Showing posts with label FitrahSeksualitasAnak. Show all posts
Showing posts with label FitrahSeksualitasAnak. Show all posts

August 26, 2019

Aliran Rasa Tantangan Game Level 11


Alhamdulillah Game level 11 sudah selesai, kali ini kami dibuat dalam pembagian tim. Saya masuk ke dalam tim 5. Rasanya tantangan game level ini seru sekali karena kami dapat belajar dengan cara yang lain. Kebersamaan dengan tim 5 membuat kami saling mengenal peserta lain di kelas Bunda Sayang. Saya jadi kenal Mbak Etty yang luar biasa dalam pengusaan materi terkait pendidikan fitrah seksualitas, saya jadi kenal mbak Cindy yang enerjik dalam membawakan obrolan sehingga asik dan mengalir, begitu juga mbak Hida yang semangat sekali menjadi moderator yang mampu membaca indtruksi yang sudah di bahas dalam tim.

Kami berempat memiliki karakter yang berbeda-beda, namun semua bisa saling menyeimbangkan. Kami saling mengkoreksi apa yang dalam persiapan presentasi dan juga saling berbagi pengalaman terkait tema yang kami bawa yaitu, "Aqil dan baliqh secara bersamaan."

Hal baru tentunya bagi kami yang selama 10 kali tantangan selalu melibatkan anak dan suami, namun kali ini kami belajar dengan cara lain dan saya merasa asik sekali. Menyampaikan resume ala kami dari masing-masing presentasi yang disampaikan oleh tim lain selama 10 hari. 7 hari lainnya saya mencari tema dari beberapa sumber terkait pendidikan fitrah seksualitas.

Maraknya kasus mengenai pornografi dan praktik perzinaan adalah bentuk nyata dai gagalnya orangtua dalam memberikan pendidikan seksualitas. Dari sekian pendidikan yang diberikan, ternyata banyak dari orangtua yang melewatkan pendidikan fitrah seksualitas ini sebagai materi pendidikan yang harusnya sudah mulai di aplikasikan sejak anak masih dini.

Dari presentasi yang di sampaikan oleh tim lainnya, saya semakin banyak tahu dan belajar dengan cara seperti ini begitu mengasyikkan. Alhamdulillah kami bisa melewatinya hingga tantangan game level 11. Terimakaish Bunda Sayang...
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 15- Manfaat Taekwondo bagi Anak Perempuan


Ada kekhawatiran mendalam dari orangtua terutamanya sang Ibu, jika ia tidak dapat selalu menjaga anaknya secara fisik selama 24 jam. Ada saat dimana anak di sekolah tanpa orangtua, pergi untuk berbagai aktivitas penting lainnya tanpa orang tua hingga tingga berjauhan dengan orangtua karena harus studi dan lain sebagainya. Sehingga penting bagi orangtua membekalinya self defense.

Pada tulisan sebelumnya mengenai self defense, saya tertarik dengan pembahasan mengenai salah satu cabang olahraga bela diri, yaitu Taekwondo. Banyak sekali olahraga bela diri yang ada di Indonesia dengan kekhasan dan teknik-tekniknya yang berbeda-beda, namun apakah manfaatnya bagi anak perempuan? 

Kegiatan fisik selalu dikaitkan dengan anak laki-laki yang secara motorik dan stamina lebih kuat dari anak perempuan. Sekalipun fitrahnya demikian tak salah bukan jika anak perempuanpun dapat berlatih kegiatan fisik, salah satunya dengan memilih olahraga taekwondo. Apa saja manfaatnya bagi anak perempuan?


Berikut ini 5 manfaat taekwondo bagi anak perempuan:



1. Lebih Fokus dan Nggak Ambisius Soal Kompetisi


Sadar atau nggak, tingkat kompetisi anak perempuan lebih tinggi dan kebanyakan melibatkan cocok tidaknya diri sendiri ketika bergaul. Banyak anak-anak perempuan yang berjuang dengan penuh tekanan untuk bisa bersaing dengan anak-anak lain, misalnya dalam hal akademik. Nah, akan tetapi dalam seni bela diri seperti taekwondo fokusnya pada perbaikan diri, bukan berusaha menjadi yang terbaik dari saingannya.

