Showing posts with label ODOP. Show all posts
Showing posts with label ODOP. Show all posts

October 31, 2018

For Admin ODOP with LOP (Tantangan Terakhir)





Alhamdulillah…

Tidak terasa sudah 2 bulan lamanya saya mengikuti ODOP (One Day One Posting). Komunitas yang membuat saya awalnya merasa begitu dipaksa untuk menulis, namun saya suka. Suka karena saya dipaksa untuk memiliki habit yang baik yaitu menulis. Hehe..

Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan dalam surat cinta kali ini. Namun lebih tepatnya ke review dan merekomendasikan ODOP. Haha…

Suhu Komunitas
Para Admin ODOP saya tahu usianya muda-muda, haha… Mereka begitu fresh, semangat, aktif, konsisten dan loyalitasnya begitu tinggi. Sehingga saat saya masuk, suhu komunitasnya sangat terasa. Terasa seperti stand makanan di area kondangan: rame, hangat dan kenyang.

Sistem
Sejak proses pendaftaran ODOP yang saya temukan di feed ID ODOP, saya merasa cukup tertarik karena saat mengisi Gform registrasi, calon peserta harus menyertakan link tulisan dalam blognya. Kemudian tentunya diseleksi oleh tim. Saat pengumuman diterimanya di ODOP ada rasa gemuruh tapi dihadapi saja.

Kami dikumpulkan dalam wadah yaitu WAG ODOP Batch 6. Total peserta yang diterima dibagi menjadi beberapa kelompok dan dimasukkan dalam WAG kecil yang diberi nama unik.  Dalam proses pelaksanaan kegiatan di ODOP, tim menyediakan tiga WAG sebagai wadah kami berdiskusi dengan seluruh member (WAG ODOP Batch 6), berdiskusi dengan anggota kelompok (WAG Pulau Buru, dll), dan juga WAG Share Link (tempat khusus setor link).

Kami memiliki jadwal dari Senin-Jumat dengan materi yang sudah disiapkan tim. Dari Sejarah Komunitas ODOP, Teknis Blogging, Personal Branding, Konsistensi Menulis, Kesalahan penulis pemula, menulis dialog, menulis feature, menulis fiksi komedi, menulis biografi, menulis puisi dan lain-lainnya. Jadwal materi dalam satu pekan ada materi fiksi dan non fiksi di WAG Grup ODOP batch 6 dan Jadwal Blog Walking serta Bedah Karya di WAG Pulau. Terkadang ada kulwap dengan materi seru di grup besar ODOP.

Masuk menjadi salah satu penghuni Pulau Buru adalah rizki apalagi salah satu PJnya bisa saya lihat langsung tidak hanya di dunia maya saja. Haha… Admin atau PJ tersebut adalah Kak Saki, Ka Ilham dan Kak Herrisa. Saya suka system di ODOP, bijaksana dan tegas. Terkait batas waktu menulis, kami diberi kesempatan untuk rapel namun jika kesempatan itu tidak digunakan ya siap-siap saja akan di keluarkan.

Batas waktu itu kita kenal dengan Senin bersih-bersih, karena setiap hari Senin admin kami yang bernama Kak Saki bersih-bersih (meremove peserta yang tidak setor berturut-turut dan juga tidak rapel hingga batas yang ditentukan) masyaallah.

Mengenai bedah tulisan Kak Herrisa juga memulainya dengan jadwal yang teratur, mengshare jadwal Blog Walking. Walaupun di bagian akhir dia sempat tidak terlihat mungkin karena sibuk. Namun overall saya merasa nyaman saja di pulau buru, saya banyak mendapat ilmu, teman dan pengalaman. PJ Pulau buru sudah membawa kami dalam petualangan yang mungkin tak terlupakan. Banyak waktu, tenaga, biaya yang sudah mereka ikhlaskan untuk niat berbagi, niat mendiddik kami agar memiliki habit menulis yang baik. Semoga rahmat Allah selalu terlimpah untuk kalian semua.

Dear Admin ODOP yang di Rahmati Allah… 

Atas semua kerjakeras dan ketulusan hati kalian dalam berkontribusi terhadap kelangsungan ODOP. Izinkan saya memberi hadiah special untuk kalian, yaitu Doa.

