Showing posts with label Tantangan ODOP. Show all posts
Showing posts with label Tantangan ODOP. Show all posts

October 31, 2018

For Admin ODOP with LOP (Tantangan Terakhir)





Alhamdulillah…

Tidak terasa sudah 2 bulan lamanya saya mengikuti ODOP (One Day One Posting). Komunitas yang membuat saya awalnya merasa begitu dipaksa untuk menulis, namun saya suka. Suka karena saya dipaksa untuk memiliki habit yang baik yaitu menulis. Hehe..

Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan dalam surat cinta kali ini. Namun lebih tepatnya ke review dan merekomendasikan ODOP. Haha…

Suhu Komunitas
Para Admin ODOP saya tahu usianya muda-muda, haha… Mereka begitu fresh, semangat, aktif, konsisten dan loyalitasnya begitu tinggi. Sehingga saat saya masuk, suhu komunitasnya sangat terasa. Terasa seperti stand makanan di area kondangan: rame, hangat dan kenyang.

Sistem
Sejak proses pendaftaran ODOP yang saya temukan di feed ID ODOP, saya merasa cukup tertarik karena saat mengisi Gform registrasi, calon peserta harus menyertakan link tulisan dalam blognya. Kemudian tentunya diseleksi oleh tim. Saat pengumuman diterimanya di ODOP ada rasa gemuruh tapi dihadapi saja.

Kami dikumpulkan dalam wadah yaitu WAG ODOP Batch 6. Total peserta yang diterima dibagi menjadi beberapa kelompok dan dimasukkan dalam WAG kecil yang diberi nama unik.  Dalam proses pelaksanaan kegiatan di ODOP, tim menyediakan tiga WAG sebagai wadah kami berdiskusi dengan seluruh member (WAG ODOP Batch 6), berdiskusi dengan anggota kelompok (WAG Pulau Buru, dll), dan juga WAG Share Link (tempat khusus setor link).

Kami memiliki jadwal dari Senin-Jumat dengan materi yang sudah disiapkan tim. Dari Sejarah Komunitas ODOP, Teknis Blogging, Personal Branding, Konsistensi Menulis, Kesalahan penulis pemula, menulis dialog, menulis feature, menulis fiksi komedi, menulis biografi, menulis puisi dan lain-lainnya. Jadwal materi dalam satu pekan ada materi fiksi dan non fiksi di WAG Grup ODOP batch 6 dan Jadwal Blog Walking serta Bedah Karya di WAG Pulau. Terkadang ada kulwap dengan materi seru di grup besar ODOP.

Masuk menjadi salah satu penghuni Pulau Buru adalah rizki apalagi salah satu PJnya bisa saya lihat langsung tidak hanya di dunia maya saja. Haha… Admin atau PJ tersebut adalah Kak Saki, Ka Ilham dan Kak Herrisa. Saya suka system di ODOP, bijaksana dan tegas. Terkait batas waktu menulis, kami diberi kesempatan untuk rapel namun jika kesempatan itu tidak digunakan ya siap-siap saja akan di keluarkan.

Batas waktu itu kita kenal dengan Senin bersih-bersih, karena setiap hari Senin admin kami yang bernama Kak Saki bersih-bersih (meremove peserta yang tidak setor berturut-turut dan juga tidak rapel hingga batas yang ditentukan) masyaallah.

Mengenai bedah tulisan Kak Herrisa juga memulainya dengan jadwal yang teratur, mengshare jadwal Blog Walking. Walaupun di bagian akhir dia sempat tidak terlihat mungkin karena sibuk. Namun overall saya merasa nyaman saja di pulau buru, saya banyak mendapat ilmu, teman dan pengalaman. PJ Pulau buru sudah membawa kami dalam petualangan yang mungkin tak terlupakan. Banyak waktu, tenaga, biaya yang sudah mereka ikhlaskan untuk niat berbagi, niat mendiddik kami agar memiliki habit menulis yang baik. Semoga rahmat Allah selalu terlimpah untuk kalian semua.

Dear Admin ODOP yang di Rahmati Allah… 

Atas semua kerjakeras dan ketulusan hati kalian dalam berkontribusi terhadap kelangsungan ODOP. Izinkan saya memberi hadiah special untuk kalian, yaitu Doa.

Semoga Allah senantiasa limpahkan rizkinya dari segala penjuru kepada kalian. Berupa kesehatan, keselamatan, keamanan, perlindungan, rasa bahagia, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan. Semoga yang sudah menikah selalu dalam payung sakinah hingga Jannah bersama pasangan. Semoga yang belum menikah segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik menurutNya. Semoga semua amal kalian juga Allah ridhoi hingga terus bertumbuh menjadi pribadi yang loyal, inspiring, semangat dan terus menebar manfaat. Amin.

