat ekstra dari pada suami saya yang sedang nyetir.

10 menit berlalu...

Setelah saya selesai membuat outline dan menyetorkannya kepada PJ. Saya kembali diingatkan oleh Suami untuk meletakkan Hpnya kembali dan fokus menikmati jalan panjang menuju Ibu Kota. Wajahnya sumringah, ngguyu-nguyu terus. Saya juga senang dengan pemandangan di samping saya (baca; melihat suami saya senyum-senyum). Mungkin beginilah seharusnya perjanjian berlangsung. Kedua belah pihak sama-sama bahagia.

Saat LDR saya biasa terbebas menggunakan HP kapanpun, namun dalam alenia baru ini saya belajar menghormati pasangan, menghidupkan quality time dan menjalankan perjanjian. Sekalipun tidak mudah, saya merasa berhasil memanfaatkan 10 menit tersebut untuk profesionalitas saya saat itu. Walaupun saya harus resend outline yang lebih baik lagi di esok harinya, namun setidaknya saya sudah berusaha menyelesaikan tugas sesuai DL.

Alenia baru membuat saya juga belajar memahami orang lain dan mendengarkan, sekalipun itu hal sepele menurut saya namun bisa jadi itu hal besar yang sedang diinginkan pasangan. Dalam batin saya sempat terkekeh sambil berkata: Nyetir aja minta ditemenin.

“Sayang, terimakasih ya sudah nemenin nyetir tanpa main HP. Waktu itu aku ngantuk banget. Jadi aku butuh kamu untuk mengingatkanku. Makanya aku suruh kamu jangan pakai HP dulu karena bisa saja menjadi bahaya.” Celetuknya saat kami sedang menikmati Soto Boyolali Pak Widodo ditemani gerimis yang menyambut kedatangan kami di Kalisari.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day 02
#My New Alenia



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 3, 2018

Berburu di Pulau Buru






Bismillah...

Judul dan postingan ini saya pilih untuk mengawali tantangan ODOP Batch #6 hari ini ini. InsyaAllah selama dua bulan, Ibu Mahira akan posting di blog sebagai bentuk menjalankan tugas komunitas hingga terjadi peralihan bahwa “menulis adalah kebutuhan” dan terwujudlah visi saya dalam membentuk habit menulis. Aaamin...

Siang itu tanggal 19 Agustus, saya iseng berkunjung ke papan searching instagram hingga saya mendarat dalam sebuah akun yaitu  @komunitas.odop Akun ini memposting oprec peserta ODOP batch #6. Entah karena semangat pitulasan yang masih teradopsi sempurna dalam sanubari atau rasa iri terhadap bendera merah putih yang tak gentar berkibar setiap bulan Agustus. Saya memberanikan diri untuk melakukan registrasi dengan begitu cepatnya.

“Wuuuuuuuzzzzzzzz........!!!”  Seperti Barry Allen saat berwujud The Flash.

Namun sayangnya keinginan menulis belum seperti The Flash yang makwuzz dalam menuliskan tiap ide yang ngendon di pikiran.  Alias belum berbanding lurus dengan keinginan membeli buku yang tak terkendali. Saya merasa belum menemukan balancing antara membaca dan menulis.

Sebagai upaya mencapai visi saya dalam membentuk habit menulis, maka sepertinya keputusan join dengan ODOP adalah tepat. ODOP (One Day One Post) adalah komunitas yang didalamnya akan memaksa anggotanya untuk menulis setiap hari.  Begitulah yang disampaikan oleh Founder ODOP bernama Bang Syaiha dalam materi Sejarah Komunitas ODOP yang di sampaikan oleh Bang MS Wijaya.

Teringat pesan Ayahanda terkait kata “dipaksa” beliau menuturkan kepada saya yang sangat sulit untuk makan buah dan sayur kala masih dibangku SMP,

 Ada kalanya kebaikan sifatnya harus dipaksa terlebih dahulu, seperti belajar agar luas wawasan, seperti olahraga agar sehat, seperti makan buah agar BAB lancar, dengan keterpaksaan itu nantinya kamu akan mendapat manfaat dan semoga dari manfaat kebaikan itu akan lahir keikhlasan.”

Dan untuk sebagian aktivitas terpaksa itu saya merasakan betul dampaknya. Makna terpaksa bergeser beraturan menjadi hal biasa tanpa merasa terpaksa lagi.  Mungkin ini juga akan saya berlakukan untuk habit menulis yang ingin saya wujudkan. Semoga Allah mampukan.