Semoga Allah senantiasa limpahkan rizkinya dari segala penjuru kepada kalian. Berupa kesehatan, keselamatan, keamanan, perlindungan, rasa bahagia, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan. Semoga yang sudah menikah selalu dalam payung sakinah hingga Jannah bersama pasangan. Semoga yang belum menikah segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik menurutNya. Semoga semua amal kalian juga Allah ridhoi hingga terus bertumbuh menjadi pribadi yang loyal, inspiring, semangat dan terus menebar manfaat. Amin.

Dear Admin ODOP yang di Rahmati Allah…

Terimakasih banyak atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berpetualang dalam Pulau Buru. Mohon dimaafkan jika sebagai peserta saya ada salah. Semoga semua yang kita lakukan diridhoi Allah. Amiin
With Smile,
Akmala

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 28, 2018

He is my inspiration









#Day06
#Sosok Inspirator

"Ning pingin urip selamet dunia akhiroh, kudu patuh aturane gusti Allah lan dadio wong sing jujur."
_Mahrus Chambali

Challenge Rumbel LM memasuki Day ke #6, tema kali ini mengenai Sosok Inspirator. Inspirator adalah orang yang perkataannya, tindakannya maupun tulisannya bisa menginspirasi banyak orang. Karena sifatnya indirect, inspirator itu tanpa banyak bicara, mampu membuat orang lain terdorong lalu bergerak dengan motivasi yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Jika aku menyebutkan sosok tersebut, ada beberapa orang yang menjadi bagian dalam hidupku dan berperan sebagai sosok inspirator. Saat aku kecil, sosok inspiratorku adalah Mbah Kakung ku, beliau adalah Ayah dari Mamaku, ia berperan menjadi rule modelku. Sosok yang supel, ceria, humoris, sedikit jahil, sangat baik hati, laki-laki yang pandai memasak, sosok kakek yang pandai ber-DIY, pemberani, sosok yang memiliki jiwa leader yang kuat, karena pemikirannya yang cerdas ia sering kali dimintai solusi dan nasihat, buku bacaan mbah Kakung juga banyak, ia sangat suka membaca.

Kedekatan kami mungkin karena sejak bayi aku terbiasa hidup dengan Mbah Kakung dan Mbah Putriku. Aku tumbuh dalam pola asuh tiga generasi. Yang menjadikan Mbah Kakungku seperti ayah kedua bagiku.  Beliau dulu adalah seorang Carik di desa dan juga petani. Mbah juga aktif sebagai anggota sebuah partai politik yang bergambar kabah itu, saat sepak terjangnya hingga menaiki tangga DPR. Beliau dikhianati iparnya sendiri, sehingga semua jabatan yang sudah diraihnya ia lepas dan memilih menjadi seorang petani.

Mbah bilang kepada Papaku, semua pekerjaan hanya mengantarkan kita pada dosa jika kita lalai dan tidak berhati-hati. Sekalipun niat kita baik, syaitan dengan mudah membelokkannya dan menjadikan kita bagian dari dirinya. Ning pingin urip selamet dunia akhiroh, kudu patuh aturane gusti Allah lan dadio wong sing jujur. Saat aku memasuki usia remaja, Papa memfoward nasihat Mbah Kung kepadaku.

Ada banyak hal yang masih ku ingat jelas, setiap habis mengimami sholat subuh di masjid yang didirikan keluarga besar Mbah Kakung, mbah biasanya tadarus Quran, kemudian membantu mbah putri untuk masak. Mbah akan ke sawah jika pekerjaan istrinya sudah selesai. Di sawah mbah sangat all out terhadap semua padinya, di kebun mbah juga sangat all out terhadap semua tanaman kebunnya. Jika ke sawah atau kebun, Mbah jarang menggunakan alas kaki. Ia Pria pertama yang ku kenal sebagai pria tak takut kuman.

