Showing posts with label Komunikasi Produktif. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi Produktif. Show all posts

October 15, 2018

Temukan Ibrah dalam setiap keadaan





DAY12-TantanganGameLevel2

Pada #Harike12 saya mengetik ini sambil sesekali melihat Mahira bermain dengan Utinya. Mendelegasikan Mahira ke Uti karena ia terbangun di jam biologis saya untuk menulis. Sebelumnya saya baru saja bertugas menjadi moderator di WAG Markas dalam acara Star of the day. Antusias audiens yang luar biasa menyebabkan saya harus membuat strategi agar sleep routine Mahira baik. Target saya ia dapat tidur sebelum pukul 20.00 dan itu artinya hari ini Mahira sikat gigi lebih gasik lagi sebelum tidur.

Rencana hanya sebuah rencana, kenyataannya Mahira tidur setelah magrib. Tertidur dalam kondisi belum makan malam dan juga belum sikat gigi. Sehingga saya begitu was-was ia akan terbangun menjelang pukul 23.00 karena lapar dan benar saja Mahira bangun tepat saya menyelesaikan tugas menjadi Pj di WAG Markas Pejuang Literasi.

Sebentar saya menyelesaikan urusan terkait Sharing Today, kemudian saya mengajaknya makan malam, namun ia menolak dan memilih untuk ngemil. Habis itu saya mengabari suami jika saya sudah selesai bertugas dan kami mengbrol banyak hal. Bertukar kabar, bertukar info dan saling mengucapkan sayang serta terimakasih.

Saat Mahira sedang sulit untuk makan dan juga sikat gigi di hari ini, rasanya ada sedikit kekhawatiran yang membuat saya lagi-lagi mengatakan: “Kenapa Mahira tidak mau makan ya?” “Kenapa ya?” kompro yang dijawab dengan tantrum dan sederet rencana variasi menu, ingin saya praktikkan besok. Tidak sabar untuk segera bertemu pagi, menuju pasar, menyiapkan makanan yang mana makanan tersebut dapat dimakan Mahira dengan lahap.

Namun setelah saya telpon suami, sebagai agenda kami ketika malam. Kemudian saling bertukar info cerita bahkan doa dan ucapan sayang. Ada perasaan yang berbeda, lebih tenang dan slow down. Rasanya tiap suara yang disampaikan Suami adalah support dan afirmasi positif ke pada diri saya.

Malam ini, sebetulnya masih ada banyak tugas menanti. Namun setelah saya share link, ada tugas prioritas untuk menemani Mahira bermain. Mahira tantrum, tidak mau makan, tidak mau di ajak ke masjid, bahkan tidak mau sikat gigi, seketika membuat saya bisa saja emosi. Namun hari ini berhasil menghalaunya dengan me time di dapur dengan memasak kripik pisang dan belajar bersama teman-teman di markas.

Terimakasih Mahira, Ibu semakin banyak berlatih sabar. Menemukan diksi yang lebih persuasif, melakukan komprod, memunculkan beberapa kreativitas menu dan banyak lagi lainnya. Membersamaimu dalam proses belajar berlatih mandiri adalah hal yang membawa Ibu mendekat pada banyak Ilmu. MasyaAllah Tabarakallah…

#Harike12
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
#onedayonepost


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 22, 2018

T17-LAMPU HAZARD 1






DAY17 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Pasangan dan Anak*

Hari ini adalah T17 artinya saya sudah menyelesaikan tantangan game level 1 pada kelas Bunda Sayang dengan tema Komunikasi Produktif. 17 hari komunikasi produktif ini saya jadikan sebagai Lampu Hazard yang fungsinya sebagai alert saya pribadi untuk berhati-hati dalam membangun komunikasi dengan pasangan dan anak dan harapannya saya bisa terus menerapkan hal ini pada hari-hari selanjutnya.

Kami melakukan banyak evaluasi, hingga rasanya air mata tumpah ruah di pagi hari, sesekali saya chat dengan sahabat-sahabat saya dalam grup poem untuk sekadar melepas jengah atas proses komprod yang tentu tidak mudah. Saya yakin, banyak cara banyak hal yang dapat kita upayakan sebagai kawan dari komunikasi produktif ini untuk terus menjaga kedamaian rumah.