Dear Admin ODOP yang di Rahmati Allah…

Terimakasih banyak atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berpetualang dalam Pulau Buru. Mohon dimaafkan jika sebagai peserta saya ada salah. Semoga semua yang kita lakukan diridhoi Allah. Amiin
With Smile,
Akmala

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 28, 2018

Tantangan ODOP 7



Aku sudah menyelam begitu dalam
Nafas ku sudah berirama dalam air asin
Nampaknya aku bisa menghuni lautan
Membiru disana bersama karang
Tak ku dapati ombak berempati terhadap papan yang terapung tak pasti
Hempas hingga hancur kemudian menepi

            Aku sudah menyelam begitu dalam
            Hingga aku sulit melihat bintang malam
            Nampaknya aku sudah bisa menghuni samudera
            Berpalung jauh di bawah bahtera
            Tak ku dapati Hiu baik hati yang saat lapar Ia urung diri
            Mencabik waktu membiarkan mangsa melenggang senang
            Hidup terus bergelut rasa takut

Aku sudah menyelam begitu dalam
Hingga Alga berderet, sangat  jauh di atas kepala
Tentu  aku sudah jauh dari muara
Berharap sungai tak mungkin lagi tercapai
Tak ku dapati gurita manja yang enggan melepas tinta saat terusik
Sekalipun teriak berisik, warna laut tak akan lagi cantik
Aku tenggelam...

Sedalam apa kalian pernah merasa tenggelam? Tenggelam dalam kecewa yang begitu hebatnya, kemudian seolah tidak ada pilihan selain menyerah dan kalah.

Bagaimana kisah kecewa dalam puisi ini? kekecewaan seperti apa yang membuat kita seolah menyerah dan kalah? Temukan jawabannya dalam buku BE A NEW ME. :)



#TantanganODOP7
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 21, 2018

Perjalanan Sang Mangga






Ide Cerita: Obrolan dengan Adik
Judul Cerita: Perjalanan Sang Mangga
Jenis Tulisan: Fiksi
POV: Orang Ketiga


Beberapa orang sudah berkali-kali datang menemui pemilik rumah, dalam sehari bisa mencapai lima orang yang menanyakan perihal kami. Kamipun mencoba mendengar pembicaraan mereka. Entah kesepakatan apa yang mereka lakukan, kami hanya menerima saja.

Untuk sekian kali dalam beberapa tahun ini, kami tidak lagi masuk keranjang rotan khas pengumpul buah. Melakukan perjalanan panjang hingga akhirnya kami memiliki kemasan dan berjajar rapi saat tiba waktunya berpindah dari kardus.

Mengingat hal tersebut kami berdoa agar panen kali ini, pemilik rumah menolak tawaran para pengumpul untuk mengangkut kami di keranjang rotannya yang sudah penuh dengan tungau. Apalagi harus dipetik dengan cara yang kasar, hingga anak ranting banyak yang harus menjadi korban.

Pernah dulu kami berdesakan dalam keranjang rotan, melintasi jalanan dengan pemandangan lepas sawah yang luas. Udara segar bercampur asap knalpot yang berjarak hanya beberapa centi dari keranjang dimana kami berada.

“Kita mau dibawa kemana ya?”

“Entahlah.. Semoga kita bisa menikmati akhir hidup ini dengan menjadi buah yang bermanfaat”

“Lebih tepatnya dimanfaatkan bukan?”

“Begitulah tugas kita kawan, ayooo jangan menyerah begitu saja. Ini adalah perjalanan yang begitu menyenangkan”

“Lihat padi di sawah sana kawan! Mereka enak sekali ya.. tidak harus berdesak-desakan di keranjang sempit ini.”

“Hei!!! Jangan salah, aku pernah melihatnya di banting-banting agar bulirnya terlepas dari tangkai.”

“Betul, aku juga pernah melihatnya diinjak-injak dengan begitu kasar.”

“Itu cara tradisional kawan, sekarang sudah ada mesin combat yang memudahkan para petani mengemas padinya dalam bentuk bulir”

“Waahhhh… kasian juga ya, tidak ada kesempatan untuk tukang nyesrek untuk menemukan bulir padi lagi di tangkai, karena panen dengan mesin membuat tangkai menjadi bersih tak tersisa”

“Kemajuan teknologi membuat semua menjadi cepat, tidak lagi terlihat mengerikan dengan proses yang panjang”

“Lalu.. apa kita juga akan mengalami hal yang sama?”