Mbah Kakung khas sekali dengan topi coboynya yang berwarna hitam. Parasnya yang tampan, giginya putih dan rapi, hidungnya tinggi dengan paduan alis dan mata yang bagus membuat Mbah pantas jika menjadi aktor terkenal. Mbah suka sekali membaca, beberapa kitab yang aku tidak tahu cara membacanya karena tulisannya arab gundul. Mbah Kakungku memang lulusan Gontor, membaca buku atau belajar sekalipun sudah lulus menjadi habit yang tidak terlupa di sela-sela kesibukannya.
Saat hendak mengisi khutbah sholat Jumat, mbah selalu berlatih terlebih dahulu dihari sebelumnya, bahkan mempersiapkan teksnya untuk latihan. Entah kenapa hal itu menjadi inspirasi untukku. Ia sangat all out disemua hal. Masyaallah..

Kegemarannya dalam membaca buku sangat senada dengan kegemaran Papaku, mereka adalah sosok Bapak Mertua dan menantu yang kompak. Namun aku memosisikan Papa lebih kepada motivatorku. Sehingga keberadaan mereka sangat membentukku hingga memiliki kegemaran di bidang literasi, tidak hanya membaca aku juga suka menulis.

Aku berharap, suatu saat baik ucapan, tindakan dan tulisanku dapat menjadi inspirator keturunanku atau setidaknya aku dapat berperan sebagaimana keberadaan Mbah Kakung dan Papa dalam hidupku.

#RumbelLM
#10dayschallenge
#wanitadanpena
#ODOP_6
#onedayonepost
#odopbatch6



Lanjut Baca yuk.. >>>

Tantangan ODOP 7



Aku sudah menyelam begitu dalam
Nafas ku sudah berirama dalam air asin
Nampaknya aku bisa menghuni lautan
Membiru disana bersama karang
Tak ku dapati ombak berempati terhadap papan yang terapung tak pasti
Hempas hingga hancur kemudian menepi

            Aku sudah menyelam begitu dalam
            Hingga aku sulit melihat bintang malam
            Nampaknya aku sudah bisa menghuni samudera
            Berpalung jauh di bawah bahtera
            Tak ku dapati Hiu baik hati yang saat lapar Ia urung diri
            Mencabik waktu membiarkan mangsa melenggang senang
            Hidup terus bergelut rasa takut

Aku sudah menyelam begitu dalam
Hingga Alga berderet, sangat  jauh di atas kepala
Tentu  aku sudah jauh dari muara
Berharap sungai tak mungkin lagi tercapai
Tak ku dapati gurita manja yang enggan melepas tinta saat terusik
Sekalipun teriak berisik, warna laut tak akan lagi cantik
Aku tenggelam...

Sedalam apa kalian pernah merasa tenggelam? Tenggelam dalam kecewa yang begitu hebatnya, kemudian seolah tidak ada pilihan selain menyerah dan kalah.

Bagaimana kisah kecewa dalam puisi ini? kekecewaan seperti apa yang membuat kita seolah menyerah dan kalah? Temukan jawabannya dalam buku BE A NEW ME. :)



#TantanganODOP7
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 26, 2018

Daftar Belanja keperluan Dapur


#Day05
#Dapur

“Pah.. minyak goreng habis.” Ucap Mamaku saat Papaku membersihkan sink agar nampak selalu baru.

Papa bisa menghabiskan satu botol harpic dengan lima kali oles dengan durasi kurang lebih dua jam pada sink dapur agar nampak seperti baru. Bagiku ini salah satu romantisme yang istimewa. Namun rupanya Mama tidak terlalu suka karena aktivitasnya bertemu sink menjadi terganggu apalagi dengan aroma perpaduan HCL, Oxalid Acid dan NaOH yang bikin pusing itu.

“Apa saja yang habis?” tanya Papaku.

Kemudian biasanya Mama menyuruhku mencatat daftar belanjaan yang entah kenapa bisa panjang padahal hanya mengatakan jika minyak goreng saja yang habis. Aku baru memahami jika Papa adalah orang yang luar biasa dalam memberikan feedback dari kode yang Mama berikan.

Minyak Goreng
Gula ¼ kg (2 bungkus)
Telor 1 Kg
Mie Goreng
Mie Rebus
Kecap
Sauce
Teh
dll

Aku biasanya menuliskan dengan malas jadi tulisanku asal. Namun ketika aku memberikan daftar tersebut ke Papa. Papa mengoreksi penulisanku, tidak hanya penulisan huruf ‘G’ ku yang tidak rapi hingga sulit terbaca. Namun penulisan angka ‘4’ hingga huruf kapital M pun tak luput ia koreksi. Begitulah Papaku, beliau sangat detail.