Alhamdulillah.. Pada tanggal 26 Agustus, nama saya berada diantara 138 Peserta yang berhasil masuk dalam batch #6 kali ini. Masuk dalam WAG “Pra ODOP Batch 6” berjumpa dengan beberapa kawan yang sudah saya kenal. Mereka semua teman-teman satu frekuensi yang habit menulisnya sudah cukup bagus dengan bukti banyaknya arsip dalam blognya. Sedangkan saya adalah A Fresh Beginning yang ibarat kena cipratan air dari ban mobil yang melintas genangan air saja bisa menggerutu. Maka dari itu saya beranikan diri untuk nyemplung dan berburu di Pulau Buru.

Pulau Buru
Adalah nama grup kecil yang mewadahi saya dan dua puluh delapan anggota lainnya untuk saling menyemangati, berbagi dan menginspirasi. Ada tiga admin yang bertugas ekstra menjaga Pulau Buru agar layak huni. Saya tidak akan membahas apa itu Pulau Buru dan alasan apa hingga tim memilih nama ini karena saya tidak tahu. Haha... Tapi perlu diketahui, saya disini sedang berburu Ilmu.

Di Pulau buru semua penghuninya kelak memiliki Blog yang memposting masing-masing tulisan mereka setiap hari, dari tulisan-tulisan tersebut biasanya saya agendakan Blog Walking dan itu sama seperti saya sedang berburu ilmu.

Pun tim ODOP sendiri sudah mempersiapkan jadwal kelas dari hari Senin hingga Jumat. Dengan adanya jadwal kegiatan di WAG Besar dan Grup Kecil ( Pulau Buru ) akan penuh manfaat, InsyaAllah. Dan tugas berburu ilmu masih terus berlanjut dengan pencapaian: tulisan saya semakin baik, kontennya menemukan genre yang sesuai, mendapat banyak ilmu dari materi yang di sampaikan Tim dan juga tulisan teman-teman yang saya baca.




Betapa saya sangat bersyukur menemukan komunitas ini, yang mendekatkan mimpi saya untuk dapat membangun habit menulis, membalancingkan kegiatan membaca dengan menulis, mengisi arsip Blog dengan genre yang masih dalam pertimbangan . Semoga saya dapat menjalankan tantangan ODOP, konsisten dalam menulis dan bersinergi dalam mencapai tujuan ODOP itu sendiri. Amin..
Selamat Berburu di Pulau Buru!!


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day 01

Lanjut Baca yuk.. >>>

June 1, 2018

The Best Plan (Part 2)




Kehendak Nya menjadi tumpukan PR teratas yang harus dihadapi. Akhir dari paragraf ini memiliki lanjutan cerita syukur  yang hendak saya tuliskan. Episode HP hilang sudah kami ikhlaskan, sekalipun kemampuan teknologi memudahkan suami saya tahu dengan update dimana posisi HP dan pencurinya, ia tak sedikit pun melangkah meminta kembali HP nya. Dia menyampaikan pemikirannya pada saya; Asalkan HP itu bermanfaat untuk kebaikan maka di perolehlah pahala untuk kami yang mengikhlaskan, jika HP itu di gunakan untuk keburukan maka Allah yang akan memberi balasan. Demikian rapi ketetapan Allah, “kenapa harus dipikirkan?” jelasnya dengan nada yang lembut.

Nampaknya saya tidak bisa mengganggu gugat dengan segala pengalamannya yang membuat ia berpikir demikian mengenai “kehilangan benda” karena memang ini bukan kali pertama nya suami kehilangan benda dengan harga yang kami harus menabung cukup lama untuk membelinya. Dengan ikhlas pula saya membelikan HP untuk suami dengan uang tabungan yang saya miliki, uang ini adalah uang yang selalu saya sisihkan setiap bulan dan rencananya untuk membeli mesin jahit. Tidak ada rasa gelo sedikit pun, alat komunikasi agaknya menjadi terpenting untuk saat ini dari pada mesin jahit.

Esok hari nya kami berkunjung ke rumah sewa yang rencana akan menjadi tempat tinggal kami untuk mengambil kunci rumah, namun pemiliknya ternyata belum juga kembali dari luar kota. Padahal kami sudah sangat berharap untuk silaturahmi dan memindahkan barang-barang tambahan milik Mahira. Singkat cerita kami habiskan beberapa hari di Ibu kota dan kami pulang ke Pemalang bersama.

