Showing posts with label Semua Anak Bintang. Show all posts
Showing posts with label Semua Anak Bintang. Show all posts

April 13, 2019

Day 17 Final- Mahira dan daya ingatnya

Alhamdulillah.. tidak terasa tantangan game level 7 kali ini sudah memasuki hari ke tujuh belas. Tentunya masih banyak kegiatan yang belum di kenalkan k
epada Mahira. Namun dari 17 hari dalam tantangan kali ini, potensi bakat Mahira sudah mulai nampak. Sekalipun itu bukan hasil observasi final, namun setiap hari ini ada bahasa bakat yang sering ditampilkan Mahira secara berulang. Insyaallah nanti akan saya bahas pada alras.

Hari ini Mahira masih batuk pilek, badannya kembali demam. Namun saya harus mengajaknya pergi untuk menemani tantenya pindahan. Sekalipun ia hanya di mobil dan dengan keadaan yang mungkin tidak enak untuk ngapa-ngapain, ia berusaha tetap komunikatif kepada kami semua.

"Ibu lihat, jalan banyak motor. Pelan-pelan ya." Nadanya lirih namun penuh perhatian kepada sekitar.

Saat kami tiba di kos tante, iapun ingin turun dan membantu. "Hiya mau turun dan  bantui." Ucapnya merengek.

Dengan perlahan saya membuatnya mengerti bahwa Ibu akan membantu membawa barang tante hanya sebentar. Alhamdulillah ia menyetujui untuk tetap berada di mobil bersama Uti. Iapun menunggu dengan penuh harap. Biasanya Mahira selalu saya libatkan dalam aktivitas saya, namun mengingat kondisinya yang masih kurang sehat, saya membatasi beberapa aktivitas untuknya.

"Ibu, keretanya mana?" tanyanya saat kami melintasi rel kereta. Jackpot untuk Mahira karena qadarullah mobil kami terhenti saat palang diturunkan dan keretapun lewat. Ia sangat senang dan ingin sekali keluar.

"Loh.. Ini kan rumah sakit." Ucapnya saat melihat sebuah bank dengan lobby yang mirip dengan rumah sakit.  Masyaallah..

Saya memang selalu cerewet mengenalkan banyak hal kepada Mahira saat perjalanan, mungkin hal tersebut sudah menjadi kebiasaan saya sejak mengandung Mahira. Saya ingat betul, ketika melewati rumah sakit dimana saya melahirkan Mahira selalu saya beri tahu,

"Nak, ini tempat pertama kali Mahira lahir di dunia. Namanya rumah sakit." Ucap saya pada Mahira yang masih bayi.

Seiring berjalannya waktu, Mahira tumbuh hingga usia dua tahun, saya hanya memberi tahunya 2 kali. Namun ia dapat mengingat betul kata "rumah sakit" dengan segala visual yang ia lihat pada rumah sakit dimana saya melahirkan.
Maka saya terkagum saat ia dapat mengatakan "rumah sakit" pada sebuah gedung lain padahal bank karena memiliki lobby yang hampir serupa. Masyaallah..

Begitupula dalam mengingat logo, seperti logo alfamart, indomart, ia dengan mudah menyebutkannya saat melewatinya. Begitupula alun-alun dan beberapa tempat yang ia ketahui. Masyaallah. Jadi dalam perjalanan selanjutnya saya ingin lebih banyak mengenalkan Mahira pada bangunan-bangunan lainnya.




#Day17
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Lanjut Baca yuk.. >>>

April 12, 2019

Day 16- Mahira mainan mobil-mobilan

Hari ini Mahira masih pilek, namun alhamdulillah tidak mengurangi selera makan dan bermainnya.
Memasuki hari ke 16, saya masih mengenalkan banyak kegiatan yang saya jadikan media untuk mengobservasi potensi bakatnya. Kali ini ia bermain mobil-mobilan.

Car race model competition ini satu set milik saya dan adik saya saat kecil dulu. Mama menjaganya hingga Mahira lahir ke dunia, set mainan tersebut masih layak untuk dimainkan. Masyaallah.

Iapun sangat senang saat saya menunjukkannya, rasa ingin tahunya cukup tinggi. Ia menanyakan hampir semua part yang baru di lihatnya dalam sebuah arena balap mobil. Ia memperhatikan saya dengan jeli saat saya mencoba merakit helikopter yang lepas dari bagiannya dan tentu ia menata sesuai keinginanya sendiri.

Saya mencoba membantunya untuk membuat dekorasi yang sesuai arena balap, namun nampaknya ia punya konsep sendiri, tepatnya konsep berantakan. Hihi..
Mahira belajar banyak hal, bagaimana mengatur area, mengelompokkan mobil sesuai warna, mengelompokkan mobil dengan nomor urutan, ia juga belajar kosakata baru dan sibuk memainkan mobil kuning yang ia suka.

Sekalipun berkali-kali ia harus mengelap ingusnya yang terus menerus keluar, bahkan di iringi beberapa kali suara batuk. Ia tetap semangat bermain dan happy sekali. Ia juga mengembalikan mainannya masuk ke dalam plastik setelah sudah selesai bermain. Masyaallah. Saya jadi semakin bersemangat mengenalkan ia pada banyak kegiatan lainnya. Masyaallah...


#Day16
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 11, 2019

Day 15- Menggunakan Lem dan Spidol

Demam Mahira sudah mereda, ia sudah beraktivitas seperti biasa. Namun saya tidak mengajaknya keluar karena menjaga kondisinya sampai benar-benar fit terlebih dahulu.

Hari ini ia melakukan banyak aktivitas, ia menemkan puzzle pesawatnya bercecer karena tidak di letakkan dengan baik. Ia begitu sedih hingga menangis. Akhirnya saya menawarkannya untuk membuat pesawat dari kertas origami, namun ia tetap saja tidak mau.

Sampai akhirnya tangisnya berhenti dan kembali happy lagi karena melihat tempat pensil saya terbuka dengan berbagai macam warna spidol, lem dan perlengkapan lainnya. Iapun menempel-nempel kertas origami dan mencoba menulis beberapa huruf dengan sebutan acak dan masih sekeluarnya.

Bagi saya pemandangan ini sangat mengagumkan, ia konsisten menulis huruf alif namun ia mencoba menyebutkan semua huruf dengan pengucapan semaunya,  Ia juga membuat lingkaran dan mematuhi instruksi verbal yang saya sampaikan saat pensilnya ia pegang dengan cara yang salah. Mahira sangat senang happy sekali.

Ia membuat jam tangan di pergelangan tangan saya dan memainkan pesawat terbang dengan lagu yang ia buat sendiri. Sesekali mulutnya terus menirukan suara pesawat.

"Wuuuuuzzzzz..... wuuuzzzz..." Sambil terbang kesana kemari.




#Day15
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 10, 2019

Day 14- Ibuk, bacakan Hiya buku baru.