“Ini nulis asal apa gimana? ‘G’ kok kayak angka enam!” Koreksi Papa terhadapku.

Sejak saat itu aku selalu berhati-hati menulis untuk dibaca Papa, bahkan menuliskan daftar belanjaan untuk dapur aku begitu serius. Poin ini masih menjadi PR untuk aku dalam menulis agar bisa lebih rapi. Beruntung dengan adanya gadget, aku dapat mengetik daftar belanjaan dapur pada notes. Seperti tertolong dari tulisanku yang tidak bisa rapi sampai kapanpun.

Entah kapan terakhir kali aku menulis daftar belanjaan dapur, kadang aku rindu hal itu. Pernah minggu lalu aku mengadakan peruntungan untukku. Kebetulan aaku masih di rumah mereka. Biasanya setiap Papa mau pergi, ia memberi tawaran, mau titip apa? Maka aku membuat daftar belanjaanku di dalam kertas. Tentunya dengan rapi dan hati-hati. Sayangnya, bukan mendapat koreksi lagi namun dengan cepat Papa memfoto daftar belanjaan tersebut dan mengubahnya menjadi bentuk JPEG. 

Kemudian ia membacanya satu-persatu, saat itu sesuai Papa langsung berangkat. Rasanya teknologi sudah membuatnya tidak mempermasalahkan lagi huruf-huruf yang aku tulis. Ada sedikit rasa lega ternyata koreksinya saat dulu kala begitu membekas hingga membuatku tak sadar dapat menulis dengan rapi.



#Wanitadanpena
#10dayschallenge
#RumbelLM
#onedayonepost
#ODOP_6
#odopbatch6 



Lanjut Baca yuk.. >>>

October 25, 2018

Portofolio yang kusuka





#Day04
#Portofolio

Jauh sebelum aku mengenal IIP, aku terbiasa dengan buku agenda. Papaku selalu membelikaku buku agenda ataupun diary muslimah yang sesuai dengan kesukaanku. Namun terkadang aku  hanya mengkoleksinya saja, aku biarkan buku pemberian Papa tetap kosong karena ada rasa sayang jika buku bagus tersebut harus aku coret-coret. Aku suka sekali menulis dengan blocknote ataupun di whiteboard kecil. Dua benda ini sangat memudahkanku untuk mengatur kegiatanku sedari aku kuliah.

Bukan portofolio yang rapi dan enak untuk dibaca, hanya berisi to do list harian dan catatan yang mungkin akan terlihat acak-acakan. Tapi memang begitulah tulisan tanganku, tak pernah bisa bagus. Aku menamai block noteku itu sebagai portofolio, karena buku itu dapat membantuku untuk mengingat kembali apa saja yang sudah aku lakukan setiap harinya. Deretan aktivitas perharinya dapat dilihat dari buku tersebut. Ini seperti repertoar yang sangat membantuku untuk tampil aktif dan produktif.

Seiring berjalannya waktu, aku terispirasi akun story of my life di FB. Dimana ia dan suaminya membuat portofolio perkembangan anaknya lewat FB kemudian sejak kemunculan IG, mereka juga membuatnya di IG. Aku mengikuti perkembangan Elia dari baby hingga dua adiknya lahir ke dunia. Kemasan videonya yang apik hingga sangat inspiring. Awalnya aku membuat IG untuk Mahira sebagi portofolio perkembangannya, dari sejak ia lahir kedunia. Sebelumnya aku juga membuat jurnal kehamilan yang aku tuliskan general setiap bulan.

Saat aku mencoba compare dua hal ini, entah kenapa aku lebih nyaman menuliskannya. Merangkai kata demi kata dalam buku menggunakan pena, dari pada aku harus mengunggah foto dan video ke IG. Apalagi semakin hari banyak request permintaan dari temanku yang penasaran dengan sosok Mahira.