2. Memiliki Tujuan Hidup yang Konkret

Terkadang sampai anak SMA, ketika ditanya cita-cita masih bingung mau jadi apa. Terlebih anak perempuan yang nantinya akan menjadi seorang ibu, tentu mereka seharusnya bisa memilih ingin menjadi wanita karir atau seorang ibu di rumah. Dengan anak mengikuti seni bela diri seperti taekwondo, mereka bisa belajar kalau memperoleh sesuatu ada prosesnya. Mereka bisa belajar tentang cita-cita dengan dianalogikan seperti sabuk berwarna yang harus didapatkan dalam taekwondo. Dari ujian sabuk itu mereka bisa termotivasi untuk mencapai sebuah tujuan yang jelas, Bun.

3. Dapat Mengontrol Diri dan Konsentrasi

Taekwondo menekankan kendali diri dan konsentrasi. Perhatian adalah inti seni bela diri. Anak-anak harus tetap fokus untuk belajar dan melakukan latihan. Ketika fokus anak melayang, instruktur akan meminta mereka mengambil posisi siap. Karena memang kebanyakan anak perempuan lebih cepat meluap emosinya, maka dengan ikut taekwondo, mereka bisa mengontrol diri. Taekwondo juga merupakan cara yang aman menyalurkan energi berlebih pada anak.



4. Membantu Koordinasi Tubuh


Taekwondo jelas bisa membantu koordinasi tubuh. Gerakan bela diri berulang yang disengaja dapat membantu anak-anak mengembangkan perasaan yang lebih baik untuk tubuh mereka. Hal tersebut dapat berguna untuk anak-anak yang berjuang dengan keterampilan motorik. Taekwondo juga dapat membantu beberapa anak memahami kekuatan pikiran atas tubuh yang oleh sebagian orang dianggap sangat bermanfaat bagi anak-anak dengan ADHD.

5. Melindungi Diri

Instruktur seni bela diri yang baik memiliki aturan yang jelas. Mereka juga menekankan perilaku yang baik di dalam dan di luar kelas. Beberapa bahkan mengirim anak-anak ke rumah dengan grafik perilaku yang harus ditandatangani orang tua. Jadi, taekwondo memang diciptakan untuk membela diri namun dalam hal yang positif, Bun bukan untuk melakukan praktik kejahatan. 

Nah demikian 5 manfaat Taekwondo bagi anak perempuan. Banyak manfaatnya ya Bun..

Sumber: 
Asri Ediyati dalam artikel Hai Bunda, berjudul manfaat taekwondo bagi anak perempuan.

#Day15
#FitrahSeksualitasAnak
#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP
#Level11


Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 14- Pentingnya Self Defense bagi Anak




Kita sering mendengar istilah Self Defense Mechanism? Lalu sebenarnya Apa itu Self Defense Mechanism? Yaitu mekanisme pertahanan diri. Cara manusia melakukan pertahanan diri, melindungi diri itu ada bermacam-macam, seperti: 


1. Displacement: mengalihkan ke target lain atau ke arah lain.


2.Projection: memproyeksikan ke orang lain.


3. Introjection: memproyeksikan ke dalam.


4.Reaction formation: melakukan hal yang sebaliknya dari yang dirasakan.

5. Regression: mundur pada tahapan sebelumnya.

Tingal bagaimana kita memilih dengan cara bagaimana melalkukan pertahanan diri, saat terhimpit oleh keadaan yang membahayakan seperti kejahatan yang akan dilakukan  oleh orang lain. Maraknya kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh teman sebaya maupun orang yang lebih tua, tentu membuat orang tua harus lebih ketat dalam memberikan pengawasan. Namun orang tua tidak selamanya bisa selalu bersama anak, ada saatnya bagi mereka harus menyelesaikan masalahnya sendiri ketika menghadapi beberapa kesulitan. 

Tindak kejahatan yang berkembang saat ini tidak hanya melibatkan orang dewasa. Kejahatan terhadap anak juga bisa dilakukan oleh teman sebaya di dalam maupun luar sekolah. Maka sangat perlu sekali anak dibekali dengan kemampuan self defense atau pertahanan diri. Pertahanan diri ini bukan selalu berkaitan dengan kontak fisik, namun lebih kepada memberikan pemahaman agar anak bisa berinteraksi dengan sehat. Anak bukan diajarkan untuk membalas dengan tindakan yang sama atau reaction formation, namun kita bisa mengajarkan berbagai jenis  tindakan pertahanan diri sesuai dengan keadaan yang anak terima tentunya dengan reaksi yang sesuai atau tepat.