Hari ini saya melakukan kegiatan bertiga dengan Suami dan anak, mulai dari mencuci, menjemur, bermain, memasak, belajar, qailullah, jalan ke luar untuk sekadar membeli pisang nugget dan beli es jeruk peras.
Tidak banyak komprod berlangsung, namun saya begitu merasakan suami saya sudah mulai memahami fungsi dari komprod ini. Hingga dengan memandang mata saja, beliau terkadang sudah memahami maksud saya. Luar biasa!!


#hari17
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 20, 2018

IGUANA ATAU BIAWAK?







 IGUNA ATAU BIAWAK?


DAY15 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Pasangan dan Anak*

Siang ini daerah tempat tinggal kami diguyur hujan deras.

“Buk ujan buk! jan bu!” seru Mahira mengajak saya keluar.

Aroma petrichor membuat saya bergerak untuk mendekat ke teras. Memenuhi keinginan si kecil yang ingin melihat hujan turun. Menikmati hujan bersama Mahira seraya kami menunggu Ayah tiba di rumah untuk menghabiskan jam istirahat siang.

“Mahira ayoo berdoa!” Ajak saya kepada si kecil.

"Allahumma shoyyiban nafi'an"  

Tangan Mahira menengadah berdoa dan setelah selesai mengusapnya di wajah. Ia begitu menikmati suara hujan yang turun. Setelah beberapa waktu, gerbang rumah terbuka, motor Ayah terdengar mendekat ke arah teras.

“Ayaaaaahhh!! Itu Ayah buk!” Serunya begitu gembira dengan senyum yang tak lepas dari pandangan ke arah Ayah memarkir motor.

“Ayah apa?” Tanya Mahira dengan maksud Ayah pakai apa?

“Itu namanya coat, Mahira.” Jawab saya.

Ia masih tertegun memandang Ayahnya menggunakan benda yang baru pernah ia lihat itu. Ayahnya membalas senyumnya ambil melepas rain coat dan meletakkannya di atas motor.

Saat Ayahnya pulang dan sudah mencuci tangan untuk mengambil alih tugas menjaga Mahira. Saya ke kamar mandi untuk ambil wudu. Tiba-tiba Ayah Mahira,

“Astagfirullaaaah….” Ucapnya dengan suara yang tak biasanya agak melengking.

“Kenapa mas?” Tanya saya panik dan pikiran saya  Mahira terpeleset atau bagaimana. Saya hentikan kegiatan wudu dan berlari kecil ke arah suami dan anak saya berada.

“Buk!! Iguana buk! Iguana!” Teriaknya memanggil saya.

“Mana Iguana?” Sesaat saya melihat reptil tersebut melintas dan menuju arah selokan.

Masih belum bisa kami percaya ada hewan sebesar itu melintas di depan teras rumah kami. Jelas itu bukan Iguana melainkan biawak!!!
Saya sebetulnya panik juga dan takut, apalagi ekspresi Mahira masih memegang dadanya dengan tangan, itu artinya Mahira takut. Namun karena suami saya teriak Iguana dan setelah saya lihat adalah biawak, saya justru terpingkal. MasyaAllah.. betapa lucunya suami saya dengan sisa ekspresi wajah yang absurd.

Melihat saya terpingkal Suami pun menjelaskan jika ia panik dan spontan menyebutkan Iguna. Namun saya masih terus terkekeh hingga ia mungkin agak malu. Saya jelaskan jika saya tidak mengejek melainkan hanya menganggap itu lucu. Diapun akhirnya ikut tertawa.

“Bagaimana ceritanya Mas?” Tanya saya masih sedikit terkekeh.

“Jadi Mahira masih nyanyi-nyanyi gitu di depan pintu sambil lihatin hujan, aku dari belakang tadi kan cuci tangan. Lewatlah itu Iguna…..”

“Biawak!!”

“….iya Biawak lewat di depan Mahira. Mahira langsung lari ke arah aku kan sambil ketakutan wajahnya dan bilang “Yah! Atut! Atut!” sambil pegang dada kayak tadi itu” Jelas suami saya. Saya pun segera memikirkan bagaimana agar takut itu dapat terkendali. Kemudian saya bertanya ke Mahira,

 “Mahira lihat apa tadi nak?”

Ia melihat Ayahnya sebentar dan kembali memegang dadanya sambil bilang “Atut” yang berarti takut. Akhirnya saya membuka google dan searching gambar biawak. Menunjukkan pada Mahira jika itu tidak apa-apa hanya untuk mengendalikan emosinya dalam rasa takut yang mungkin berlebihan.