“Bagaimana jika perkembangan Mahira cukup tersimpan dihardisk saja?” Tidak perlu dengan IG khusus? maka IG Mahira langsung aku hapus. Aku dan suamiku sudah sepakat dari awal sebelum Mahira lahir,  bahwa wajah Mahira adalah haknya, kami tidak pernah tahu di masa depan dia akan setuju atau tidak saat kami mengunggah ini dan itu. Tugas kami berusaha menjaga hak tersebut. Maka ada batasan kami sejak awal, bahwa kami punya sudut tersendiri dalam melakukan posting mengenai dirinya.

Akhirnya aku bertemu IIP dan membuatku mengaktifkan kembali jurnalku, kemudian aku bergabung dengan Rumbel Literasi Media, hingga Blog yang tadinya kosong kini mulai terisi kembali. Kelas Bunda Sayang yang aku ikuti, membuatku semangat untuk menuliskan portofolio Mahira dari materi awal komunikasi produktif, melatih kemandirian dan ini masuk materi ketika di November mendatang, sekalipun hampir tidak ada foto disana. Namun aku sudah menyampaikannya dengan narasi yang mewakili kejadian hari itu. 

Ini portofolio yang pas menurutku. Aku bisa tetap menuliskan dan terhubung dengan media social tanpa harus mengunggah foto atau video. Aku berharap, kelak Mahira mau membacanya kembali dan koreksi bersama diksiku yang mungkin tidak cocok menurutnya. Blog ini aku beri nama Dapur Kata Ibu Mahira, karena di dalam blog ini aku belajar meramu kata, berusaha memenuhi portofolio Mahira dengan cara yang aku suka.

#Wanitadanpena
#10dayschallenge
#RumbelLM
#onedayonepost
#ODOP_6
#odopbatch6  



Lanjut Baca yuk.. >>>

October 24, 2018

Insinyur pertama di desanya




#Day03
#Cita-cita

Saat itu aku dan adik-adikku sedang berkumpul di kamar  orangtuaku, tentunya sesak karena ukuran kami sudah membesar dan meninggi. Papa dan Mama juga berada disana, tak jarang kami habiskan waktu bersama sekedar saling bertukar cerita ataupun berdiskusi. Kali ini kami mendengarkan cerita masa muda mereka dahulu. Mengenai sebuah cita-cita.

Papa menceritakan mengenai cita-citanya yang terinspirasi oleh presiden pertama Republik Indonesia, yaitu Ir. Sukarno. Ada rasa yang sama yaitu keingininan tersemat kata Ir (Insinyur) di depan namanya. Karena cita-citanya tersebut Papa sangat semangat belajar dan harus pandai Matematika. Masa SDnya ia selalu menjadi juara kelas, hanya ada 10 siswa di kelasnya saat itu dan hanya 2 siswa yang berhasil lulus dari SD termasuk Papaku. Nilai Matematikanya selalu 10, nilai yang sempurna.

Setelah lulus SD Papa melanjutkan sekolah di ST (Sekolah Teknik) dan menjadi ketua OSIS disana, kemudian Papa berhenti 1 tahun dan bekerja mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk biaya melanjutkan sekolah STM. Saat STM Papa juga menjabat sebagai ketua OSIS. Aktif di organisasi memberi banyak dampak positif untuk belajar bagaimana menjadi leader. Lulus dari ST Papa sekolah di salah satu STM di Jakarta sambil bekerja.

Saat semua terasa melelahkan karena ia harus membagi waktu antara belajar dan bekerja, Papa teringat cita-citanya tersebut. Aku ingin menjadi Insinyur! Maka sekalipun dana yang simbah berikan tidak sampai ke tangan Papa untuk biaya sekolah, Papa ikhlas dan tidak ingin meributkan mengenai haknya yang diambil orang lain. Dengan semangat cita-cita sebagai seorang Insinyur, Papa berhasil melanjutkan kuliah. Pun dengan banyak kendala saat kuliah Papa lebih cenderung sibuk dengan pekerjaan, hingga akhirnya kuliah tersebut dapat diselesaikan setelah aku dan adik laki-lakiku lahir.  