Bangun tidur hari ini badan Mahira demam, ia nampak lesu sekali dan memilih untuk berlama-lama di tempat tidur. Ternyata Mahira agak pilek. 

"Ibu, Hiya ada ingusnya. Di Lap dulu buk." Ucapnya sambil menggapai handuk kecil yang saya berikan untuknya.

Ia sudah dapat mengelap hidungnya saat mengeluarkan ingus, walapun belum begitu cekatan tapi saya selalu memberinya kesempatan belajar. 

"Coba Mahira lap dulu nak.."

"Ibu ajaaa." Ucapnya

"Mahiya bisa?" 

"Bisa." 

Dan iapun mengelap hidungnya perlahan.  Memang butuh kesabaran ekstra saat anak dalam kondisi kurang sehat. Terkadang semua hal yang biasanya ia bisa lakukan sendiri, seringkali inginnya di handle oleh Ibunya semua. Sehingga saya berusaha memberikan pengertian ke Mahira bahwa hal-hal kecil yang ia bisa lakukan sendiri, tetap lakukan seperti biasa. 

Menjelang sore ia sudah mulai bersemangat lagi, tapi sisa-sisa manjanya belum hilang karena mungkin badannya masih kurang enak. 

"Ibuk, bacakan Hiya buku baru." Pintanya menjelang tidur. 

Kebetulan hari ini, Mahira mendapat paket buku dari teman Ibu. Bukunya berjudul Berkumpul Di Jannah (BDJ). Kami melakukan unboxing buku, kemudian membacakannya. Ia menyimaknya dengan serius dan sesekali bertanya. Saat menjelang tidur, ia ingin kembali dibacakan buku oleh saya. 

Mahira sangat senang sekali, dibacakan buku oleh saya. Sekalipun kontennya belum ia pahami. Tapi Mahira mencoba memahami apa yang saya sampaikan. 
Ia paham saat saya mengatakan, baterai, kemudian ia mengikuti saya memegang bagian dada dan mengatakan beberapa kosa kata baru untuknya seperti jantung, nyawa, meninggal, jannah, berkumpul dll. Masyaallah tabarakallah...






#Day15
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 9, 2019

Day 13- Mahira nonton Drum band

Hari ini TPQ Tarbiyatus Sibyan mengadakan gelar acara khotmil Quran. Bagi kami, gelar acara ini merupakan acara besar yang dinantikan oleh kaum ibu terutama ibu yang menyekolahkan anaknya di TPQ tersebut.

Sebelum khotmil Quran berlangsung, anak-anak di arak keliling desa. Dengan menggunakan becak. Aksi drum band MI dan MTS pun bergema di desa kami.
Mereka semua sangat bersemangat.

Tak satupun saya lihat yang nampak sedih, mereka (anak-anak) berbinar dan senang mengikuti rangkaian acara ini...

Mahira baru saja bangun dari tidur siangnya, kami menginfokan jika ada aksi drum band yang akan lewat di depan rumah. Iapun bilang,

"Ibuk lihaaattt!!"

"Ibu ketudung, Ibu sepatu."

Sekalipun agak terburu, ia tetap ingin menggunakan kerudungnya dan mengganti pakaiannya agar menutup aurat. Memang hal ini sudah saya biasakan dari ia bayi, sehingga tak heran jika Mahira berlama-lama dengan hijabnya.

Saat drum band lewat, ia memperhatikan sungguh-sungguh. Ini kali pertamanya ia melihat aksi semacam karnaval.

"Ibu, barongsainya habis." Ucapnya membuat saja terkaget.

"Barongsai? ini bukan barongsai nak, tapi drum band." Jelas saya.

Ia memang pernah melihat barongsai di Pekalongan dan juga saat masih di Jakarta, pakaian mereka tentu beda tapi ada kemiripan dengan bulu-bulu merah khas etnis cina. Saya menatap dengan baik raut wajahnya yang baru saja bangun tidur. Ia masih dapat fokus mengingat beberapa kejadian lalu yang ia kaitkan pada hari ini.

Sekalipun ia tidak begitu enerjik mengingat masih lemas karena bangun tidur, namun memorinya cukup bagus mengingat beberapa kejadian yang sudah lalu. Iapun bercerita, mengingat jika dulu pernah di pegang oleh ondel-ondel saat nonton di pinggir jalan. Ia bilang,

"Hiya kasih uang ondelnya."

"Terus kalau drum band?" tanyaku

"Ndak kasih buk. Ndak ada ondelnya."

Iapun mencoba memahami perbedaan aksi drum band, barongsai dan ondel. Saat saya menjelaskan ia sangat serius menyimak. Masyaallah..






#Day13
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 8, 2019

Day 12- Si Perfeksionis

Bertambahnya hari saya semakin melihat banyak hal yang nampak pada diri Mahira. Tidak hanya fisiknya saja, melainkan cara bicara dan kebiasaan-kebiasannya sehari-hari. Karena Mahira sebagai peniru ulung saya memang sangat berhati-hati menampilkan semua hal yang cenderung dicopy olehnya.  Namun tanpa di sadari beberapa kebiasaan kami orang di rumah menjadi kebiasaan yang dimiliki juga oleh Mahira. Salah satunya adalah kebiasaan menyapu. 


Tak jarang ia melihat anggota keluarga menyapu, dengan senangnya ia juga ikut menyapu. Ia selalu ingin menggunakan sapu yang kami gunakan, namun karena kami menjaga ototnya agar aman maka ayahnya membelikan alat clean up untuk seusianya. Ia begitu sennag sekali dan hampir setiap hari menggunakannya. 


Ada yang berbeda sore ini, ia menggunakan sapu kecilnya untuk menyapu teras dekat fishpond dekat garasi. Biasanya ia hanya menggunakannya untuk di dalam rumah. Kami memiliki pohon kenanga yang daun dan bunganya sering berjatuhan di sana, sehingga Mahira sering kali kesal dan terus menerus membersihkannya jika melihat lantai nampak penuh daun. Sebelumnya saya sudah menyapu dan mengumpulkannya di bagian bawah pohon, nanti biasanya saya ambil dan saya buang di tempat yang seharusnya. 


Melihat daun dan bunga kembali berjatuhan ia pun tiba-tiba mengambil sapu dan menyapu lantai hingga semua sisi bersih sekali. Ia tidak ingin melewatkan ada bagian dari daun atau bungan yang berjatuhan belum tersapu. Masyaallah... Dengan semangatnya ia menyapu layaknya orang dewasa, mengumpulkan di tempat yang  sama dengan saya, bahkan ia jauh lebih perfeksionis karena ia tak melewatkan bagian lain yang terjatuhi daun dan bunga. Ia begitu cool dan penuh rasa kesungguhan dalam mengerjakan pekerjaan sukarelanya itu. 