“Tadi lihat ini ya” Tunjuk saya pada layar gawai bergambar biawak.

Mahira mengangguk masih sedikit takut, kemudian saya menatap Ayahnya untuk meminta agar dia juga kooperatif dalam mengendalikan perasaan Ananda. Tanpa saya berkata, suami sudah paham maksud saya dan ia turut membantu saya.

“Cobaa Mahira pegang, tidak apa-apa, ini lihat Ayah juga pegang”

Mahirapun tersenyum dan turut memegang gambar biawak tersebut tanpa rasa takut lagi. Tiba-tiba suami saya bilang:

"Bu! kayaknya itu buaya deh, piaran orang yang lepas."

dan seketika saya menjadi takut hingga sekarang ini.



#hari15
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6





Lanjut Baca yuk.. >>>

September 18, 2018

MEMBERI KEPERCAYAAN




DAY13 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Anak*


Hari ini Suami sibuk dengan data lahan baku sawah (LBS), namun tetap dengan kesepakatan awal jika ia akan meluangkan waktu untuk makan siang di rumah. Waktunya tidak banyak, ia harus bergegas dan kembali lagi ke kantor karena pukul 13.30 ada rapat. Mahira yang masih nyaman atas keberadaan Ayahnya pun menjadi merengek dan tidak mau di tinggal.

“Ayah…Ayah..Ayah…” ia terus memanggil Ayahnya.

Saya mencoba mengalihkan perhatian dia dengan mengajaknya bermain. Menuangkan beras dari baskom ke botol menggunakan sendok yang biasanya bisa kita peroleh jika membeli susu bubuk kemasan.

Mahira tampak kesal, saat Ayahnya kembali ke kantor. Ia pun menghamburkan beras tersebut ke lantai. Ceritanya ngambek. Menjadi lahan potensial lagi bagi Ibunya ini untuk mencoba Komunikasi Produktif dengan sang anak. Agar ia dapat mengendalikan emosinya dan membantu saya menata beras yang tercecer di lantai.

“Waaaaaah….. ada semut ya? Ini bisa banyak semut nih. Harus di sapu ini dek.” Ucap saya pada Mahira.

Ia pun beranjak dan mencari sapu di sudut dapur. Namun ternyata ia tidak menemukannya. Kami akhirnya bermain pencarian sapu yang ternyata di temukan di ruang tamu.

“Yeeeeey… ketemu sapunya!” Aku begitu sorak sorai.

“Yeeeeyyyy” Seru Mahira.

Mahira tidak ingin melepas sapunya dan ia ingin menyapu lantai yang berceceran beras itu sendiri. Tentu saya memberi kepercayaan untuknya, sekalipun saya tahu itu pekerjaan yang mudah dan lebih cepat jika saya yang melakukannya.

“Aaaah… Aaaa… Hiya iyi bu, iyi bu.” Ucapnya sambil mempertahankan sapu.
(Mahira sendiri bu, sendiri bu)
Selang beberapa menit, lantai yang tentunya masih kotor itu saya biarkan seolah sudah berhasil ia sapu bersih.

“Terimakasih Mahira, sudah mau bantu ibu” Ucap saya dengan tulus.

“Syama-syama” Jawab Mahira dengan S yang begitu jelas dan senyum yang sangat manis.

Menanamkan kepercayaan kepada anak, bahwa mereka adalah anak baik yang cerdas dan mandiri. Maka secara naluriah mereka akan menjaga dan mempertahankan apa yang kita percayakan kepada mereka. Ketika kita memberikan prasangka yang baik padanya, secara naluriah pula tingkat kepercayaan itu meningkat bukan? sehingga menjadikan munculnya energi untuk terus berbuat baik dan membuat kita dan orang-orang yang disayanginya merasa bangga padanya. MasyaAllah…


#hari13
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 17, 2018

PETUALANGAN DI BARET BIRU






DAY12 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Pasangan dan Anak*

Postingan ini tidak membahas mengenai Paspampres, Kopassus ataupun Kaveleri. Judul di atas adalah nama jalan di Kelurahan Kalisari. Jika di tempat saya semua nama jalan adalah nama para haji. Namun di dekat wilayah Paspampres nama jalannya lebih unik lagi. 