Ada banyak delman bejejer di Gedung besar nan terkenal di Jakarta, aku lupa nama gedungnya. Wisuda dengan suasana khas seperti di film Si Doel anak Betawi. Mama membelikan adekku ubi goreng dari penjual yang ada di depan Gedung, setelah kami selesai berfoto disebuah background khas para wisudawan. Karangan bunga banyak berjejer disana, tak satupun nama yang tertuju untuk Papaku.

Aku mencari huruf M, namun tidak ada. Sekalipun tidak ada karangan bunga ucapan selamat untuk Papa, aku melihat wajah Papa begitu bahagia, dengan stelan jas hitamnya ia berjalan keluar gedung melepas toganya dan menggandengku keluar gedung. Dibiarkannya Akmala kecil memegang piagam kenang-kenangan, dalam hatiku terbersit rasa ingin wisuda dan kelak Papa Mama hadir dalam wisudaku. Itulah cita-cita pertama kali yang muncul dalam benakku.

Cita-citaku sudah tercapai, aku berhasil membuat Mama dan Papa duduk diurutan terdepan, betapa bahagianya seorang Akmala yang tengah wisuda dan dihadiri oleh salah seorang anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dengan dedikasinya untuk Indonesia dibidang yang Papa geluti hingga lebih dari 32 tahun. Papa adalah Insinyur pertama di desanya, kisah ia meraih cita-cita tidak pernah akan terlupa karena menjadi cerita yang menyuntikkan aku semangat menjalani  peranku saat ini.

“Pah.. alhamdulillah kita impas. Papa sudah temani aku wisuda.” Ucapku seraya aku memeluknya.







Note: Sebelum tahun 90-an semua sarjana teknik yang lulus program strata satu sudah otomatis bergelar insinyur (Ir), namun setelah itu semua lulusan dari strata satu teknik berubah gelar menjadi Sarjana Teknik (ST) karena program insinyur berubah menjadi program profesi yang harus di tempuh diluar perkuliahan.

#wanitadanpena
#10dayschallenge
#RumbelLM
#ODOP_6
#onedayonepost
#odopbatch6

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 23, 2018

Curahan Hati Supir Grabcar.








#Day02
#CurahanHati
Waktu itu suamiku terburu mengejar shaf pertama untuk salat Jumat, ia meninggalkan gawainya di atas bed. Padahal pukul 13.00 aku harus sudah berangkat ke Kebayoran Baru untuk menghadiri sebuah acara kersajama sebangsa dengan 1001buku. Sebelum ia berangkat, ia berpesan jika tidak perlu menunggunya pulang. Berangkatlah lebih awal agar tidak terlambat. Bismillah.. Akupun akhirnya berangkat dengan menggunakan grabcar.

Baru beberapa saat aku tekan booking, layer gawaiku sudah menunjukan keterangan found your driver. Saat aku lihat dalam track, dua menit lagi mobil sampai. Aku terburu menggunakan hipseat, Mahira mengambil sepatu dan kaos kakiku tepat di sampingku. Ia seperti tahu, ibunya sedang terburu.

“Masyaallah..” ucapku menatapnya.

Mahira memberikan senyumnya dengan tulus sambil berkata,

“Ibuk! Atuuuu ibu.” (Ibu, sepatu Ibu.)

“Iya sayang.. terimakasih yaa …” balasku dan terburu mengecupnya.

Kamipun berjalan keluar, mobil  sudah menunggu di depan.

Hari itu entah keberapa kalinya aku menggunakan jasa grabcar. Dari sekian curahan hati yang aku dengar, rasanya curahan hati kali ini membuatku lebih memahami sudut pandang laki-laki. Mungkin akan menjadi aib yang tidak ingin aku dengar, tapi hari itu si bapak supir grabcar nampak sedang sangat putus asa.

“Mbak mau ke Kebayoran?” tanyanya mengawali percakapan.

“Iya Pak betul.” Jawabku singkat

Saat itu aku sedang mengkondisikan Mahira untuk membaca doa menaiki kendaraan, dilanjut mengirim pesan ke suamiku. Jika aku sudah berangkat dengan mobil merk X, bewarna X dan berplat nomor X. Aku meminta doa agar perjalanan kami lancer, sehat, selamat.

“Apa mbaknya terburu?”