Bersambung…..

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi


Lanjut Baca yuk.. >>>

October 15, 2018

Harapan yang tak sesuai


Mey masih sibuk mencari baju yang cocok digunakan untuk datang ke acara pertunangan Safira. 
Beberapa kali ganti antara dress atau kebaya modern. Dia ingin tampil casual. Mungkin boleh saja menggunakan jeans dan kaos oblong tapi ini akan seperti melihat petani ke sawah dengan membawa kipas angin. Sekalipun itu untuk shooting kepentingan iklan, tetap saja aneh. Di sawah sudah banyak angin, bahkan masuk angin juga dapat diperoleh disana.

“Kaaaa…. Sini deh!” panggil Mei

“Kaaaa!!!! Bentar napa? Sini….” Rengek Mei kepada April kakak perempuan yang usianya berjarak delapan tahun dengannya.

April menghampiri Mei dengan santainya, ngegelosor diatas tempat tidur Mei yang penuh dengan baju.

“Please ya jangan sampai ditidurin itu baju nanti bisa beranak! Aku udah capek setrika lagi.” Peringatan Mei ke kakaknya.

“Lagian milih baju aja bingung Meh! Mending lo bikin kocokan gih.” Ujarnya sebagai saran yang konyol.

Drrrrrrrtttttttttttt……..Drrrrrrrrrrrrrrrtttttttttt……..

Tiba-tiba gawai Mei bergetar. Tepat dibawah April yang tengah tiduran. April terperanjak bangun karena kaget.

“Astajiiiiiimmmmm!!!!!!” Teriaknya sambil melempar reflek HP milik adiknya.

“Wuuuiiiiiiiih untung ya ini lantai kamar ku karpet kalau nggak itu HP jadi remukan bawang goreng. Dasar Nyonyaaaahhh, kalem dikit napa!” Timpal Mei takut HPnya rusak.

Ternyata telp dari Martin, ia mengabarkan tidak jadi datang menjemput Mei untuk hadir ke acara tunangannya Safira.

“Mendadak banget cuy, lo kenapa?”

“Mobilnya lagi dipakai bokap nih Mey, terus motor gue dipinjem kakak gue ke Alfa.” Jelasnya.

“Lagian ke Alfa kan sebentar aje kan?”

“Lo kan cewek Mey, tahu kan? niat beli mie goreng juga nantinya bakal ada Marsmallow, cukuran ketek, sisir alis sampai kemben dan kawan-kawannya yang ikutan kebeli. Ia kalau bentar! Milihnya bisa satu abad Mey!” Jelasnya lagi.

“Sial banget lo jadi malah ngatain cewek. Gue mah kagak gitu. Lagian beli itu di catet cuy!”

“Catetan lo banyak! Sama ajaaa!!” Timbal Martin tertawa.

“Nasib gue kek mana nih?”

“Lo dijemput Rudi aja ya?” tawar Martin

“Rudi? Rudi Maryanto? Anak kelas B yak? Yang pinter itu kan?, emang dia tahu rumah gue cuy?”

Tanya Mei dengan hati yang dag dig dug mengingat ia juga agak penasaran sama Rudi. Rudi orangnya cukup cool. Jarang banget ia bicara tapi wajahnya nampak berkharisma dan wibawa.

“Iyes! Seneng kan lo? Katanya pingin deket sama Rudi?” Martin cekikikan “Ya uda, bagi nomernya!” Palak Mei dengan wajah senyum-senyum.

April, kakaknya tengah memperhatikan adiknya yang dari tadi berdiri diatas helm Yamaha hitam milik Ayahnya. Ia turun dan naik berkali-kali. Sesekali Mei mengelus-elus keteknya. Wajah April tampak risih sambil memberi kode bahwa itu jorok. 

Namun Mei masih sembari menerima telpon Martin menghampirinya dan menyodorkan tangan tersebut kearah kakaknya. April mengungsi dan dia membuka-buka lemari Mei.

“Kenapa lo cengengesan?” Tanya Martin dari sebrang.

“hahaha.. Ini ada cicak masuk ketek.” Ucap Mei terbahak., “Eh gue pakai baju apa nih jalan sama Rudi?”

“Lo pakai gamis aja Mei, supaya bulan depan nilai mentoring agama lo jadi A.” Canda Martin sambil terbahak.

“Sial! Rudi bakal langsung lamar gue malam ini kalau lihat gue pakai gamis.” Kepedean Mei meningkat.