Saya sangat bersyukur Mahira memiliki inisiatif untuk itu namun di sisilain saya terkadang lelah mengikuti beberapa keinginannya yang harus begitu pas. Seperti menyapu harus bersih, makanan jatuh harus segera di ambil, meletakkan kembali barang pada tempatnya, menggunakan obat saat gatal\digigit nyamuk atau pegal, makan harus sesuai lauknya dan membuang sampah pada tempatnya. 


Beberapa hal tersebut kadang membuat saya khawatir jika ia ada di tempat lain ataupun saat tidak ada akses untuk menyediakan sesuai kemauannya. Kami masih berusaha mengobservasi lagi potensi bakatnya tersebut dari sifatnya yang perfeksionis.






Menjadi perfeksionis memang bisa menyenangkan. Namun agar tidak terjebak pada situasi yang melelahkan, si Kecil juga perlu belajar untuk relaks.


#Day12
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 7, 2019

Day 11- Hello Finger

"Ibu.. tolon ambilkan meja Hiya." Pintanya di waktu semua orang masih lelap dalam tidur.

Sebelum subuh ia terjaga dan senang melakukan aktivitas apapun. Namun kali ini ia memilih untuk stay di atas bed dengan meja lipatnya. Ia ingin membuat finger yang ia cetak dari jemarinya sendiri.
Ayahpun turut membantu Mahira menggambar tangannya, kemudian saya membantu menebalkan garis untuk membantunya mengenal batas mewarnai.

Iapun memilih sendiri warna untuk gambarnya.

"Ibu, pakai warna merah."

"Warna ini dak keliatan." Sambil memperlihatkan warna biru muda yang begitu tipis di drawing book.

Kemudian iapun meminta tolong saya untuk menggambar finger, saya menyebutkan warna dan ia bersedia mencari warna tersebut di dalam tempat pensilnya.

"yang ini kita kasih warna hi..jau!"
"Coba mana warna hijau?" tanya saya.

"Emmm... mana ya? mana ya?" mimiknya seolah sambil berpikir.

setelah beberapa saat ia bilang, "Ini diaaaaa....ketemu." Wajahnya penuh dengan tawa yang begitu menggemaskan. Masyaallah.

Mahira pun mewarnai dengan begitu semangat. Ia bertanya apakah caranya memegang pensil warna sudah betul? Ia menanyakan hal tersebut saat saya tidak mengarahkan seperti biasanya.
Biasanya saya selalu mengingatkan,

"Mahira yang betul pegang pensilnya."

Namun saat saya tidak mengingatkannya, iapun menanyakan kepada saya.
Ia berusaha tetap komunikatif walaupun tengah sibuk mewarnai gambarnya dan sayapun berusaha meresponnya agar proses mewarnainya jadi semakin semangat.


#Day11
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 6, 2019

Day 10- Senyum adalah sodaqoh

Mengenalkan Mahira pada macam-macam sadaqoh sedini mungkin. Sodaqoh melalui hal sederhana dulu seperti senyum.

Ia begitu suka senyum. Sejak kami melantunkan anjuran untuk senyum dan mencontohkannya sesering mungkin. Beberapa minggu ini dia begitu semaraknya mengingatkan kami akan Sodaqoh yang paling sederhana tersebut.

"Ibu, senyum." Perintahnya pada saya.

Dalam setiap kesempatan yang ia butuhkan saya tersenyum. Sepertinya melihat saya tersenyum membuat kesan tersendiri untuknya seperti "Ibu baik-baik saja."
Begitupula perintah lain yang sering ia dengungkan kepada kami, karena kebiasaan kami terhadapnya. Seperti
"Ibu sabar ya.."

Maka ketika saya sedang kurang bersemangat. Dialah yang mengingatkan saya untuk senyum.

Maka ketika saya sedang hampir emosi. Dialah yang mengingatkan saya untuk sabar.

"Senyum itu apa Mahira? " tanya saya
"sodaqoh." Jawabnya dengan senyum.

"Sabar itu gimana sayang?" Iapun
Mengelus dada saya sambil tersenyum.

Masyaallah.. Sekalipun hal ini sangat sederhana, namun Ibu ingin Mahira juga bersama-sama gemar sodaqoh. Alhamdulillah.. Perlahan kebiasaan yang kami lakukan itu, poin plusnya sangat terasa untuk kami sendiri.

Dalam acara pernikahan saudara kali ini. Mahira begitu happy. Ia tersenyum saat melihat banyak saudara mengarah padanya. Memang Mahira tidak mudah membaur dengan cepat, kadang malu-malu dulu, ia selalu protect terhadap dirinya, mengawasi satu persatu orang disekitarnya dan lebih nyaman berkegiatan sendiri. Namun sesekali membutuhkan untuk diperhatikan dan ia akan perhatian dengan orang tersebut. Jika sudah kenal baik, ia yakin orang tersebut nyaman untuk dirinya ia mulai melakukan communication dengan caranya. Seperti senyum, menyapa, menawarkan sesuatu. Masyaallah tabarakallah...

Saya melihat bakat tersendiri pada diri Mahira yang saya nilai sebagai sikap yang wara' dan juga gemar mengingatkan.



#Day10
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 5, 2019

Day 09- Mahira Sinoman



















Sinoman menurut KBBI adalah sekelompok pemuda yang membantu orang yang sedang mempunyai hajat sebagai pelayan tamu (terutama di pedesaan). 

Mungkin menjadi hal umum jika pernikahan di kota itu tanpa ada sinoman, karena urusan apapun terkait pelayanan bahkan makanan akan di serahkan oleh Wedding Oraganizer ataupun jasa catering. Beberapa kebiasaan pernikahan modern ini sudah banyak juga di adopsi oleh orang-orang daerah, sehingga tak jarang MUA berbakat juga muncul dari daerah. 

Namun pernikahan saudara kami kemarin adalah pernikahan yang semua preparenya dilakukan sendiri terutama dalam mengurus makanan untuk tamu, saudara kami memasak di dapur miliknya. Proses memasaknya itu biasanya di bantu para tetangga, saudara yang pandai di pekerjaan masing-masing. Tak jarang di pedesaan masih banyak orang yang ringan tangan membantu pekerjaan saudaranya yang punya hajat. 

Seperti membungkus jajan kering, mencuci gelas piring, menyajikan minuman, membungkus berkat, membuat aneka kue basah dll. Sinoman ini biasanya dilakukan oleh semua usia, begitulah jika di desa kami. Namun KBBI menjelaskan bakhwa hanya sekelompok pemuda saja. Mungkin beberapa tempat lain ada yang demikian. Tapi saat acara di saudara kami kemarin kebanyakan orang-orang yang sudah tua. Mereka menahan kantuknya untuk bekerja membantu saudara dalam segala hal persiapan pernikahan.