Daniel dalam artikel medcom.id mengatakan sekolah bela diri yang ia buat memang pada awalnya ditujukan bagi orang dewasa. Namun keprihatinannya terhadap kekerasan yang terjadi pada anak mendorongnya untuk memberikan ilmu pertahanan diri kepada anak-anak.

"Dalam self defense ada namanya tindakan preventif, masuk dalam kategori awareness. Jadi sebelum ancaman itu datang kita menghindar. Tendang dan pukul menjadi opsi terakhir ketika kekerasan sudah sangat fatal," kata Daniel.
 
Daniel menambahkan, belajar self defense bukan hanya latihan fisik untuk menendang dan memukul. Pertahanan diri juga diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada anak untuk meningkatkan kewaspadaan dan berinteraksi secara sehat. Bela diri juga, kata dia, jyga meningkatkan kemampuan anak bergerak secara motorik, stamina, dan kemampuan mengontrol emosi.
 
"Jangan takut anak-anak belajar self defense. Karena kami mengedepankan keselamatan, bukan tendang dan pukul. Tapi bagaimana anak merespon dengan baik ancaman di lingkungan mereka," ungkap Daniel. Mengingat begitu banyak kasus yang pernah terjadi, maka penting sekali mengajarkan anak self defense sebagai bekal saat orangtua tidak bisa selalu bersamanya. Anak-anak akan mendapat banyak keuntungan dari belajar self defense, bukan hanya tendang pukul saja tapi manfaat lain untuk motorik, stamina dan kemampuan mengontrol emosi.



Daftar Pustaka
Feist & Feist (2009). Theories of Personality. New York: McGraw Hill.
Medcom.id dalam rubrik Rona, Keluarga. Pentingnya mengajarkan Self defense bagi anak.

#Day14
#FitrahSeksualitasAnak
#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

August 20, 2019

Day 13- Buku sebagai media untuk mengenalkan jenis kelamin






Sedini mungkin anak harus diajari mengenal jenis kelaminnya maupun tentang gender. ''Merunut pada teori perkembangan psiko­sosial Freud, usia 2-3 tahun adalah masa yang paling krusial untuk si anak belajar tentang jenis kelamin,'' ungkap Srisiuni Sugoto PhD, psikolog senior bidang psikologi perkembangan.

Sehingga tak heran jika pada fase itu, anak sering memegang kelaminnya. Mereka juga mulai menyadari adanya perbedaan pada anatomi  antara laki-laki dan perempuan, kemudian muncul pertanyaan mengenai asal usul bayi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan seks.

Bagaimana orangtua menyikapi ini? Sering kali kita abai atau bahkan asal dalam memberikan jawaban. Padahal seharusnya keingintahuan tersebut dapat diusaikan dengan jawaban yang baik sesuai dengan pemahaman si kecil. Salah satunya orangtua bisa menjadikan buku sebagai media untuk mengenalkan jenis kelamin. 

Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam memberikan pendidikan fitrah seksualitas, utamanya pada usia 2-3 tahun dimana anak harus diperkenalkan mengenai jenis kelamin sehingga harapannya pada usia 3 tahun ia dapat menyebutkan jenis kelaminnya apakah dia perempuan atau laki-laki? 

Buku berikut merupakan salah satu buku yang saya beli untuk mengenalkan Mahira pada jenis kelamin, dalam buku ini jenis kelamin diungkapkan dalam diksi yang mudah dipahami oleh anak balita. Tentunya didukung penyampaikan kita yang tepat. Ada beberapa pertanyaan lain yang dijawab dengan contoh perspektif iman guna mengenalkan ia pada penciptaNya.

Judul: BUNDA KENAPA YA?
Penulis: Maharhanie Septi






#Day13
#FitrahSeksualitasAnak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 12- Evaluasi dan perenungan peran Ibu dalam mengontrol nutrisi makanan si kecil







Pakar kesehatan spesialis andrologi bernama dr. Nugroho Setiawan, MS, SpAnd, menyebutkan bahwa jika anak laki-laki kerap mengkonsumsi susu kedelai, maka hal ini bisa berpengaruh pada organ vitalnya. Sebagai informasi, susu kedelai ternyata kaya akan hormon estrogen sehingga andai anak laki-laki kerap mengkonsumsinya, dikhawatirkan hal ini akan menurunkan produksi hormon testosteronnya. Sebagai informasi, pada masa pertumbuhan, hormon testosteron berpengaruh besar pada perkembangan ukuran organ vital anak laki-laki. Hal ini berarti, dengan kerap mengkonsumsi susu kedelai, dikhawatirkan ukuran kelamin anak laki-laki menjadi lebih kecil dan kantung buah zakarnya akan cenderung lebih mulus dan bukannya hitam dan berkerut layaknya pada umumnya.