“Jangan salah! Rudi seleranya macam kasir Alfa, ramah. Lo kan jutek!” Martin terus mengejek Mei, “Aahhh ya udahlah, gue capek ngomong sama tutup pulpen yang nggak jelas kayak lo! Bhaaaayy!”

Tuuttttt…tuuuut….
Seketika percakapan itu berakhir dan chat WA masuk ke gawai Mei membuat bunyi-bunyian seperti kentut katak yang kena hujan.

Nomor tidak dikenal

Aku sudah di depan rumah kamu.

_Udi

“Whaaaaatt???? Rudi???? ” teriakan Mei makin kencang membuat kakaknya terkaget lagi.

Diambilnya baju dress batik, warnanya marun, dengan kilat ia menggunakan lip balm sebagai pelembab dimuka dan minyak kayu putih sebagai cologne yang diserbetkan di baju. Sankin gugupnya dia salah-salah terus.

“Aduuuuuhhh! Salah. Ini lip balm kaa.  Aduuh..gimana ini. Aduh.” Mei panik.

“Cuci muka kamu lah! Itu otak mengkeret apa gimana?” Kakaknya terbahak namun ia mencarikan dress lain yang menurutnya cocok.

“Ganti ini!”

Dengan cepat Mei mengganti bajunya yang beraroma minyak kayu putih itu dan mengulang memberi pelembab ke wajahnya. Sedikit lip balm kemudian ia menguncir rambutnya secara tidak beraturan. Ia masih terlihat casual sekalipun dress mustard membalut tubuhnya. Dari semua saudaranya, Mai memang belum berhijab sendiri. Mungkin kenyamanan itu yang membuat ia susah untuk diberi tahu. April menghela nafas dan membiarkan adiknya pergi.

“Hati-hati Meh!”

“Iyes!” jawan Mei sambil berlalu.
***
Mei dan Rudi boncengan naik motor, sebelumnya ia mampir ke SPBU. Nampak panjang antrian dan membuat Mei turun namun tetap di sisi Rudi.

“Bau pertamax tapi kok ada minyak kayu putihnya ya? Kamu bau juga nggak Mei?” Tanya Rudi memecah tatapan melongo Mei pada sebuah tulisan besar BERHADIAH UMROH. Tulisan tersebut tepat di atas pengarah antrian antara pertamax turbo dan pertamax 92. Dalam hati ia berpikiran tuk terus membeli pertamax.

“Hei!! Minyak kayu putih!” Teriak Udi. 

Mei terkaget dan clingukan. Ia makin gugup karena orang yang di taksirnya menyadari aroma tubuhnya adalah minyak kayu putih.

“Serius ini aku masih bau minyak kayu putih?”

“Iyaa..” Udi terkekeh.

“Waaaah!! Gimana dong?” Mei santai tapi sebenarnya ia panik. Jadi panik yang anggun gitu.

“Ya.. lama-lama aja disini. Kamu nantinya jadi bau bensin.” Udi kembali tertawa.

“Pertamax!!”

“Bensin!”

“Pertamax!” Mei ngotot.

“Aaah,,, sama aja!” timpal Udi masih cool.

***
Di tempat Safira, acaranya adalah standing party. Mei sebenarnya tidka terbiasa. Ia coba cari tempat duduk tapi belum ketemu. Seseklai ia mencuri pandang dengan Rudi, dia tidak menyangka dapat datang dengan orang yang sedang di taksirnya itu. Rudi masih saja cool, dia jarang sekali bicara. Wajahnya tampan, tanpa betul-betul mengakomodasikan mata dengan baikpun ketampanannya tak akan sirna. Yang paling penting, dia satu-satunya Mahasiswa dari kelas A sampai D yang nilai mentoring Agama Islamnya A. Sesimple itu Mei menilai Rudi.

“Eh.. Rudi itu ada kepanjangannya loh?” Mei mencoba mencari topik pembicaraan.

“Apa?”

“Buru-buru mengemudi!” jawab Mei sambil terkekeh.

Rudi hanya membalasnya dengan senyuman cool yang bikin Mei semakin berdegup.

“Mei gentian!”

“Apa?”

“Mei adalah bulan dimana kamu di dunia ini ya?”

“Maksud kamu bulan lahir aku?”

“Iya..”

“Nggaaak!! Salaaah! Nama doang yang Mei, aku lahirnya malah bulan Desember loh.” Jelas Mei dengan serius.

Entah kenapa Rudi seperti menghindar dan tidak melanjutkan lagi percakapannya. Mei sudah GR aja kalau Rudi tanya-tanya bulan lahir.