Mahira saya ajak bersama membungkus lemper bersama mbah-mbahnya yang cukup banyak. Saat ia tampak jenuh terutama karena suasana yang hiruk pikuk dan banyak  nyamuk, saya mengajaknya keluar. Iapun mulai happy lagi, bertemu sebayanya, melihat mbahnya mengatur posisi peletakan meja prasmanan dan dengan pedenya ia bertingkah layaknya penjual. 

"Ibu.. beli baso." Ucapnya di dekat stand makanan untuk prasmanan besok.

Saya baru menyadari bahwa diamnya Mahira ternyata ia begitu memperhatikan dengan baik apa yang di ucapkan saudara bahwa stand ini nantinya untuk bakso dan grombyang. Dalam batinpun aku terkaget dan bertanya padanya, 

"Kata siapa ini untuk jualan bakso?"

"Iyaaa... basooooo Ibu." Ucapnya tegas.

"Oke,,,oke itu besok untuk tempat bakso."

"Baksonya mana Ibu?" tanyannya lagi

"Baksonya besok ya nak, besok basonya akan di layani di sini."

Percakapan kamipun mengundang banyak pasang mata saudara, karena Mahira berkali kali merengek minta segera bakso di sajikan. Beberapa orang membantu saya untuk menjelaskan kepada Mahira dan ia baru percaya jika baksonya disediakan besok. Masyaallah..

Mahirapun membantu hal lain, saya ajak ia mengechek toples jajan. Sambil ia makan kacang dengan sedapnya. Kemudian dia menuju pelaminan. Ia begitu aktif sekali saat kamera saya terarah olehnya, sehingga saya memintanya duduk. Iapun duduk dengan senyum manisnya, ia bilang jika senyum adalah sodatoh (Sodaqoh).

Mahira lihat, ada bunga yang lepas. Dengan kerelaan hatinya iapun mau membantu saya memasang bunganya lagi dan merapihkannyaa. Semoga Mahira paham hal lain yang merupakan bagian dari sodaqoh yaitu saling membantu dalam sabar dan ikhlas. 




#Day09
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 4, 2019

Day 08- Mengenal nama tanaman di kebun

Tidak terasa hari ini sudah memasuki hari kedelapan, kegiatan yang saya rencanakan hari ini adalah aktivitas outdoor di kebun depan rumah. Mahira saya biarkan berlari kesana kemari dengan riang, menemukan nyamannya bersama alam.

Biasanya saat sore hari koloni burung bangau kembali ke utara dengan berbagai formasi, ada semburat warna senja yang indah di langit,  sembari menunggu Ayah pulang untuk menantikan moment itu bersama. Saya dan Mahira menemani Eyang Kakung memangkas tanaman kurma dan mengenalkan nama tanaman yang ada di kebun.

Mahira sangat bersemangat, awalnya saya menyebutkan beberapa tanaman untuk membantunya mengingat kembali. Namun dengan cepat ia menyebutkan nama tanaman tersebut. Akhirnya sambil berjalan santai berkeliling kebun, saya menanyakan nama tanaman tersebut dan Mahira menunjuk tanaman yang saya sebutkan.

Ada tanaman delima, cabe, kurma, kelengkeng, rambutan, tin, kelor, mangga, pepaya, jeruk, jambu, dll Saat itu Eyang kakung bertanya,

"Mana Pepaya?"

Seketika Mahira mendekat ke pohon pepaya yang penuh dengan gerombolan buah yang masih mentah.

"Itu dia."
"Ini juga Pepaya Mahira." Jelas Eyangnya sambil menunjuk pohon pepaya lain yang masih kecil\belum berbuah.

"No..Bukan. Ini yang pepaya." Mahira kekeuh menunjuk pohon pepaya yang lengkap dengan buahnya.

Seketika kamipun tertawa karena memang pertanyaan eyang kakung mengacu ke Pepaya bukan pohon Pepaya. Masyaallah..

Serunya beberapa tanaman lain dengan mudah ia tunjuk, namun karena terlalu banyak dan beberapa tidak ada buahnya. Ia sering kali lupa.

Saat Eyang membersihkan pohon kurma yang usianya sama seperti Mahira, Eyang menemukan sarang burung. Ternyata di dalamnya ada telurnya dan tidak sengaja terjatuh dan pecah. Mahira nampak sedih sekali. Wajahnya bermimik kecewa.

"Kasian telur burung jatuh, rusak." Ucapnya polos.

Eyang kakungpun meminta maaf karena tidak sengaja saat mengambil kurang hati-hati. Kemudian Mahira bilang jika Ibunya nanti nangis. Ia begitu empati terhadap hal demikian, namun untuk memenggal sedihnya saya mengajaknya bermain lagi di halaman dan menunggu ketibaan Ayah untuk menikmati senja dengan hiasan formasi burung bangau ke arah utara.

Hari ini kegiatan yang kami lakukan sangat sederhana, dengan kegiatan di kebun saja. Namun Mahira begitu antusias untuk mengetahui banyak hal, apa saja yang ada di kebun dan nama tanaman yang ada di kebun. Saya juga dapat memberikannya pengertian dari kejadian hari ini, bahwa kita harus selalu bersikap hati-hati dan mengetahui bahwa ada ciptaan Allah lainnya selain manusia dan juga hewan, yaitu tumbuhan.


#Day08
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 3, 2019

Day 07- Membuat Sate Mantao bersama Ayah dan Ibu

Setelah kemarin kami bermain pretend play untuk mengasah kemampuannya dalam berniaga, mengenal mata uang, menggunakan alat, dll hari ke tujuh ini, kami mengajaknya seru-seruan di dapur. Fun cooking dengan membuat Roti Mantao.

Roti Mantao adalah roti khas pare-pare yang rasanya kami suka. Waktu itu kami dapat dari teman Ayah saat dinas ke Pare-pare. Lucunya tiga kali ke Sulawesi, Suam baru tahu mengenai Mantao saat temannya kasih oleh-oleh. Haha... Kemudian saya ingat pernah bilang untuk belajar bikin roti ini, karena belum ada kemungkinan lagi ke Sulawesi.

Oke.. Persiapan sudah saya lakukan, menyiapkan bahan dan eksekusi saat Ayah sudah tiba di rumah. Mahira dengan semangat melihat Ayah menimbang tepung, kemudian Mahira memindahkan tepung ke baskom. Ia juga memberi gula dan membantu mengaduk adonan. Perlahan susu cair dimasukkan, sembari Ayah mencairkan margarin. Hingga finish, Ayah Mahira yang menguleni hingga kalis, membentuknya sedemikian rupa dan saya menggorengnya hingga matang.

Dominan pekerjaan ini dilakukan oleh Ayah dan Mahira. Saya sibuk mendokumentasi tiap moment yang adorable.

"Ini untuk Om,"
"Ini untu Ayah."
"Ini untuk Ibu" Seraya memberikannya kepada saya.