“Acara saya jam dua pak, lebih baik menunggu dari pada terlambat.” Jelasku

“Iya..ini mbak paham jalannya nggak?”

“Ini perjalanan pertama saya ke tempat tujuan, jadi ikuti arahan map saja pak.” Perintah saya.

Bapaknya ragu dan menyarankan aku untuk membaca map. Ia juga meminta untuk masuk tol karena takut terlambat.  Aku menyetujuinya saja.

“Ada e-toll mbak?” tanyanya.

“Iya ada pak, sebentar.”  Jawabku sambil mencari e-toll di dalam dompet yang lebih mirip tempat pensil itu.

“Ini Pak.”

Ia menerimanya dan melanjutkan pembicaraan seputar perkembangan kota, merambat ingin tahu acara apa yang saya kunjungi. Saya menjawab dengan terbatas, menjaga batasan kami untuk bertukar informasi lebih dalam. Namun bapaknya tiba-tiba bilang,

“Bagaimana agar istri saya seperti mbak ya? Hadir dalam acara-acara yang bermanfaat dan enak diajak berdiskusi?”

Dalam hati aku beristigfar, kiranya ada yang salah dengan jawabanku tadi hingga menimbulkan asumsi dan harus mengcompare kegiatan istrinya dengan kegiatanku. Aku terdiam dan bapaknya terus bercerita hingga akhirnya aku tahu dalam posisi apa dirinya saat ini.

“Saya memang pernah selingkuh, itu karena saya nggak tahan dengan sikap istri saya yang suka ngomel-ngomel. Semacam cari pelarian saja mbak. Saya tahu itu salah dan dosa. Bahkan sudah sujud dan minta maaf ke istri saya, saya minta mengulang dari awal tapi dia tetap marah sama saya dan sekarang gentian dia sepertinya lagi dekat sama laki-laki.” Jelasnya dengan sesekali mengelap peluhnya.

“Iya pak.. bapak tentu tahu itu salah. Sebelum melakukan kenapa tidak bapak pikirkan. Ibu mungkin masih sakit hatinya dan dia memilih membalas dengan cara yang sama. Apa bapak sudah komunikasikan dengan baik?”

“Sudah mbak, sudah. Pendapatan dia lebih banyak dari saya. Jadi saya semakin di injak-injak harga dirinya. Tapi saya sudah bicara, sudah meminta maaf. Bagaimana ini mbak? Saya sangat takut kehilangan dia mbak. Setiap hari dia facebook-an terus, chat entah sama siapa. Saya benar-benar tertekan dengan sikapnya.” Bapak itu seperti menahan tangisnya yang hampir tumpah.

Singkat cerita, ia sudah bertaubat dan ingin membina rumah tangga seperti dulu lagi. Namun istrinya begitu sulit untuk diajak hijrah. Sempat aku diperlihatkan fotonya, sosok yang cantik dengan rambut berwarna. Perawakannya pun bagus, jelas seorang wanita yang menjaga penampilan.

“Istri bapak bekerja dimana?” tanyaku.

“Salon mbak.”

“Ya pak, mungkin teman sangat berpengaruh terhadap kepribadian kita. Bisa jadi lingkungannya yang membentuk Ibu menjadi pribadi yang demikian.”

“Saya gagal menjadi suami mbak..” ucapnya seraya mengelap airmata yang aku lihat jatuh di sudut matanya.

Kemudian ia meminta saran dariku. Seorang yang baru menjalani rumah tangga dan masih baru. Aku mengutarakan itu, namun si bapak bilang..

“Saya sudah curhat sama mbak, beri saya nasihat mbak agar hati saya tidak bimbang lagi mengambil keputusan.” Tatapan matanya kosong, sampai dia tidak menyadari lampu traffic sudah hijau.

“Pak.. saya tidak punya kapasitas dalam memberi masukan ke istri bapak ataupun rumah tangga bapak. Saran saya temuilah orang yang bisa menjawab permasalahan bapak. Bukan maksud menggurui juga, bagaimana hubungan bapak terhadap Sang Pencipta? Apakah bapak sudah maksimal dalam berdoa? Meminta bantuanNya?” Jawabku kala itu.