“Eh Udiiiii mau kemana? Ini ada masnya yang bawa-bawa minuman. Kita minta bawakan aja. Kamu mau apa?” Tawar Mei.

“Silahkan Sodanya kaa?” Tawar Pelayan.

“Nggak Mas, aku pesan lemon tea ya”

“Masnya pesan apa?” tanya pelayan.

Reflek Rudi menjawab “Es Jeyuk ya?”

“Apa mas?” pelayan minta Rudi mengulangi.

“ Es Jeyuk!”

Seketika Mei langsung pura-pura menghindar dan menyadari kenapa Rudi menghindari huruf R. Ohh ternyata dia Cadel. Runtuh semua cintanya dan Mei bergegas chat Martin.

Woooooi! Gue nggak jadi naksir Rudi ya cuy!

#onedayonepost
#ODOP_6
#TantanganODOP5
#FiksiKomedi

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 7, 2018

Work out anti mainstream di Taman Sari



Taman Sari merupakan salah satu tempat wisata bersejarah di Yogyakarta. Tempat ini terkenal dengan beberapa spot foto yang begitu menarik untuk ditangkap kamera. Menjadikan bagian Taman Sari sebagai latar dari memori perjalanan rekreasi sudah menjadi hal yang biasa. Namun banyak hal lain yang bisa kita lakukan saat berkunjung ke sana. Salah satunya adalah work out.  

Area Taman sari yang cukup luas dengan banyak anak tangga yang harus dilalui oleh pengunjung dan dapat di jadikan medan untuk work out anti mainstream. Selain tiketnya murah meriah, karena hanya seharga lima ribu rupiah kita dapat bertualang panjang dari pukul 08.00-14.00 untuk membakar kalori yang siap menjadi keringat dan berevaporasi. 

Misal pengunjung masuk dari lokasi parkir dekat pasar, pengunjung bisa memulai work out dengan berjalan melewati  pemukiman warga, menuju pintu masuk seperti gang kecil dan menaiki anak tangga yang cukup banyak. Ini merupakan permulaan yang cukup membuat tubuh cepat berkeringat, namun tidak menjadi soal jika kunjungan ke Taman Sari kita pilih saat cuaca mendung. Saat cuaca panas, tentu pengunjung bisa tiba dengan tampilan yang agak sedikit berpeluh. Perlu mengatur nafas sejenak kemudian meminum air dari botol yang seharusnya sudah kita bawa dalam tas.

Tiba di bangunan yang konon sebagai inti keraton yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I. Ada spot yang dapat kita manfaatkan untuk membakar kalori lebih banyak. Spot foto yang bisa juga menjadi media work out anti mainstream. Melatih otot kaki agar semakin kuat. Saat pengunjung terdampar di puing-puing keraton milik Raden Mas Sujana atau Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono I, sayang sekali jika harus dilewatkan hanya untuk sekadar berfoto bukan? Karena akan menjadi cerita panjang bicara sakit hati Mangkubumi terhadap saudaranya akibat ulah VOC hingga Mataram terpecah belah. Lebih baik pengunjung memanfaatkan moment work out ini sebagai salah satu healing untuk move on dari kegundahan hati  menghadapi banyak hal saat weekdays agar pikiran tidak terpecah belah. Fokus work out anti mainstream.


Dalam work out anti mainstream ini tentu potensial sekali mengajak pasangan untuk turut naik turun tangga. Bersiap cekcok seperti cekcoknya Hamengkubuwana I dengan menantunya Raden Mas Said sehingga saat work out perlu ada jeda dengan mengikuti kemauan istri untuk beristirahat atau menawarkan rajutan sepatu cantik yang dijual di pintu masuk water castle Taman Sari. Namun bagi pria tawaran tersebut akan dianggap seperti Perjanjian Giyanti yang terlalu menguntungkan VOC.Dalam hal ini semua orang sudah tahu siapa yang berperan menjadi VOC.
.
Seketika rasa penasaran bagaimana kraton kala itu akan terjawab langsung. Mengingat  
Puing-puingnya saja nampak keren apalagi kontras dengan langit pagi yang cerah.  


Pengunjung bisa melanjutkan work out anti mainstream menuju Sumur Gemuling Masjid bawah tanah yang mempesona. Jika work out sungguh-sungguh dan dilakukan dengan rutin maka bukan hanya tempat tersebut saja yang mempesona, namun tubuh ideal yang mempesona bisa menjadi milik anda. Di sini pengunjung akan menuruni anak tangga yang cukup banyak. Work out dengan gaya BWMCFitness bisa anda lakukan sekaligus mengambil foto diri pada latar yang menjadi tempat favorit prewedding ini.