Mahira sangat fokus terhadap proses membuatnya, ia berulangkali menagih untuk membuat roti karena sebelumnya saya sudah menyampaikan padanya. Ia sangat senang, matanya berbinar, sikap-sikapnya begitu sweet. Kelak berharap Mahira bisa membuatkan menu lain untuk Ibu dan Ayah saat sudah mampu menggunakan peralatan dapur dengan baik.

Hari ini saya semakin bersemangat, rasanya banyak hal yang ingin kami lakukan lagi bersama untuk mengobservasi kemampuanya dalam berbagai hal.




#Day07
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Lanjut Baca yuk.. >>>

April 2, 2019

Day 06- Mahira Menjadi Penjual Telur dan Tahu

Hari ini sangat cerah, mood yang asyik untuk belajar dan melakukan kegiatan apapun. Baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Namun pada hari keenam kali ini, saya memutuskan untuk mengajak Mahira bermain pretend play seru dengan tools yang kami miliki di rumah.

Qadarullah uang mainan Mahira sobek banyak karena digunakan untuk eksperimen kala itu, akhirnya Ayah membeli uang mainan baru dengan size yang lebih kecil. Mahira sangat senang melihat uang mainan itu karena ia paham bahwa uang digunakan untuk membayar.

Ia sering kali saya libatkan dalam transaksi jual beli, karena untuk mengajarinya memahami bahwa tiap barang yang kita inginkan harus dibeli dengan uang yang jumlahnya senilai. Jadi di usianya yang sangat dini saya tak ragu memperkenalkan nominal uang padanya, mengajarinya menabung dan menjelaskan apa saja terkait jual beli. Seperti percakapan natural saja, entah dia paham atau tidak saya hanya menyampaikan.

Contoh:
Saat ini mengambil kotak susu di etalase toko, maka saya akan mengarahkannya ke kasir, "Mahira ini harganya lima ribu, serahkan uang lima ribu ini ke kasir nanti Mahira baru bisa memiliki susu kotak yang di ambil."

Lambat laun ia paham, bahwa tiap transaksi jual beli itu ada alat tukar, ada kegiatan membayar dan dia lambat laun memahami fungsi uang. Tentunya dengan pemahaman seusianya.

Pada pretend play kali ini, dia berperan sebagai penjual tahu dan telur. Kebetulan ia memiliki bongkar pasang abjad yang berbentuk kotak berwarna putih seperti tahu. Ia mengimajinasikan itu seperti tahu, sama persis seperti yang dulu saya lakukan waktu kecil. Ia juga memiliki mainan replika telur yang tentunya dari bahan yang aman. Kedua mainan itu ia gunakan sebagai bahan untuk berjualan.

Alat-alat yang digunakan ia meminta semua perlengkapan real, dari  wajan, sodet, pencapit dan baskom. Ia menggunakan kursi kecil sebagai pengganti kompor. Tepat sekali, ia tidak mau menggunakan mainan masak-masakannya, mungkin akan memiliki taste berbeda jika semua menggunakan perlengkapan yang sama seperti yang biasa saya pakai di dapur. Make it's real :)
Bahkan ia berlaku layaknya penjual telur sungguhan yang memperlakukan telur dengan careful. Masyaallah...

Saat saya dan ayahnya berperan sebagai pembeli, ia mengembalikan uang yang kami berikan. Katanya, " Gratis aja."
Masyaallah...

Kami seketika tertawa, karena tiap dibayar ia mengembalikannya lagi. Namun ia tetap memberikan pesanan kami dengan senyum manisnya. Masyaallah. Pretend Play kali ia berperan dengan begitu baiknya seperti penjual sungguhan, ia mengatur semua barang-barang sesuai keinginanya.

Dari kegiatan ini kami juga mengajarkan Mahira dalam menggunakan beberapa alat, seperti pencapit. Kemudian memperkenalkan Mahira alat-alat dapur seperti wajan, sodet, baskom, dll. Ia begitu senang sekali. Matanya berbinar, mulutnya hampir terus melakukan komunikasi. Sesekali ia berteriak seperti pedagang sate keliling, namun di ganti dengan kata, "Teluuuuurrr....Teluuuurrr..."

Masyaallah tabarakallah...

#Day06
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 1, 2019

Day 05- Membuat bunga hijaiyah

Day 05- Membuat bunga hijaiyah

Menyempatkan membeli stok kertas origami yang habis dan mengajak Mahira untuk membuat bunga hijaiyah.

Huruf yang saya ulang untuk dipahami bentuknya adalah A, BA, TA', TSA'
Mahira terkadang masih terbalik-balik antara Ba, Ta, Tsa namun kami menikmati prosesnya. Ia begitu senang saat bunga pertama sudah jadi. Pada bunga kedua, ia tidak begitu fokus lagi melainkan sibuk menggunakan gunting dan katanya ingin membuat bunga juga.

Ia mengambil kertas origami merah, mengguntingnya disemua sisi yang ia bilang sebagai kelopak. Kemudian menempelnya dengan straw dan memberinya corak putih di bunga yang ia buat.
Mahira bersikeras menggunakan gunting dewasa, saya berulang kali meminta namun ia menjawab,

"Hiya pelan-pelan ibuk." Ucapnya membuat saya tertegun.

"Tolong hati-hati ya?" Pinta saya karena ini pertama kalinya ia menggunakan gunting sesungguhnya. Memberikan kepercayaan padanya kala itu, namun qadarullah ia sempat terkena ujung gunting dan berhenti.

"Ibu, sakit. Tapi slesein dulu." Ia mencoba terus melanjutkan walaupun sempat terkena gunting sedikit.

Saya mencoba meminta gunting darinya namun ia menolak dan kembali bilang,
"Hiya pelan-pelan Ibuk!"

Gerak tangannya semakin cepat, seolah ia ingin menyelesaikan dan memberikan segera gunting yang saya minta. Tanpa saya sadari (saat itu saya belum tahu) jika ternyata ia juga membuat bunga versinya. Masyaallah..

"Yeeeyy... bunganya sudah jadi." Mahira bersorak senang.

Ia langsung lari memperlihatkan kepada Eyangnya, saat Ayahnya pulang ia juga langsung memamerkan hasil karyanya pada Ayahnya. Betapa ia begitu senang sekali dan meminta hasil karyanya juga di dokumentasikan. Masyaallah...

Saya melihat potensi bakat ia dalam menuangkan ide-ide di luar pemikiran saya. Mahira cukup kreatif diusianya yang baru 28 bulan. Ia mencoba membuat bunga versinya dan ingin anggota keluarga melihat karyanya itu. Ia selalu mencoba bertindak bahwa yang Ibu lakukan juga bisa ia lakukan. Masyaallah... Semangatnya selalu berapi-api sehingga rasanya membuat saya begitu semangat untuk melibatkan ia pada kegiatan dan wawasan lainnya. Masyaallah...