Binar bahagia Ayah Mahira tak bisa di sembunyikan, di rumah Pemalang sering kali bercerita agenda-agenda apa saja yang akan ia lakukan bersama Mahira saat di Jakarta. Saya hanya mendengarkan dengan amin dalam hati, dengan pemikiran sebentar lagi itu akan terjadi. Dengan sedapnya manusia berencana, namun Allah lah yang memberi keputusan bahkan revisi atas rencana kita. Setelah kabar pemilik rumah sewa kembali dan kunci sudah di tangan suami, suami hendak memindahkan barang-barang pada hari Jumat. Entah mengapa jumat? Ternyata saat itu ada quick respon bencana yang membuat Suami saya begitu sibuknya mengurus kepentingan negara. MasyaAllah... hingga harus memilih hari Jumat waktu yang mungkin baru sempat.

Saat Jumat tiba dan suami hendak chek ke rumah, MasyaAllah... jalan di depan rumah masih dalam proses cor. Tentu suami saya cancel memindahkan barang-barang. Bahkan motor saja sulit lewat apalagi kendaraan roda empat. Proses keringnya tentu lama, belum lagi di hotmix. Rasanya Ramadhan pertama kami tidak bisa bersama dan tentu sudah nanggung kalau harus pindahan menjelang Idul Fitri. Maka kami buat keputusan untuk pindahan saat semua kondisi sudah memungkinkan.

Di saat mungkin hati suami saya bersedih karena tertunda nya kami bersama, Allah antarkan padanya sederet pekerjaan. Menyelesaikan data Mangrove seIndonesia dan proyek bersama salah satu BUMN untuk menerangi Papua Barat dan Maluku. MasyaAllah...
Di iringi lagi tiga hari menjelang puasa adik yang sangat saya sayangi jatuh sakit dan berlanjut opname di RS. Kebetulan Adik perempuan saya  sedang UAS dan mama sangat membutuhkan bantuan saya.
Kami diantarkan pada kesibukan masing-masing yang menjadikan kami tidak berlarut dengan kecewa, mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan justru membuat api semangat menebar karena dapat memberi manfaat.

Saya tidak bisa bayangkan, betapa lebih kecewanya saya tidak bisa membantu mama mengurus adik-adik jika saat itu sudah pindah ke Jakarta.
Saya tidak bisa bayangkan, betapa repotnya saya di awal Ramadhan karena suami sedang sibuk-sibuknya pekerjaan.

Maka dari itu saya sangat bersyukur
HP suami saya hilang,
Ibu pemilik rumah pergi begitu lama,
Jalan depan rumah yang mendadak di cor,
Dan segala rencanaNya yang selalu di kemas cantik untuk saya. MasyaAllah...

Kalaupun harus bersedih karena belum bisa bersama itu tidak sepadan dengan menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama. Membantu proses supplay listrik ke pelosok papua dan membantu orang sakit serta orang tua yang sedang kerepotan. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama? MasyaAllah... Semoga Allah limpahkan rahmat dan ridho untuk kami atas keikhlasan yang kami upayakan sebaik mungkin.

Terkadang banyak saat dimana suatu keadaan tidak berjalan sesuai dengan rencana, namun jangan terburu berburuk sangka. Kita harus pandai menyikapi segala bentuk PR dari Nya. Seberat bahkan sepahit apapun itu tetap menjadi ladang amal sholih bagi kita. Jangan pernah izinkan hati dan pikiran sembarangan saja dalam menerima kehendakNya, itu hanya akan menjadi celah bagi syaitan untuk membuat kita mudah kecewa, sedih dan juga seperti merasa paling lelah di dunia. Kebahagiaan yang Allah hadirkan selalu datang beserta antonimnya begitu pula kesulitan datang berserta antonimnya, yess.. The Best Plan.

Ada pula yang ketika hidupnya penuh rintangan justru ia semakin gembira. Gembira sebab Allah sedang menaikkan derajatnmya. Ada pula yang justru ia semakin khawatir. Khawatir dirinya memang tak dimampukan untuk menghadapi ujian. – Muhammad Ghiyats-


Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.



Lanjut Baca yuk.. >>>

The Best Plan (Part 1)






Mahira sudah bertumbuh cepat, di usianya ke tiga belas bulan ia mulai melangkah. Adaptasi yang saya rasakan semakin penuh perjuangan ekstra. Mengikuti kemana langkah kakinya pergi dan menjadi kesibukan tersendiri bagi saya. Sejak penyesuaian itu menemui ritme yang pas, Ayah Mahira mengajak kami pindah ke Ibu Kota. Menyandang status Ayah LDR dengan membacakan kisah sebelum tidur by Video Call adalah kesedihan yang tak tertumpahkan. Saya sadar betul, figur ayah menjadi sangat minin untuk Mahira dapatkan. Bahkan Ayahnya sendiri tak bisa sewaktu-waktu  memeluk, mengecup anaknya berulang kali. Ahhh.. sedih rasanya. Saya juga punya peran ganda dan mendominasi dalam mendidik Mahira, bagian suami terabrasi oleh jarak dan waktu. Itu semua hendak kami usaikan tahun ini. InshaAllah...