Penggalan penuturan yang disampaikan dr. Nugroho Setiawan, MS, SpAnd dalam artikel di website doktersehat.com bisa menjadi contoh kecil agar kita sebagai Ibu mau terus berupaya dalam belajar, gemar membaca bahkan mencari info terkait nutrisi yang baik untuk putra-putrinya. Kebenaran mengenai konsumsi kedelai secara berlebihan ini memang sudah dilakukan uji coba terhadap tikus jantan dan tikus betina https://id.theasianparent.com/kedelai-anak-laki-laki-feminin bahkan manusia secara langsung dalam jangka waktu tertentu. 
Tapi semua tidak menjadi masalah jika kontrol nutrisi tetap dilakukan bukan? 

Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A`raaf : 31)

Tentunya semua yang berlebihan tidak baik, sehingga akan memberikan dampak tertentu kedepannya. Namun akan menjadi soal lain jika ternyata kontrol nutrisi ini tidak dilakukan secara langsung oleh Ibu terhadap anak-anaknya, misalkan kondisi dalam masyarakat kita yang menyerahkan urusan dapur kepada asisten rumah tangga dan mengabaikan nutrisi apa saja yang sampai pada tubuh anak kita. Kondisi lain seperti membiarkan anak mengkonsumsi makanan cepat saji karena memilih praktisnya makanan mengingat waktu Ibu memasak tidak memungkinkan dan kebiasaan keluarga masa kini yang cenderung suka makanan instan. 

Dampak-dampak tersebut tentunya ada terkait dengan nutrisi yang terdapat dalam makanan yang dimakan anak-anak kita. Tak menjadi soal jika menyerahkan tugas memasak kepada asisten namun kita masih bisa berkesempatan mengontrol nutrisi mereka dengan banyak cara, seperti membuat daftar menu, meracikkan bumbu, menyiapkan bekal dan mengatur waktu untuk menyiapkan cemilan enak sendiri. Tidak menjadi hal yang ribet jika semua makanan dan cemilan anak terorientasi dengan real food, karena real food sangat mudah dijumpai dimana saja baik di pasar tradisional maupun super market.

Menyadari pentingnya peran Ibu dalam mengontrol nutrisi anak sebagai bentuk pencegahan baligh terlalu dini, maka banyak sekali yang menjadi tugas kita ke depannya. 

1. Apa makanan yang dikonsusmsi anak kita selama ini sudah sehat dan baik?
2. Kontrol nutrisi apa saja yang sudah kita lakukan?
3. Apakah kita sudah rajin berbelanja dan membuat daftar menu makan untuk anak?
4. Seberapa sering kita membiarkan anak mengkonsumsi makanan instan?
5. Bekal makanan si kecil apakah sudah sesuai kontrol nutrisi?
6. Seberapa banyak kita mencari informasi dan tahu mengenai kandungan terhadap berbagai bahan makanan selama ini?
7. Apa kita sudah membiasakan diri membaca tabel nutrisi pada makanan kemasan?

Begitu banyak evaluasi diri dan perenungan mendalam untuk recharge kembali semangat menjalankan peran Ibu sebagai pengontrol nutrisi. Mengingat dampak-dampak nyata yang timbul akibat baligh terlalu dini. 

Semoga bermanfaat.

#Day12
#FitrahSeksualitasAnak
#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 11- FAQ anak mengenai seksualitas dan cara menjawabnya


#Day 11
Tema:  FAQ anak mengenai seksualitas dan cara menjawabnya
Presentator: TIM 10

Materi presentasi yang dilakukan TIM 10 berupa pertanyaan anak mengenai seksualitas dan cara menjawabnya. Saya tidak bisa membuat resume, melainkan harus memfoward materi yang ada karena ini bisa dijadikan bacaan bagus untuk Ayah, Bunda dan semua pembaca dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan si kecil mengenai seksualitas.