Dari masjid bawah tanah dengan spot foto yang hits untuk prewedding tersebut. Pengunjung bisa naik tangga lagi menuju pintu masuk seperti lorong yang juga bertabur banyak anak tangga. Terus saja menuruni anak tangga sampai bertemu parkiran depan pintu masuk water castle. Pintu masuknya  yang artistik semoga dapat memberi support bagi mata untuk terus semangat dalam melakukan work out anti mainstream



Dengan peluh yang mungkin sudah semakin banyak membuat ingin rasanya sekadar berendam kaki di sana. Namun cukup dengan menghela nafas saja dan bisa melanjutkan lagi memanfaatkan area samping water castle untuk jogging. Lima putaran bisa menjadi gerakan inti saat work out anti mainstream ini.



Mengatur nafas lagi setelah jogging dan perlahan menaiki anak tangga menuju tempat parkir adalah bagian pendinginan yang sempurna. Apalagi saat perjalanan menuju tempat parkir kita bisa berjalan melewati rumah warga yang juga menjual berbagai macam souvenir dan minuman dingin. Berminat work out anti mainstream di Taman Sari?

Note: Foto dalam tulian ini dokumentasi pribadi dan juga dari berbagai sumber.

 #TantanganODOP4
#onedayoneposting
#odopbatch6
#nonfiksi

Lanjut Baca yuk.. >>>

September 30, 2018

TERBUNGKUS CANDALA




       Pagi ini kelurahan Mangunjati begitu mendung, langit penuh dengan awan jenuh yang siap tumpah kapan saja Tuhan berkehendak. Aku mengurungkan kegiatan mencuci dan  memilih untuk membaca buku hadiah dari sabahatku yang berjudul “Open your heart follow your prophet” buku bersampul kuning itu membuat retinaku cukup cepat menemukannya diantara tumpukan buku lain.

Buku dengan pesan mendalam namun ditulis dengan bahasa yang ringan. Pesan-pesan Rasulullah yang terkemas dalam ramuan aksara karya bang Arif Rahman, begitu asik dibaca. Baru mengahabiskan beberapa halaman, seketika fokusku buyar. Telingaku diperdengarkan dengan tangis Sari. Sari adalah anak tetanggaku yang berusia 11 tahun, rumah kami berhadapan. Jarak menuju rumahnya hanya dipisahkan oleh jalan kecil yang hanya muat untuk satu motor saja. Jadi tidak salah jika tangisan itu terdengar jelas hingga ke rumahku.

Seperti biasa tangisnya memecah pagi yang ingin aku nikmati dengan damai sebelum aku mendapat panggilan kerja. Aku harus bertahan dengan suguhan tangisan Sari yang cukup menghebohkan tetangga sekitar. Saat aku mudik, biasanya hanya sebentar, tidak ada waktu untuk mengetahui banyak mengenai tetangga baruku itu. Setelah aku lulus kuliah dan cukup lama berada di rumah, lambat laun aku jadi tahu.

Aku menutup buku dan menghentikan kegiatan membacaku. Berjalan ke arah dapur, mendapati Ibuku sedang mengiris tempe untuk persiapan sarapan kami. Suara tangis Sari tidak begitu terdengar jika dari dapur.

“Bu, rumah kontrakan pak Udin sudah ganti orang lagi ya?” Tanyaku pada Ibu yang masih sibuk mengiris tempe.

“Iya, belum lama. Sejak kamu mulai kuliah magang itu loh Nan.” Jawab Ibu dengan santai.

“Emang kenapa bu? Sampai nangisnya kenceng banget?” Tanyaku penasaran

“Ya..kamu lihat aja sendiri.” Jawab Ibuku masih dengan santai.

Ibunya kerap memarahinya, memakinya secara verbal dibalik dinding yang mereka sebut rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman Sari namun rumah itupula yang membuat Sari sering rebas dengan air mata.

Perlahan Aku berjalan ke arah jendela ruang tamu untuk melihat keadaan depan rumahku. Sari terlihat dipukul oleh Ibunya, suara agak gaduh terdengar dengan baik sampai ke telingaku. Aku mengernyitkan alis, menghela nafasku dengan keinginan memukul balik sang Ibu. Agar ia juga tahu, bahwa itu sangat sakit.

Dalam hati aku bergumam, apa kesalahan Sari hingga membuat Ibunya mengomel dengan suara yang keras disertai pukulan yang tentu sangat sakit untuk anak seusianya. Ibunya keluar dari pintu yang memang sudah terbuka cukup lebar. Dipakainya jas hujan bewarna biru, masker biru dan helmet bewarna biru yang serasi. Sepertinya ia akan melakukan perjalanan dengan motornya.