Suami saya mencari rumah sewa dan diantara puluhan rumah, kami sudah menemukan yang sesuai dengan kriteria kami. Alhamdulillah... Ini adalah hal luar biasa yang kami syukuri, mengingat betapa sulitnya menemukan rumah yang sesuai dengan kebutuhan dan budget kami di Jakarta. Menjelang Ramadhan kami akan berpindah dan menyambut Ramadhan bersama dalam atap yang kita anggap seperti rumah sendiri. Sankin bahagianya saya ungkapkan hal ini ke teman-teman, semoga doa mereka kerinduan mereka terkemas baik untuk saya walaupun kami berjauhan. Tapi saat saya berkunjung ke Jakarta untuk mengechek calon tempat tinggal kami, kehendak Nya menjadi tumpukan PR teratas yang harus dihadapi.

“ Sayang, aku sudah sampai” demikian saya chat suami.

Beberapa kali dialing juga belum di respon. Mungkin sedang di jalan. Saya berusaha positif thinking. Setelah turun dari kereta, saya menepi ke tempat duduk terdekat dan menyuapi Mahira yang ingin makan. Saya fokus untuk membuatnya dalam mood yang baik, sembari menunggu suami saya menghubungi. Selang beberapa menit, baru saja saya buka kotak makanan Mahira. Suami saya mengucap salam.

“ Assalamu”alaikum...” Ucapnya sambil tersenyum seolah tidak ada apa-apa.

“ Wa’alaikum salam. Sayang kapan tiba? Kok tahu kami menunggu di sini.” Tanya saya penasaran.

“Iya tentu lah.. Ibu dan Mahira kan bidadari, wajahnya begitu bersinar di tengah keramaian” Celetuknya membuat saya sedikit melted.

Mata Mahira menscaner Ayahnya, setelah cocok dengan memori maka ia merespon dengan gelagat ingin gendong tapi malu. Ayah mengeluarkan mainan yang ia sempatkan beli di toko mainan sebelum menjemput kami. Bonding time berlangsung cepat, Mahira makan dengan lahap dan kami bersiap menuju hotel.

Kami menggunakan KRL menuju Manggarai, gerbong cukup luang. Mahira sangat happy dengan mainan baru nya tapi ia lebih happy bisa menaiki kereta listrik dengan lorong gerbong yang kosong, begitu pula ibunya. Haha... Kami bertiga pun bisa duduk dengan leluasa, saat suami saya membisikkan pelan kalimat “Sayang...HP aku sebenarnya hilang” Ucapnya dengan nada lirih. Saat itu pula HP saya lagi-lagi bergetar karena mendapat telpon dari Bapak mertua. Sesaat terdistrek, saya masih ingin mendengarkan suami saya bercerita tapi saya juga harus mengangkat telponnya. Antara bingung dan kaget, suami saya memberi aba-aba untuk mengangkat telpon dari Bapak terlebih dulu. Dengan persetujuannya baru saya berani mengangkat telponnya sambil perlahan memanajemen perasaan dan pikiran agar sinkron.

Setelah mengangkat telpon, ia melanjutkan ceritanya. Betapa miris kejadiannya dan membuat saya gregetan dengan sikap pencopet tersebut. Sebanyak apa yang hilang? Seharga HP yang Ayah Mahira tabung cukup lama, sebanyak memori demi memori mengenai Mahira yang terus saya kumandangkan via WA.

“Sayang.. Apa kamu kecewa?” mungkin ini pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak perlu saya ajukan tapi tetap saya ajukan.

Suami saya menatap saya dalam, berlanjut menatap Mahira. Pria yang menjadi imam saya ini memang jarang bicara tapi sekalinya bicara sering kali menggetarkan.

“ Tidak sebanding dengan apa yang Allah berikan ke aku... memiliki kamu dan Mahira” jawabnya dengan menyentuhkan tangan kanannya ke saya dan ke Mahira.

MasyaAllah... dan saya pun bersyukur sangat dalam, ia hadir menjemput kami dengan kondisi yang sehat wal afiat dan kami berkumpul bersama dengan hati yang bahagia. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.   

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 152)

Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.




Lanjut Baca yuk.. >>>