Seru sekali pertanyaan-pertanyaan dari si kecil, bahkan kadang tidak terduga sehingga banyak orangtua kesulitan dalam menjawab. Materi yang disajikan TIM 10 menjabarkan banyak contoh pertanyaan si kecil dan cara menjawabnya. Bunda bisa simak selengkapnya di: https://drive.google.com/file/d/1-0j1VUM3LVJge_SClPPP_6CA2_AotGnu/view?usp=sharing

#Day11
#FitrahSeksualitasAnak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 10-Peran Lingkungan dan Perlindungan terhadap Kejahatan Seksual





Day 10
Tema: Peran Lingkungan dan Perlindungan terhadap Kejahatan Seksual
Presentator: Tim 9

Bahaya tentang kejahatan seksual terhadap anak, hampir saban hari terjadi. Ada ratusan modus dalam menjerat korbannya. Sungguh ironis, anak- anak yang tak berdosa itu, kerap menanggung derita akibat kelakuan para pelaku. Sampai saat ini, berbagai upaya telah dilakukan pihak- pihak terkait agar jumlah korban mampu ditekan. Meski begitu, kasus perkasus tetap saja terjadi.
Seperti pembahasan pada tim sebelumnya bahwa peran orangtua sangat penting sekali, tapi ternyata tidak hanya peran Ayah dan Ibu saja, bahkan lebih dari sebuah keluarga, peran lingkungan dalam hal ini termasuk peran sekolah, masyarakat dan juga negara. Pada presentasi tim 5 pernah menyampaikan kolaborasi peran merupakan upaya penting perlindungan anak dari kejahatan seksual. 
Masing-masing lingkungan bertugas menjalankan perannya dalam memberikan perlindungan melalui banyak hal yang bisa diupayakan antara lain pendidikan, pembimbingan, kontrol lingkungan, kajian dan kegiatan positif untuk mengarahkan pada hal positif dan manfaat , bahkan lebih jauh lagi negara mampu membuat UU yang melindungi warganya dan menjerat para pelaku sehingga menimbulkan efek jera sehingga menekan data korban kejahatan seksual. 

#Day10
#FitrahSeksualitasAnak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 09- Penyimpangan seksualitas, pencegahan dan solusi

#Day 09
Tema: Penyimpangan seksualitas, pencegahan dan solusi
Presentator: TIM 8

Pada awal pemaparan Tim 8 menjelaskan mengenai peran penting Ayah dan Ibu dalam mengenalkan pendidikan fitrah seksualitas yang sangat penting sedari diri. Pendidikan Fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir, menumbuhkan fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. Banyak penelitian yang menyampaikan mengenai data bahwa perceraian orangtua dan hal lain yang membuat kedekatan dan peran orangtua menjadi tidak ada untuk anak, dapat menyebabkan berbagai macam masalah yang timbul seperti perasaan terasingm kehilangan, depresi, gangguan jiwa, sehingga permasalahan tersebut kelak bisa mengganggu masalah sosial dan seksualitasnya. 

Tak heran berbagai masalah penyimpangan seksualitas begitu banyak terjadi. Lalu sebenarnya apa sih penyimpangan seksualitas itu?

Pengertian penyimpangan seksual adalah segala bentuk penyimpangan seksual, baik arah, minat maupun orientasi seksual. Penyimpangan adalah gangguan atau kelainan. Sedangkan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Obyek seksualnya juga bisa berupa orang lain, diri sendiri maupun obyek dalam khayalan.

Penyimpangan seksualitas tersebut seperti homoseksual, biseksual, kemudian ada beberapa jenis kelainan seks lainnya seperti eksibionisme, voyeurisme, froteurisme, pedofilia, sadomasokis, sadisme, zoofilia, nekrofilia, transvestisme dll. Penyimpangan seksualitas ini menjadi begitu menghawatirkan orangtua sehingga diharapkan setiap orangtua berperan besar dalam memberikan pendidikan seksualitas sedini mungkin dan dengan cara sebaik mungkin.  