Note:

  • Ide bermain: Ibu Mahira
  • Bahan dan alat yang digunakan: Kertas origami, straw, double tape, gunting kertas kecil.
  • Bahasa bakat pada anak: Learner, Focus, Maximizer, Communication,Command

Tujuan Bermain:
1. Bonding time
2. Mengenal hijaiyah dengan cara yang asyik
3. Melatih penggunaan alat
4. Mengembangkan kreativitas dan
5. Melatih motorik halus



#Day05
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

March 31, 2019

Day 04- New Pet Fish

Day 04- New Pet Fish

Agenda kami hari ini adalah belanja bulanan dan membeli peliharaan baru untuk Mahira. Peliharaan yang kami tawarkan adalah ikan. Mahira sangat bersemangat sekali saat diberi tahu, bahkan  ia berkali-kali mengingatkan kepada kami untuk membeli ikan.

Akhirnya setelah kami selesai belanja bulanan, kami berkunjung ke pasar ikan, lebih tepatnya semacam komplek toko yang khusus jualan ikan-ikan hias beserta aksesorisnya.

Awal tiba di sana, Mahira bersorak. Matanya tak lepas dari ikan-ikan yang ada di sana. Ia memperhatikan gerak ikan-ikan. Iya juga menanyakan nama ikan yang ia belum tahu. Berkeliling melihat aneka ikan dan berpindah dari toko satu ke toko lain.

Ia begitu antusias, wajahnya  terus berhias senyum. Rasanya sulit untuk menjepret dirinya yang selalu bergerak enerjik. Di sini saya kembali mengenalkan ke Mahira bagaimana ia memilih dan mengambil keputusan, menyelipkan beberapa pengetahuan dan kosakata baru seperti aquarium, filter, aerator, alas aquarium, busa, batu hias dll.

Saat itu keputusanya adalah membeli ikan cupang. Ikan cupang dibungkus dalam plastik dan kamipun segera kembali untuk pulang. Saat di mobil, ia tidak sabar ingin segera bermain bersama new pet fish. Kakmi memberikannya pengertian untuk bersabar, karena goncangan dalam mobil membuat ikan nanti pusing. Dengan lugunya ia mencoba memahami informasi dari kami dan meletakkan ikannya.

Tiba di rumah ia meletakkan ikannya dalam botol.
"Ibu,, Ikan di botol."
"Ibuk, Ikan di kasih maem."

Masyaallah tabarakallah. Ia begitu menyukai hewan peliharaannya itu, semoga Mahira bisa menjaganya dengan baik.

"Ikaaan.. Hiya gemeeesss." Ucapnya sambil mencubit kecil pipinya sendiri. Iapun menirukan gerak mulut ikan sambil berlari kesana-kemari. Ia berimajinasi seolah menjadi ikan yang sedang berenang di dalam air. Wajahnya berhias senyum dan keceriaan yang membuat rumah kami bertabur kebahagiaan. Masyaallah...

Tujuan memelihara ikan:
1. Anak belajar mengenal ciptaan Allah selain manusia
2. Berlatih untuk bertanggung jawab
3. Menyayangi binatang
4. Belajar memilih dan menentukan keputusan

Mahira, kita sholat dlu yuk. Alarm ibu sudah nyala nih. Kemudian Om tanya, kita sholat apa Mahira?

"Sholat Ashar."
"Berapa rakaat?"
"Empat roaaat."

Masyaallah tabarakallah, kemudian kami ke masjid dekat toko, Mahira berwudhu dibantu ayah dan sholat bersama.

Dalam Masjid ia menanyakan, kenapa Mahira tidak bisa sholat bersama Ayah? Kemudian saya menjelaskan.

"Jika dalam masjid Mahira lihat hijab?"
"Mana?"
Kemudian saya menunjuk yang dimaksud. Ini pembatas untuk akhwat dan ikhwan. Mahira sholat disini karena Mahira perempuan. Akhirnya ia sholat bersama yg lain. Selepas sholat ia kembali mencari Ayahnya.

Ia begitu senang sekali di masjid. Kakinya tak berhenti berjejak. Rasanya kebahagiaannya tumpah ruah. Masyaallah

Note:
  • Agenda terencana
  • Melibatkan Mahira dengan kegiatan jual beli, memiliki hewan peliharaan, mengenalkan tanggung jawab, pilihan dan pengambilan keputusan.
  • Bahasa bakat hasil observasi: Activator, Learner,Positivy,Responbility, Communication.
Keterangan potensi kekuatan anak: 
  1. Activator,
  2. Learner,
  3. Positivy,
  4. Responbility, 
  5. Communication.

#Day04
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

March 30, 2019

Day 03- Our Saturday

Hari ini kami cukup padat dengan agenda di luar. Rencana bermain di rumah, terpaksa harus di skip dan diganti dengan ide spontan serta observasi yang kami lakukan pada Mahira.
Sebelumnya saya akan menyebutkan agenda kami hari ini.


  1. Kami pergi ke Pasar Comal untuk membeli buah dan juga makan
  2. Kemudian kami  menjenguk anggota baru saudara kami. Baby Aurora yang sudah berusia satu bulan.
  3. Silaturahmi ke rumah Mbah Uyut-Mbah Uyutnya Mahira.
  4. Pergi ke Pekalongan diantaranya makan siang di SS
  5. Berburu Batik 
  6. Ke Masjid Agung Pekalongan
  7. Berbelanja di supermarket
Saat tiba di pasar, Mahira kami ajak berkunjung kesalah satu toko sepatu dengan niat spontan melakukan transaksi pembayaran dengan mengajarkan Mahira memilih dan mengambil keputusan. Sembari menunggu Mama saya berbelanja buah. Mahira dibantu ayah memilih calon sepatu yang akan dibelinya, ia pun memilih warna yang sedang gemar ia sebutkan berulang-ulang karena ia sedang belajar mengucapkan huruf 'R" yaitu merah.

Dengan antusias ia ingin menggunakan langsung sepatu tersebut sehingga hari ini pakaiannya berbenturan dengan warna sepatu yang dipilihnya. Sepatu yang ia kenakan sebelumnya ia tinggal di kendaraan dan fokus terhadap sepatu barunya. Saat ia tengah sibuk dengan sepatu barunya, saya menyusul Mama untuk membeli makanan khas Comal yaitu kue Apem sedangkan Ayah Mahira membantu Mama membawa buah-buahan yang dibelinya. Mahira menunggu kami di dalam mobil bersama Tante dan Omnya.

Perjalanan dilanjutkan menuju rumah sepupu Mamaku yang satu bulan lalu baru saja melahirkan. Bayinya bernama Aurora. Aurora nampak seperti bayi laki-laki yang begitu tampan dan adorable. Saat berkunjung ia shake hand dan langsung berbaur menuju tempat Aurora yang sedang tidur.

Ia meminta izin kepadaku untuk mencium Aurora. Dengan wajahnya yang masih kecil, ia bersikap layaknya orang dewasa. 