Saya tinggal diwilayah milik TNI AD yang juga berdekatan dengan wilayah LAPAN. Berasa aman dan nyaman. Di sini saya masih bisa menemui banyak pohon pisang, kebun dan juga pohon tinggi dengan daun yang rindang. Bahkan belakang rumah ada pohon nangka. Bukan seperti di Jakarta. Haha..

Dengan luas yang tidak saya ketahui. Saya, Suami dan Anak kami berpetualang mencoba mencari jalan tembusan. Setelah menyantap lahap Soto Boyolali Pak Widodo di daerah Kopasus.

“Sayang mau kemana?” Tanya saya penasaran.

“Ya ini yang aku bilang sesuatu.” Ucapnya membuat say asemakin penasaran.

Ia mencoba membuat saya senang dengan berpetualang dengan mencari jalan tembusan. Memasuki gang demi gang dan ketika berujung buntu kami kembali dan terus mencari jalan hingga tembus ke arah rumah kami.

Sudah cukup lama berlalu, kami juga belum menemui jalan tembus. Bahkan tanpa Helmet membuat saya khawatir tembus hingga Depok ke arah Akses UI.

“Sayang, pakai map aja ya?” tawar saya sembil memegangi Mahira yang sibuk ngoceh dan tengok kanan kiri. Sesekali ia minta berdiri, mengalungkan tangan mungilnya ke leher Ayahnya dan mengecup tengkuk bagian belakang.

“Ayah.. Kiss!” Ucap Mahira yang sering membuat kami melted. Tak jarang saya juga membantu Mahira dalam memperkaya kosa kata dan memberikannya simple kiss jika ia berhasil menyebutkannya.

Saat Mahira sibuk memeluk Ayahnya dengan posisi berdiri, saya berusaha menawarkan bantuan lagi ke Suami. Namun ia menolaknya dengan alasan dia pernah melewati jalanan ini dan berhasil menemukan jalan tembus.

“Kamu percaya aku kan?” Pertanyaan yang sempat saya diamkan cukup lama.
Kenyataannya sekarang ia begitu terlihat asal saja mengikuti arah jalan bahkan saat mengikuti orang lain malah semakin nyasar.

Sebetulnya ingin sekali berkomentar mengingat sudah terlalu lama di atas motor, malam hari tanpa helmet dan masker, udara semakin dingin dan medan juga naik turun. Tapi karena Suami sudah merencanakannya sejak sore bahkan ia begitu antusias saat mengatakannya, maka saya berusaha melakukan KomProd.

Memahami sudut pandanganya, bahwa ia ingin di percaya dan apa yang diberikan dapat membuat saya senang. Bukan bersikap pura-pura dan mengalah. Namun saya biarkan imaji saya terlibat bersama dengannya sehingga sepanjang jalan keinginan berkomentar memuai dan hanya tersisa canda dan tawa. Saat saya sadari ternyata saya bisa menyikapi ini tanpa harus berkomentar dan marah. Fungsi Komprod berlangsung dengan baik. Alhamdulillah..

Hari ini benar-benar seru, berpetualang di Baret Biru.





#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6




Lanjut Baca yuk.. >>>

September 16, 2018

DONAT MADU CIHANJUANG




DAY11 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Anak*

Dengan kekuatan bulan, saya sudah mencoba untuk membuat anak saya Mahira kembali minat menelan bulir-bulir nasi. Namun sudah dua hari ini, ia enggan untuk makan. Saya coba turun tekstur dengan makanan yang agak lunakpun ia masih tidak bergeming.

“Suasana sayang.” Celetuk suami saya di tengah hamparan harap agar Mahira mau menelan supnya siang tadi pun beberapa makanan lain yang ia abaikan.

Belum selesai membersamai Mahira hingga berhasil satu suap saja nasi masuk ke dalam perutnya, suami harus segera menuju kantor terkait pekerjaan mendadak dari atasannya.

Berpasrah terhadap kehendakNya untuk menghadapi Mahira sendirian di saat tenaga juga sedang kurang prima. Saya coba dengan beberapa kaidah yang biasanya berlangsung dengan baik namun nampaknya selera makan Mahira tidak bisa di-KomProd-kan. Otak rasanya ditekan terlalu berat jika berkaitan dengan selera makan anak yang menghilang.