Lalu untuk melakukan pencegahan dan solusinya jika hal tersebut terjadi?
Pencegahannya adalah dengan memberikan pendidikan agama yang baik, jika dalam islam maka ada aturan  khusus dalam memisahkan antara kamar anak laki-laki dengan anak perempuan, mengenalkan kepada tuhannya sedini mungkin harapnnya agar hatinya selalu terpaut akan tuhan sehingga tercegah dari perbuatan yang buruk. Yang kedua adalah pola asuh orangtua, memberikan pendidikan fitrah seksualitas sesuai tahapan usianya, melakukan komunikasi yang baik sehingg aterbentuk konsep diri yang baik pada anak. Tang ketiga adalah peran Ayah secara optimal dan yang keempat adalah menjauhkan anak dari akses ponografi baik bacaan maupun tontonan (TV, gadget, dan media lainnya)

Solusi dari tim 9 memaparkan solusi yang disampaikan oleh dr. Fidiansyah: 
Konseling dengan psikologi dan psikiater, akan ada pendekatan dan penanganan khusus yang dilakukan berdasarkan penyebabnya, antara lain dari aspek biologi dengan cara pengobatan, dari aspek psikologi dengan mengubah perilaku atau kebiasaan, lingkungan sosiologi dengan memodifikasi ulang perilaku dalam lingkungan sosialnya, merubah kognitif, midset atau car aberpikirnya dan meluruskan kembali pemahamannya yang keliru dari spiritualnya. 


#Day09
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

August 16, 2019

Day 8- Menjaga Diri Dari Kejahatan Seksual

#Day 08
Presentator: TIM 8

Banyak hal yang kita ajarkan pada anak-anak tentang keamanan selama masa tumbuh kembangnya, dari lihat kanan-kiri sebelum menyebrang, sampai jangan ambil permen atau biskuit dari orang yang tidak dikenal hingga mengajarkan bagaimana cara menjaga diri dari kejahatan seksual. 

Tim 7 memberikan berbagao contoh kekerasan yang terjadi di masyarakat kita dan juga ciri fisik, psikis bagi korban yang mengalami. 

Dengan begitu kita akan lebih wara' dalam berlaku sehingga harus memberikan banyak pengetahuan kepada anak bagaimana cara menjaga diri. Berikut tabelnya: 


#Day08
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

August 13, 2019

Day 06- Aqil dan Baligh Secara Bersamaan



#Day 06
Tema: Menuju Aqil dan Baligh secara bersamaan
Presentator: TIM 5

Haloooo Bunda, simak materi versi audionya yukkk di: https://anchor.fm/akmala-maulida/episodes/Pendidikan-Fitrah-Seksualitas-e4udgq


Kesimpulan dapat dichek di: https://steller.co/s/9mbU3nq9ZNB


#Day06
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

August 12, 2019

Day 05- Peran Ayah dalam pengasuhan untuk membangkitkan fitrah seksualitas


#Day 05
Tema: Peran Ayah dalam pengasuhan untuk membangkitkan fitrah seksualitas
Presentator: Tim 4


Jadi peran ayah itu tidak hanya terbatas pada mencari nafkah harta saja tapi juga harus memberikan waktu dan kasih sayang, lebih jauh lagi ayah harus berperan sebagai role model bagi anak untuk belajar ketegasan dan kuat untuk menolak segala hal negatif yang ditawarkan oleh lingkungan luar atau teman sebayanya.
Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya. Jika anak perempuan mendapatkan cukup cinta dari ayahnya, dia tidak akan mencari cinta dari lelaki lain di luar rumah, hingga menjelang pernikahannya.
Bagi anak laki-laki, ayah adalah super hero pertamanya, idola pertamanya. Jika anak laki-laki tidak mendapatkan ayahnya sebagai super hero atau idola maka dia akan mencari super hero atau idola lain di luar rumahnya. Anak laki-laki juga butuh edukasi pada masa pubertasnya, oleh karena itu yang paling baik dalam mengedukasi hal tersebut adalah sang ayah.


#Day05
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 04- Cara Mengenalkan Jenis Kelamin pada Anak

#Day 04
Tema: Cara mengenalkan jenis kelamin pada anak
Resume dari tulisan Dita Nurwijaya, theasianparent.com, pengalaman bersama si kecil.

Gender sebagai sebagaimana yang kita ketahui, diartikan sebagai perbedaan peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki. Gender dipersoalkan karena secara sosial telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, hak serta ruang aktivitas antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Gender perlu dikenalkan kepada anak dengan tepat, karena jika salah dalam pengenalannya akan berdampak pada perkembangan anak untuk masa depannya. Tapi perlu kita ketahui dulu bahwa gender dan seks itu berbeda. Gender adalah sifat atau perilaku, dan peran sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan seks adalah organ vital yang ada pada manusia, laki-laki atau perempuan. Dan sifatnya pun berbeda seks atau jenis kelamin ini sifatnya mutlak sedangkan gender sifatnya bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan.