"Ibuk, Hiya mau cium adek."
"Hiya sayang adek, boleh angkat?"

Iapun merengek meminta saya menggendongnya, kemudian saya menolaknya dengan baik. 
Mahira kembali berulang meminta baby diangkat, katanya dia bisa melakukannya. Dengan wajah seriusnya dia membetulkan posisi kepada adek bayi yang miring, dilanjut membetulkan posisi kaki adek bayi yang katanya tidak lurus. Sontak kami tertawa karena sikapnya begitu penuh perhatian dan kasih sayang. Tanpa ragu, iapun mengechek keseluruhan tubuh adek yang terbuka dan menemukan ruam di dekat siku, Iapun bersikeras menyampaikan pada saya,

"Ibu, adek digigit nyamut. Kasih obat." Ucapnya dengan mimik wajah yang begitu sedih.
Masyaallah tabarakallah. Hati saya seketika terenyuh namun disisi lain ia begitu sangat protect sehingga saya takut sikapnya berlebihan. Sesekali ia katakan kepada saya.

"Hiya gemeeess." Dengan tangan yang pura-pura melakukan cubitan pada baby. Tentu saya sangat takut sekali, Mahira bisa membuat bekas dikulit bayi. Namun ia hanya berpura-pura saja alias ekspresif gemes. 

Saya belajar memberikan kepercayaan kepada Mahira saat bersama baby Aurora, berkali-kali saya mengatakan. Pelam-pelan, perlakukan adek dengan baik dan lembut karena kulitnya begitu sensitif. Iapun bilang dengan tegas, "Iyaaaa." Masyaallah tabarakallah.
Entah dia paham tau tidak saya sangat bersyukur ia mampu mengendalikan dirinya dan beradaptasi dengan baik terhadap keadaan baru yang dilihatnya.

Lepas menjenguk adek kami berkunjung kerumah Mbah Uyutnya Mahira, maklum Mamaku punya bulek dan Paklik yang cukup banyak, sehingga Mahira memiliki banyak Mbah Uyut. Mahira cukup mudah beradaptasi dengan di awali sikap malu-malu. Selepas itu ia bisa membaur mengikuti suasana setelah beberapa kali diajak berbincang dengan mbah buyutnya dan diiming-imingi mainan. 

Dengan sopan ia izin kepadaku untuk memainkan sepeda milik cucunya Mbah. Saat pulang iapun mengembalikan mainan tersebut ke tempatnya semula dan mengucapkan terimakasih. Masyaallah.
Saya sangat bersyukur melihat kepuduliannya untuk tidak sembarangan terhadap barang milik orang lain, ia begitu berhati-hati memainkannya. Seperti ia berhati-hati pada adik bayi. Mungkin karena tadi pegang bayi dan sekarang pegang mainan jadi masih terbawa suasana. 

Di Pekalongan

Kami makan siang di SS, makan siang yang cukup terlambat karena sudah pukul 16.00. Saat menunggu pesanan, Mahira seperti biasa look around. Ia tidak melewatkan melihat rak sepatu, dinding-dinding yang ada di SS dan juga orang sekitar.Ia memperhatikan dengan baik sehingga orang kembali memberikannya perhatian. Dengan sikapnya itu, ia berkenalan dengan sesama pengunjung. Kebetulan ada banyak pengunjung saat itu yang satu ruangan dengan tempat kami makan di lesehan yang no smoking area. Ia bersalaman dengan balita yang usianya lebih muda dari Mahira, Mahira mencoba meminjamkan mainan hadiah kinder joy yang dipegangnya sedari di mobil. Iapun beberapa kali di sapa orang karena sikapnya tersebut.

Saat melihat dinding, ia berkata.
"Ibu.. itu cabe. Pedes." 
"Ibu. Siiippp!" Sembari ia memperagakan gaya cabe yang persis seperti di dinding. 
Iapun ingin meminjam kacamata Utinya agar persis seperti mr. Huh Hah tersebut. Masyaallah.
Sontak kami tertawa dan beberapa pandang mata juga turut tertawa.

Sepulang dari SS, kami berburu batik disentono. Sejak Ayah pindah kerja di Pemprov pakaian yang sering ia kenakan adalah batik, jadi kami mencari batik untuk ayah. Om juga mencari batik, begitupula tante, saya dan Mahira. Ia turut berburu mencari mana yang cocok untuknya. Dengan polosnya ia mengikuti tantenya yang sesekali meminta pendapat atas pilihannya tersebut kepada saya.
Tanpa sadar Mahira juga copying sikap tersebut.

"Om tanya! Bagus ndak?" Sambil ia membawa dua buah batik yang dipilihkan oleh saya. 

Lucu sekali, sikapnya seperti orang dewasa saat berbelanja, sontak membuat penjualnya tertawa geli. Begitupula kami. Masyaallah.. IApun menjatuhkan pilihan yang dipilihkan oleh Omnya. Mahira begitu bersemangat menenteng hasil buruannya hari ini dengan wajah yang begitu happy. 

Menjelang sholat magrib kami pergi ke Masjid dan berbelanja di supermarket. Banyak hal yang Mahira tunjukkan. Namun yang saya sampaikan adalah kami bermain hide and shake. Kami suka sekali mengunakan etalase pakaian untuk bersembunyi dan saling mencari. Kegiatan ini begitu seru. Sambil menemani Om berbelanja baju kerja, saya mengkondisikan Mahira untuk tetap berbinar dan happy barangkali agenda hari ini begitu membuatnya bosan. Namun alhamdulillah, ia begitu semangat melakukan banyak hal. Bahkan mencoba menyebutkan berbagai macam wearing dan mencoba beberapa hal serta berpose layaknya endorse. Masyaallah...

Hari ini saya cukup lelah karena banyak agenda dan menemani keaktifannya dalam segala hal. Semoga Allah ridho dan terus menjaga kesehatan kami semua serta membuat Mahira tumbuh menjadi anak yang cerdas, sholiha dengan penuh potensi bahasa bakat yang positif. Amin.

Note:
  • Agenda terencana
  • Melibatkan Mahira dengan berbagai kegiatan dan mengobservasi potensi kekuatan bakatnya.
  • Bahasa bakat hasil observasi: Achiever, Adaptability, Belief,Command, Communication, Deliberative.
Keterangan potensi kekuatan anak: 
  1. Achiever,
  2. Adaptability, 
  3. Belief,
  4. Command,
  5. Communication, 
  6. Deliberative.



#Day03
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

March 29, 2019

Day 02- Mahira with her imagination being rider

Day 02-Mahira with her imagination being rider

Masuk hari kedua, Mahira sebetulnya sudah ada kegiatan terencana. Baik dengan Ayah dan juga dengan Ibu.

Namun saat kami berkumpul, Mahira dengan spontan menunjukkan ide atas imajinya yang cukup menarik perhatian kami semua. 