Ahaaaaa!!! Muncullah ide yang saya sebut sebagai cheat.

Saya tontonkan Mahira bermacam-macam makanan yang menggiyurkan via laptop, dengan harapan ia pun menginginkan makan. MasyaAllah.. semoga bukan keputusan yang salah karena membuat saya sendiri yang kembali terasa lapar. Haha..

“Buk!! oti! Oti buk!” ucapnya sambil terus menunjuk gambar Roti di Laptop yang baru dikeluarkan dari Oven.

Yeeeeeeesssss!! Ucap saya happy. Kemudian saya bergegas menggunakan hijab dan mengenakan Mahira khimar dan sepatu. Langkah kaki yang kurang prima kalah dengan keinginan melihat sang anak makan. Tidak ada roti di rumah jadi kami harus membelinya terlebih dulu. Kami menuju toko Donat Madu Cihanjuang di sebrang jalan tempat tinggal kami.

Dari jauh sudah bisa terlihat etalase bening dengan jejeran donat aneka rasa yang tertata dengan rapi. Saat mendekat tampilannya akan lebih menggugah selera, sayup-sayup aroma khas donat terhirup hingga membuat sempurna rasa lapar. Mata Mahira terperangah melihat banyak donat di depan matanya.

“Mahira pilih yang mana sayang?” tawar saya basa-basi.

Mahira menunjuk donat dengan toping choconut dan saya menambahi beberapa donat lagi. Pilihan saya jatuh pada rasa tiramisu, vanilla oreo dan coklat. Diantara banyak rasa lain yang membingungkan pembeli. Belum tiba di rumah, ia begitu ingin segera menelan donat pilihannya. Maka saya memilih duduk sebentar di bagian dekat toko dan Mahira menghabiskan satu donatnya dengan lahap. Alhamdulillah…



Sisa-sisa coklatnya memenuhi mulut bagian atas hingga terbentuk seperti kumis. Saya biarkan itu sebagai bagian yang lucu dan tetiba Mahira berteriak

“Ayaaaaaahhh!!” ucapnya sambil menunjuk seorang Pria.

Dengan santainya saya berkata, “Ayah kan di kantor Mahira. Nanti ya tunggu sebentar lagi.”

“Ayah! Ayah! Ayah!” Kakinya semakin menjejak, bola matanya semakin membulat

Terpaksa mata saya arahkan kepada pria yang di maksud Mahira adalah Ayah. Ternyata betul itu Ayahnya. Haha.. yang juga berencana membeli jajan untuk Mahira. MasyaAllah.. Ohh beneran Ayah ya.. Aku terkekeh sendiri dan beberapa pasang mata memperhatikan kami.

“Bagaimana bisa Ayah Mahira tahu kami disini?” Tanya saya hingga mungkin terdengar beberapa orang.

Ia hanya tersenyum dan bilang. “Ayah bawa sesuatu” dan kami berlalu pergi kembali ke rumah. Mahira masih asyik dengan donatnya.

“Sesuatu itu apa?” ucap saya penasaran.

(InsyaAllah dilanjut kapan-kapan ya sesuatunya. Jemari ingin menulis, namun raga harus segera istirahat)

#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 15, 2018

JAHE SUSU DAN CAKUE




DAY10 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Pasangan*

Suara pesawat terbang hilir mudik bandara Halim, begitu terdengar jelas dari atap rumah kami. Namun pagi ini rasanya begitu berat untuk bergegas, seperti ada tanda-tanda flu yang mengintai. Sedangkan ada setumpuk cucian yang hingga pukul 9.00 pagi belum bisa saya cuci.

Suami membelikan kami sarapan bubur Ayam yang mudah untuk ditelan, mengingat tenggorokan istrinya lumayan sakit untuk menelan. Setelah kami sarapan, kami bermain Slime bersama. Mahira begitu happy.

Disaat Mahira dengan Ayahnya, saya bergegas membereskan ruangan dan belanja untuk membuat menu makan siang. Cucian yang setumpuk itu kami kerjakan bersama saat Mahira tidur siang. Alhamdulillah.. kami bisa beristirahat lagi.

Komunikasi produktif pada hari ke sepuluh ini begitu terasa dampaknya tanpa saya berbicara, Suami sudah memahami bagaimana jalan pikiran saya. Hingga malam ini, kami berkesempatan untuk berakhir pekan dengan minuman dan snack yang antimainstream yaitu Jahe Susu dan Cakue sambil bermain tebak pikiran.