Mengenalkan gender kepada anak cukup membutuhkan upaya yang lebih, cara mengenalkan gender pada anak yaitu:

1. Pola asuh
Pola asuh sangat berpengaruh terhadap pengenalan gender. Jika orangtua tidak tepat dalam membelajari, maka akan berdampak pada masa depan anak. Contoh orangtua saat hamil menginginkan anak perempuan, ketika lahir ternyata anak laki-laki, dari bayi anak sudah diasuh dengan cara seperti merawat bayi perempuan bukan laki-laki. 


2. Melalui media
Dengan media kita dapat mengenalkan gender terhadap anak dengan buku cerita, pilih buku cerita yang disukai oleh anak, meskipun dengan dibacakan anak-anak akan antusias mendengar cerita yang mereka sukai dan sambil bercerita orangtua dapat menanyakan tokoh dari cerita tersebut, apakah mirip dengan ayah atau ibu dan menanyakan hal-hal yang mengarah kepada perbedaan gender. 


3. Melalui permainan
Anak-anak sangat suka dengan permainan, dengan permainan ini dapat kita ajarkan perbedaan gender itu seperti apa. Dengan bermain peran seperti menjadi ayah dan ibu, yang jadi ayah perannya yaitu bekerja sedangkan ibu perannya memasak, menjaga anak,dll. Permainan seperti ini akan memperkenalkan kepada anak apa peran dan tanggung jawabnya sebagai laki-laki dan perempuan.


4. Melalui Obrolan ringan saat melihat objek secara langsung.
Sesekali kita mengajak anak keluar untuk tamasya atau sekadar keliling komplek untuk mengekplore suatu objek. Kita akan dengan mudah berjumpa dengan banyak orang dimana hal tersebut bisa dijadikan obrolan ringan dengan anak. Jika Om nya adalah laki-laki dan tantenya adalah perempuan. Kita ajak si kecil untuk melakukan pengulangan atas apa yang kita sampaikan. Ini cara yang fun. 


#Day04
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

August 11, 2019

Day 03- Peran Ortu dalam membangkitkan fitrah seksualitas


#Day 3
Tema: Peran Ortu dalam membangkitkan Fitrah seksualitas.
Presentator: Tim 3



Orang tua hendaknya kembali kepada peran dan fungsi utamanya sebagai pendidik anak-anak. Berkaitan dengan pergeseran seksual dan peran gender yang terjadi saat ini, orang tua wajib bersinergi dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak. Karena menumbuhkan fitrah ini banyak bergantung pada kehadiran dan kedekatan dengan ayah dan ibu.


Fitrah seksualitas penting untuk dibangkitkan sejak dini supaya :
  • Anak mengerti dan bisa memastikan identitas seksualnya, apakah dia itu laki-laki atau pun perempuan
  • Anak mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya sehingga mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya
  • Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual


Sejatinya tujuan pendidikan seks yg benar adalah untuk menjaga *keselamatan, kehormatan dan kesucian* anak-anak kita (dr hubungan seks di luar nikah dan penyimpangan2 seksual lainnya) hingga ke jenjang pernikahan/ berkeluarga.

Fitrah peran ayah :
🌹Penanggung jawab pendidikan
🌹Man of vision and mission
🌹Sang ego dan individualitas
🌹Pembangunan system berpikir
🌹Supplier maskulinitas
🌹Penegak profesionalisme
🌹Konsultan pendidikan
🌹The person of “tega”

Fitrah peran ibu :
💝Pelaksana harian pendidikan
💝Person of love and sincerity
💝Sang harmoni dan sinergi
💝Pemilik moralitas dan nurani
💝Supplier feminitas
💝Pembangunan hati dan rasa
💝Berbasis pengorbanan
💝Sang “pembasuh luka”


#Day03
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

August 9, 2019

Day 02- Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini


#Day02
Tema: Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini
Presentator: Tim 2

Pembahasan tema pertama sangat seru sekali, hingga saya bersemangat membuat catatan kecil untuk pribadi. Memahami perbedaan gender itu sangat perlu, karena sejauh ini kita masih banyak yang salah kaprah mengenai gender dan jenis kelamin. Lalu setelah kita tahu, maka sebaiknya kita mulai mengenalkan pendidikan fitrah seksualitas sejak dini.