Braaaaakkkkk!!!! Dari dalam Sari membanting pintu.

“Sariiiiiiiiiiiiii ….” Disusul suara Ibunya melengking dari luar.

Pemandangan yang sebetulnya tidak ingin aku tahu, namun keinginanku begitu besar melihat Sari kerap sekali berjalan di depan rumah. Bolak-balik hampir tiga jam, hanya untuk sekadar melakukan gerakan-gerakan aneh menurut imajinasinya. Terkadang berhenti di depan selokan rumahku dan melakukan gerakan seperti menjemur pakaian. Terkadang ia berdendang atau berbicara sendiri. Saat anak-anak lain lewat ia segera lari dan masuk ke dalam rumahnya.

Aku jarang melihatnya berangkat sekolah. Namun sekitar jam satu siang, aku sering melihat kakeknya dengan menggunakan motor matic bewarna merah mengantarnya yang masih berseragam hingga depan rumah. Kemudian sekitar pukul dua kakeknya datang.

“Sari … makan dulu. Sari… buka pintunya.” Ucap kakeknya seraya mengetuk pintu rumahnya dari luar.

Bulan lalu saat aku baru saja selesai wisuda, Ibu memasak makanan dan membagikannya untuk tetangga. Sebagai wujud syukur Ibu ingin berbagi, aku beranikan langkah untuk ke rumah Sari. Mumpung ia masih di depan dan sedang kambuh dengan kegiatannya yang tidak jelas itu.

“Heiiii! Ini buat kamu.” Ucapku.

Mata kami bertemu, dia langsung membalikkan arah dan menuju rumah.

“Tunggu! Berhenti. Siapa nama kamu? Kita kenalan dulu.” Aku menimpalinya dengan banyak tanya.

Dia menghentikan langkahnya, menatapku dengan wajah sendu, begitu sopan.

“Nama saya Catherine. Ia menyebutkan huruf apa saja untuk namanya” Jawabnya dengan begitu meyakinkan.

“Oh Katrin?” jelasku.

“Ya boleh, dipanggil itu aja” Jawabnya lagi.

“Kamu suka kucing? Siapa namanya?”

“Kucing aku namanya Cimol.” Jawabnya dengan pandangan mata yang sudah berbeda.

“Aku boleh kasih ikan?” tanyaku lagi

“Dia makannya Whiskas” Jawab Sari

“Ini makanan buat kamu dari Ibuku” Timpalku lagi.

“Terimakasih”

Selang beberapa hari setelah itu, Ibuku sempat ditegur oleh Ibunya. Ia berujar jika ia dapat memberi makan anaknya dengan baik. Tidak perlu berbelas kasih dengan memberikan makanan kepada Sari. Ibuku coba menjelaskan namun Ibunya Sari tetap tersinggung atas sikap kami. Dalam hati kami hanya banyak beristigfar.

Hujan turun begitu lebat, aku hampir tidak bisa mendengar apapun. Sari mungkin tertidur nyenyak di rumahnya. Namun aku memikirkannya.

“Bu..kenapa Sari mengaku namanya Catherine ya?” Tanyaku pada Ibu yang sedang menulis pengeluaran hari ini di buku belanjanya yang bersampul batik.

“Nggak tahu juga, mungkin nama panjangnya Sarina Katrin” Ibu menimpalinya dengan candaan.

Aku sedikit terkekeh, namun jika benar itu namanya. Akan menjadi sangat rancu untuk di dengar. Serancu dirinya yang kerap melakukan gerakan-gerakan aneh. Pikirku.

Tepat jam sepuluh malam, Ibunya baru pulang kerja. Motornya selalu terparkir dengan rapi. Helmet dan sepatu juga diletakkan sesuai tempatnya. Saat tiba yang pertama disapanya adalah Cimol. Selalu khas dengan intonasi yang aku hafal. Keluarganya memang tidak begitu dekat dengan tetangga lain. Mungkin karena aktivitasnya terlalu tinggi dan ia sibuk berkerja, sehingga tidak ada waktu lagi untuk sekedar berkumpul jika ada acara arisan dll.

Namun aku masih dalam pertanyaan besar, kenapa Sari mengaku Catherine dan kenapa Ibunya kerap memarahi dan memukulnya?
***
Sebelum aku dilamar orang, aku mau melamar pekerjaan dulu dibeberapa perusahaan yang membuka loker sesuai keilmuanku. Untuk mengisi waktu, aku diminta Ibu-ibu sekitar mengajar les anak-anaknya, hari ini adalah hari kedua aku mengajar. Beberapa siswaku banyak yang satu sekolah dengan Sari. Ada Rania, ada Didit, Raka dan juga Fajar. Dari situ aku mendapat banyak info mengenai Sari. Sari tidak punya teman, ia kerap dibully di sekolah.