“Sayang.. tebakan yukk!” ucap saya mengawali malam ini dengan begitu semangat.

“Kamu kan mau nulis.” Jawabnya ringan

“Itu bisa nanti bagian malam paling ujung” timpal saya

“Oke! Tebak Pikiranku ya tapi di awali dengan satu kata pembuka” jawabnya lagi

“Contohnya bagaimana?”

“ Ketika aku bilang Ayam Goreng, kamu jawab satu hal yang kiranya ada dipikiranku.” Jelasnya begitu antusias.

“Oke.. aku mulai ya..” Tawar saya dengan semangat juga.

“Nirwana!”

“Sari!”

“Kok Sari sih mas? Nggak fokus nih” Ucap saya sebal.

“Bubur Ayam ya? Apa sih? Pikiranmu susah.” Jawabnya membuat saya terkekeh.

“Ya sudah kamu gentian mas.”

“Ayam Goreng!”

“Suharti”

“Kok Ayam Goreng Suharti? Aku nggak pernah ke sana sama kamu loh!” Jawabnya kesal.

“Oh iya.. hmm itu waktu aku sama teman-temanku” jelas saya sengaja membuatnya kesal

“Oh jadi ingatnya kenangan dengan teman?” Suami mulai begitu kesal hingga akhirnya
dia ngambek dan membanting pelan cakuenya. Saya tahu dia bercanda.

“Banyak yang nggak pas karena belum fokus! Aku juga bercanda mas.” Renggek saya agar dia tidak ngembek lagi. Dengan dua puluh kecupan di pipi, akhirnya dia mau melanjutkan lagi tebak pikirannya. MasyaAllah…

Alhamdulillah setelah kami fokus, ternyata banyak kecocokan antara satu dan yang lainnya. Sehingga beberapa miss kami terus bercanda sampai Jahe Susu dan Cakue sudah tidak tersisa.

Pesan saya dengan kaidah Clear dan Clarity tersampaikan bahkan ia begitu merespon setiap hal yang saya maksudkan. Banyak cara untuk membangun romantisme yang seru dan murah meriah. Hehe… 
Banyak hal yang membuatnya lelah karena pekerjaan yang begitu banyak di kantor. Choose the right time untuk mengahadirkan suasana seru, yang bisa jadi relaksasi  agar pikiran Suami kembali menjadi fresh.

Seperti halnya kita mudah menghadirkan Jahe Susu di rumah untuk menghangatkan tubuh, kita  juga harusnya dengan mudah menghadirkan kehangatan antar hati pasangan dengan banyak cara yang kita saling suka.

Do you want to practice this with your Hubby? it's really fun!

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 14, 2018

MEMBANGUN ROMANTISME ala Ibu Mahira




DAY09 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Pasangan*

Tidak sedikit yang menganggap jika romantis harus berupa sebuah perlakukan yang 'manis', namun banyak juga yang mengatakan jika romantis bisa dalam bentuk apa saja, termasuk kata-kata atau hal yang sederhana. Melalui Komunikasi Produktif ini saya berusaha membangun romantisme.

Sebelumnya saya mau bercerita sedikit mengenai beberapa hal romantik yang pernah saya dapat dari suami.

Membayangkan diberi mawar sama suami adalah hal yang sia-sia. Mengingat suami saya orang yang jauh dari kata romantis lebih tepatnya kaku. Namun saya tidak mau menuntut itu karena akan menjadi suatu hal yang begitu terpaksa. Biarlah ia mencintai dengan caranya yang mungkin awalnya tidak saya suka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia dapat menyamakan ritmenya untuk mencintai saya dengan cara yang saya suka.

Pernah dikasih mawar? Haha... Saya Dua kali saya dikasih mawar. Pertama dalam bentuk body scrub. Agar Si mawar tak layu sia-sia. Begitu katanya. Saya tetap berbinar senang atas upayanya. Sekalipun saya tahu teman kantornya memang mahsyur dalam berdagang. Haha...

Kali kedua saya dikirim foto bunga mawar dengan angle yang sangat cantic. Dengan caption ungkapan cinta. Saya tetap berbinar senang atas upayanya sekalipun saya masih kurang sreg dengan diksinya. Hehe Memang bukan hal mudah juga dalam merangkai kata, namun saya begitu menyukai minat belajarnya, upayanya dalam membangun romantisme.