Membahas tentang seksualitas, banyak yang beranggapan bahwa ini seperti mengenalkan anak pada arti hubungan seksualitas antara perempuan dan laki-laki. Padahal seksualitas dalam ini berarti kondisi seksualitas seseorang. Misalnya seorang perempuan, seksualitasnya merupakan seorang yang lembut, penyayang, berpakaian feminim, menjadi seorang istri dan ibu setelah menikah dan memiliki anak, dan sebagainya yang berhubungan dengan perempuan.

Terkait dalam hal ini, ternyata seorang psikolog terkemuka yang konsen kepada pendidikan anak, Bunda Elly Risman, mengajarkan bahwa setiap anak memiliki firtrah seksualitasnya. Yakni di mana seorang anak menerima figur dan membentuk seksualitasnya berdasarkan fitrah kebutuhannya untuk dididik oleh kedua orang tua, ayah dan ibunya.

Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir. Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. 

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai Aqil Baligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap. 

0-2 Tahun: Anak didekatkan dengan Ibu
3-6 Tahun: Anak didekarkan dengan Ayah dan Ibu

Dengan harapan membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki".

7-9 Tahun: Anak Laki-laki didekatkan dengan Ayah dan Anak Perempuan didekatkan dengan Ibu.

10-14 Tahun: Anak Laki-laki didekatkan dengan
Ibu dan Anak Perempuan didekatkan dengan Ayah. 


Inti pendidikan fitrah seksualitas sejak dini :

0-15 th

- Kasih sayang seimbang
- Mengedukasi dan mengenalkan
- Membiasakan dan menguatkan prinsip gender dan seksualitas
- Menyempurnakan jika masih diperlukan

Pada usia > 15 th

Ayah & ibu hanya sebagai pendamping dan penasihat karena anak sudah menjadi manusia dewasa sesungguhnya.

Sehingga diharapkan sebelum menginjak usia 15 tahun, aqil baligh anak sudah terbentuk dengan baik dan tumbuh secara bersamaan melalui peran serta orang tua dalam memberikan pendidikan fitrah seksualitas sejak dini.



#Day02
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>

Day 01- Pemahaman Perbedaan Gender



Alhamdulillah... sudah memasuki game level 11. Kejutan kali ini membuat saya seperti terbangun dari tidur. Biasanya fokus memikirkan ide-ide fun learning untuk membersamai Mahira, kali ini Ibuknya dituntut untuk aktif diskusi dengan teman-teman sekelas, teman grup dan tim yang sudah dibagi oleh Fasilitator. MasyaAllah... 
InsyaAllah semoga tetap bersemangat hingga akhir. 

#Day 01
Tema: Pemahaman Perbedaan  Gender
Presentator: Tim 1 

Pengertian gender lebih konkrit dan operasional dikemukakan oleh  Nasarudin Umar bahwa gender adalah konsep kultural yang digunakan untuk memberi identifikasi perbedaan dalam hal peran, perilaku dan lain-lain antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di dalam masyarakat dan didasarkan pada rekayasa sosial. (Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perpektif Al Quran, Jakarta: Paramadina, 2001, hal.35) 

Dalam bukunya, iapun menjelaskan bahwa penentuan peran gender dalam berbagai sistem masyarakat, kebanyakan merujuk pada tinjauan biologis atau jenis kelamin. Masyarakat selalu berlandaskan pada diferensiasi spesial antara laki-laki dan perempuan. 

Contoh: 
1. Banyak orangtua mengotak-kotakan jenis permainan anak sejak kecil.
Anak Laki-laki mainannya mobil-mobilan, robot-robotan, dll. 
Anak Perempuan mainannya boneka, masak-masakan. 

2. Banyak juga orangtua yang tidak mengajak anak berbagi tugas. Seperti tugas domestik (memasak, menyapu, mengepel, mencuci dll) yang cenderung dibebankan, atau diharuskan pada anak perempuan. 
Padahal pekerjaan rumah tangga bisa dikerjaan baik oleh laki-laki atau perempuan. 

Jadi apa itu Gender? 
Konsep kultural yang membedakan antara perempuan dan laki-laki secara biologis, perilaku, mentalitas, dan sosial budaya. 

GENDER 》》》 Peran makhluk hidup dalan kehidupan

JENIS KELAMIN 》》》 Istilah Biologis yang dibedakan dalam Perempuan dan Laki-laki

GENDER ITU TIDAK SAMA DENGAN JENIS KELAMIN (SEX) 

#Day01
#Fitrahseksualitasanak
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level11
Lanjut Baca yuk.. >>>