“Habisnya dia aneh sih.” Celetuk Rania

“Dia itu kadang ngomong sendiri.” Celetuk Raka.

“Apaan dia juga jarang banget masuk sekolah. Nggak pernah ikut kelas tambahan juga” Kata Didit.

“ Kata Mamaku, aku nggak boleh temenan sama Sari dan aku juga nggak mau sih” Timpal rania lagi.

“Nama Panjang Sari siapa, Ran?” Tanyaku pada Rania yang merupakan teman sekelasnya.

“Cantika Sari, tapi dia cuma mau di panggil Catherine. Karena dia nggak suka nama pemberian orang tuanya. Jadi itu nama bebikinan dia gitu deh kaa” Jelas Rania.

“Sejak kapan Sari begitu?”

“Dulu sih nggak gitu ya Jar? Dia mah asik-asik aja ya diajak main. Tapi sejak sering dimarahin Mamanya. Dia itu jadi aneh kaa. Ya begitu itu suka nggak jelas.” Terang Rania.

Kami melakukan percakapan ini setelah usai belajar, aku berusaha mengumpulkan informasi.

“Mamanya kenapa?”

“Mamanya galak banget, asli kaa bikin serem.” Jelas Fajar.

“Aku juga takut sama Mamanya, dulu kalau main kita selalu di marahin ya Ran?” Fajar membuka episode baru mengenai Ibunya Sari.

“Galak gimana?” Tanyaku.

“Ya Sari pernah cerita, misal dia numpahin minuman sedikit aja. Nanti diomelin bisa juga sampai dipukul.” Rania kembali memberi informasi.

Aku menelan ludah, jantungku berdegup agak lebih cepat. Iyakah benar yang diungkapkan mereka atau aku hanya larut dalam cerita-cerita fiktif yang mereka buat untukku? Ingin sekali aku tanyakan langsung pada Sari. Namun melihat sikap Ibunya yang kala itu sangat acuh ketika aku sapa, aku berulang kali membatalkan inginku. Takut semuanya terasa lebih runyam untuk Sari.
***
Hari itu Cimol melahirkan, ia melahirkan di rak sepatu depan teras rumahku. Sari mencari-cari Cimol, kucingnya yang bewarna telon itu.

“Di sini!” Teriakku.

“Halooo Catherine…” Sapaku dengan ringan.

“Maaf ya.. Cimol rese, suka nggak sopan.” Celetuknya dengan suara yang parau khas orang bangun tidur.

“Nggak apa-apa, namanya juga kucing kan dia nggak tahu sopan” Jawabku masih santai.

“Catherine itu nama pena yang kamu bikin ya?”

“Iya, aku mau ganti nama itu aja nanti kalau sudah besar” Jawabnya sambil mengelus kucingnya.

Celananya terkena darah kucing, ia seketika panik.

“Duuuh! Gimana ini ya?” Wajahnya begitu panik.

“Kenapa emangnya?”

“Mama saya agak galak, takut nanti ditanyain kalau nggak bisa hilang.” Ucapnya kemudian.

“Biar aku bantu! Kamu tunggu sini.” Perintahku.

Aku mencoba menggunakan waktu ini untuk bertanya banyak kepada Sari, dari segala hal yang ia jawab ada kalanya ia menjawab dengan rasional dan adakalanya ia menjawab dengan jawaban yang tidak masuk akal. Imajinasinya berjalan ditengah pertanyaan jelas yang aku ajukan kepadanya. Mungkin ia begitu tertekan dengan sikap Mamanya sehingga ia demikian anehnya.

Hanya doa-doa yang bisa aku panjatkan ditengah drama yang tersaji disetiap pagi. Aku berharap, Ibunya dapat segera menyadari beberapa sikapnya yang salah dan memberikan sikap yang layak untuk Sari dapatkan. Di sisi lain aku belajar, bagaimana kelak jika amanah itu dititipkan padaku. Aku bersyukur atas cara Tuhan memberiku materi belajar sebelum kelak aku dilamar.

 “Mencintai anak tidaklah cukup, yang terpenting adalah anak-anak menyadari bahwa mereka dicintai orangtuanya.” – St. John Bosco



#TantanganODOP3
#onedayonepost
#fiksi
#odopbatch6




Lanjut Baca yuk.. >>>