Dua moment terkait mawar ini saya ambil untuk contoh, bahwa orang sekaku suami saya, lambat launpun bisa menemui ritmenya dalam membangun romantisme. MasyaAllah..

Hari ini saya memilih waktu yang tepat untuk membercandai Suami, biasanya ia selalu membelikan saya Es Kelapa, bukan sebuah romantisme melainkan ia sendiri ingin mencicipi Es Kelapa yang seolah ia tujukan untuk saya. Haha..

Ia biasanya pulang sesudah sholat dzuhur\Jumat, sebelum ia pulang saya bergegas pergi ke warung depan untuk membeli Es Teh. Saya sengaja tidak izin karena memang sebentar saja. Kebetulan saat hendak pulang ia telepon terlebih dahulu, menanyakan keberadaan saya. Namun saya lama sekali menjawab karena Mahira masih mainan sama Kucing.

Sayapun bergegas pulang dengan pikiran suami sudah menunggu saya dan ternyata benar, ia sudah menunggu diteras. Perlahan saya balas chatnya dengan bercandaan, suami sudah tahu keberadaan saya namun ia tetap membalas chat saya. Maka saya bercandai terus dan ia pun membalasnya. Padahal kami sudah berhadapan. Haha…



Kamipun terpingkal saat masuk rumah bersama. Betapa konyolnya kami berchattingan dengan jarak yang tidak lebih dari 3 meter. Iapun mendaratkan ciumannya, katanya ia begitu gemas dengan sikap saya yang tidak ada habisnya untuk membuatnya tertawa.
Mendapati responnya begitu senang artinya Kaidah yang saya gunakan berjalan dengan baik. Pesan yang saya sampaikan juga dapat ia pahami. Ia tahu saya membercandainya.



*Komunikasi dengan Anak*

Melihat kami berdua terus tertawa, Mahirapun ikut tertawa. Kemudian ia kembali disibukkan dengan melepas sepatunya.

“Mau Ibu bantu sayang?” Tawar saya menunjukkan empati.

“Indiyi buk! hiya isa.” Ucapnya menjawab saya,
(Sendiri Ibu, Mahira bisa)

Saya memberikan kepercayaan kepada Mahira untuk melepas sepatunya, sekalipun untuk semua hal yang ia tidak bisa, saya selalu turut serta membantunya. Saya juga senang jika ia mau berjuang untuk hal yang sedang dihadapinya.

Namun saat sholat Isya di Masjid tadi, saya kembali dibuat terharu dengan sikap Mahira. Mungkin karena ia pernah melihat saya berlaku demikian kepada Ayahnya, sehingga iapun mencontohnya.

Jadi saat sholat Isya tadi saya terburu dan tidak membawa sajadah dari rumah. Saya percayakan wajah saya terpapar karpet sajadah masjid yang entah kapan terakhir kali dicuci. Pada rakaat kedua, Mahira memang tak terlihat di sisi saya dan kemudian setelah beberapa saat ia muncul dengan membawa sajadah dan menggelarnya untuk saya.

Ia paham bahwa sajadah untuk sholat, ia juga paham saya tidak membawanya dan romantisme yang pernah saya lakukan ke suami kala itu terekam baik oleh Mahira, hingga iapun mengaplikasikannya untuk saya.

Mengenai membangun romantisme dalam pernikahan menurut saya sangat perlu. Sebagai salah satu upaya merawat pernikahan. Banyak orang menganggap sepele, bahkan ada yg bilang "halaaah...apa sih" Tapi setiap pasangan yang mau sinergi dan saling menyenangkan satu sama lain, bisa menjadi anti aging bahkan menghimpun pahala tersendiri.

Memang kemampuan merangkai kata setiap orang juga berbeda-beda, saya juga tidak menuntiut itu ke Suami. Sejauh ini saya memberi romantisme ya mengalir saja, saya ciptakan untuk membina perasaan saya sendiri untuk selalu jatuh cinta pada suam. Dalam prosesnya, suam mengikuti ritme saya, sekalipun terkadang rancu, lucu, aneh tapi tetap membuat saya senang. Itu karena niatnya, prosesnya dan semua upayanya yang tulus terhadap saya dan saya bisa merasakannya.






#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day12


Lanjut Baca yuk.. >>>