Ia dengan aktif dan penuh semangat menyusun bantal yang berada diatas bed menjadi sebuah motor. Saat sudah jadi dengan cekatan ia menaiki dan berperan seolah mengendarai motor dengan serius. 
Sesekali ia mengeluarkan bunyi motor dengan begitu miripnya.

Brrrrrrrmmmm
Brmmmmm....

"Ayooo Ibu naik sini,bonceng Mahiya." Tawarnya sedikit memaksa.

Kemudian karena sempit, ia meminta saya untuk mengambil boneka pemberian ontynya di lemari. Namanya Bobby. Akhirnya Bobby menggantikan saya sebagai penumpang di motornya tersebut. Dalam imajinya Bobby masih baby, sehingga ia begitu hati-hati memperlakukan Bobby.

"Bobby gendong Kakak ya?"
"Bobby mau beli apa?"
"Bobby ayo kita beli buku ya?"

Begitu sepenggal percakapan Mahira dengan Bobby, menjadi rider tanpa helmet iapun meminta helm berulang kali. Namun saya memberikannya dengan pura-pura, imajinyapun menangkap dengan baik sikap saya. Bahkan saat membeli buku, ia mampu berperan menjadi penjual, pembeli dan juga kakaknya Bobby. 

Kami terpukau dengan caranya berkomunikasi, memainkan beberapa peran dengan baik dan sungguh-sungguh. Ia begitu suka melayani dan mendahulukan oranglain. Aktif dan selalu mengerjakan apa saja, ia begitu bersemangat dalam menyampaikan idenya agar mudah dipahami oleh orang lain. 

Sikapnya yang spontan ini menjadi catatan tersendiri yang yang mengalahkan kegiatan lain yang sudah saya rencanakan. Masyaallah, kami sangat bersyukur dengan kemampuannya menuangan ide dari hasil imajinya. Barakallahu fik Mahira Sholiha.

Notes:
  • Ide bermain: Mahira
  • Alat yang digunakan: bantal, boneka
  • Bahasa bakat hasil observasi: Achiever, Belief, Communication, Ideation.
Keterangan potensi kekuatan anak: 
1. Achiever: Anak memiliki stamina yang tinggi, tidak pernah capek, selalu bekerja keras. Aktif dan selalu mengerjakan apa saja.
2. Belief: Anak suka sekali melayani dan mendahulukan orang lain.
3. Communication: Anak suka menyampaikan idenya, pikirannya dengan cara yang mudah dipahami orang lain.
4. Ideation: Anak selalu memiliki ide-ide baru






#Day02
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Lanjut Baca yuk.. >>>

March 28, 2019

Day 01- Mahira with Animal Flash Cards

Bismillah…

Alhamdulillah.. Libur semester telah usai. Setelah bergelut dengan adaptasi ritme baru pasca moving, kami sangat senang bisa kembali menerima materi baru dari kelas Bunda Sayang. Materi pada game level 7 kali ini yaitu Semua Anak Adalah Bintang.

Tantangan kali ini cukup unik, jika tantangan sebelumnya begitu spesifik pada tema tertentu namun tantangan game level ini. Home Educator yaitu kami sebagai orangtua dituntut untuk mengobservasi kemampuan anak dalam 4 ranah.

Ranah tersebut adalah Ranah hubungan inter personal, Ranah hubungan dengan sesama, ranah hubungan dengan change factor dan ranah hubungan dengan Tuhan atau spiritual.

Keempat ranah tersebut pada dasarnya saling berkaitan erat, namun tugas kali ini cukup menarik. Karena setelah kita mengamati aktivitas anak yang membuat matanya berbinar-binar dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga temukan dan catat kekuatan anak-anak dalam aktivitas tersebut.Dan finalnya kita kemas dengan membuat proyek terkait kegiatan yang membuatnya berbinar.
So untuk mengawali tantangan kali ini, saya mengajak Mahira anak saya untuk melakukan sebuah permainan seru.

Day 01- Animal Flash Cards

Mahira berpikir saat melihat saya menjejer flash card animalnya di lantai. Dia bertanya untuk apa? Saat saya memberikan aturan permainannya, ia mendengarkan dengan baik. Ia menyimak apa yang saya sampaikan dan duduk pada tempat yang di sepakati. 

"Jadi Ibu minta Mahira mendengarkan Ibu cerita, nanti saat hewan yang Ibu ceritakan disebut Mahira ambil gambar hewannya ya?" 

"Iya Ibu, Oke." Jawabnya begitu penuh semangat.

Saat permainan berlangsung, ia begitu berhati - hati melangkahkan kakinya, mencari hewan yang dimaksud dan mengambilnya. Ekspresinya begitu happy, tiap mimiknya berbeda mewakili bagaimana cerita yang saya buat. Masyaallah.

Mahira juga mengikuti saat saya mengucapkan hewan tersebut dengan bahasa Inggris, sehingga dalam permainan kali ini ia juga belajar memperbanyak kosa katanya dalam bahasa Inggris. Kemudian saya juga menanyakan secara spontan, "Siapa yang menciptakan Kuda ya?" 

"Allah" Jawab Mahira.

Iyapun dengan spontan mengecup gambar Kuda yang dipegangnya, katanya Mahira sayang ciptaan Allah. Mahira sayang Ibu juga. Masyaallah.
Seketika saya semakin antusias memikirkan jalan cerita dalam permainan ini agar lebih seru lagi hingga ia mau berhenti saat Omnya datang dari luar kota.

Note:
  • Ide bermain: Ibu Mahira
  • Alat yang digunakan: animal flash cards, nampan (sebagai wadah animal yang berhasil dikumpulkan)
  • Cara bermain: Ibu atau ayah memberikan aturan bermain, menyebutkan keseluruhan nama hewan sambil menata di lantai, menceritakan sebuah cerita berantai dengan menggunakan hewan yang ada di flash cards, anak memungut hewan yang disebutkan dalam sebuah cerita, kembangkan berbagai ide dengan menyampaikan informasi/pengetahuan lain sekaligus pertanyaan sebagai sikap komunikatif, ajak anak bermain dengan seru dan amati potensi kekuatan anak.
  • Bahasa bakat hasil observasi: Achiever, Belief, Communication, Ideation.
Keterangan potensi kekuatan anak: 

  1. Achiever,
  2. Belief, 
  3. Communication, 
  4. Ideation.

Tujuan permainan:
1. Anak berlatih untuk berkonsentrasi mendengarkan perintah/cara/ aturan
2. Anak berlatih gambar yang dimaksud oleh orang lain
3. Anak mengenal ciptaan Allah selain manusia dll



Dari berbagai tujuan tersebut, muncul berbagai sikap yang menjadi catatan saya dalam kegiatan kali ini. Saya coba mengemasnya hasil observasi tersebut dalam jurnal yang sudah disediakan oleh Tim Fasilitator Bunsay.




#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>