Bapak tersebut termenung dan menatap jalanan dengan gerak tubuh yang penuh isyarat jika ia sudah begitu menyerah. Ia berkali-kali ingin menyudahi pernikahannya namun ia begitu mencintai istrinya dan menyesali semua perbuatannya.

Curahan hati yang mampir ke telingaku hari ini, tentu sudah sedemikian rapi Allah persiapkan untuk aku dengar. Allah perkenalkan aku pada sebuah masalah yang terlihat begitu mengerikan dimataku, namun aku mencoba merapa maksudNya. Bahwa Allah sedang melengkapi daftar pengalamanku, membuat aku harus semakin baik berperan sebagai istri dan menyikapi suatu masalah dengan melibatkan Allah.

Saat tiba dirumah aku bercerita kepada suamiku, bagaimana aku melewati hari dengan mendengarkan curahan hati. Suamiku berpesan: “Seberat apapun masalah yang kita hadapi nanti, jangan membalas luka dengan luka, karena setiap gelas yang sudah pecah tidak bisa diperbaiki lagi. Tugas kita terhadap pasangan kita adalah seperti menjaga sebuah gelas. Jangan sampai retak atau pecah, agar ia dapat berfungsi dengan baik.”
Hari itu aku mendapat banyak pelajaran , salah satunya bagaimana memahami sudut pandang laki-laki melalui sebuah curahan hati.

#wanitadanpena
#10daychallange
#RumbelLM
#onedayonepost
#ODOP_6
#odopbatch6


Lanjut Baca yuk.. >>>

October 22, 2018

On Lesson Learned with Grandmother




#Day01
#MasaKecil

Memutar sedikit memori, banyak hal yang masih teringat dengan jelas bagaimana masa kecilku dulu. Entah bagaimana aku bisa mengingatnya dengan jelas, padahal usiaku saat itu belum ada lima tahun. Tumbuh dalam kasih sayang Mama dan Papa lengkap dengan kasih sayang Simbah Putri dari Papaku, padahal aku adalah cucu ke-18 dan juga Simbah Putri dan Simbah Kakung dari Mamaku dan bagiku itu wajar karena aku adalah cucu pertama mereka.

Kali ini aku akan menceritakan masa kecilku saat bersama mbah putri dari Papaku. Sebelum menginjak bangku taman kanak-kanak, aku  menghabiskan banyak waktu bolak-balik Jakarta-Pemalang hanya untuk sekadar liburan. Terbiasa dengan perjalanan, membuatku tidak mudah mabok perjalanan dan mudah beradaptasi dengan semua alat transportasi. Setelah aku beranjak dewasa, aku sadari ini cara Papaku membiasakan aku dengan safar.

Tinggal bersama mbah putri dari Papa, aku banyak belajar dari beliau. Mbah Putri adalah panutanku dalam menjalankan ibadah. Setiap malam menjelang, bada’ Isya simbah sudah tidur pulas. Malam hari simbah menimba di sumur dan membersihkan diri, aku selalu terkesima. Iyakah tidak dingin? Namun cintanya  terhadap Allah begitu besar, setiap hendak sholat fardhu atau sunah. Mbah selalu membersihkan diri dengan mandi. Langkahnya begitu semangat bersiap menjumpai Allah dalam dzikir yang panjang hingga subuh menjelang. Terkadang suara isaknya terdengar sampai telingaku, entah apa yang mbah minta dari Allah. Namun aku yakin ada doa untukku di sana.

Mbah Putriku itu tidak pernah melewatkan dhuha, bahkan saat badannya greges sekalipun. Jangankan dhuha, ayam peliharaannya saat siang hari di cari, kemudian di pegang temboloknya, khawatir takut kelaparan. Pun dengan tanaman yang ia tanam ketela, singkong, cabe, tomat, tanahnya selalu nampak gembur dan cukup air.

Mbah selalu melibatkanku dalam semua aktivitasnya saat aku bersamanya. Misalkan saja saat mbah memungut blarak (daun kelapa kering) yang jatuh, mbah mengambil tulang daun dan ia jadikan sapu lidi. Saat mbah mengupas kelapa yang ia panen dari halaman, mbah mengumpulkan tepes (kulit kelapa), dengan tangannya mbah menyulap tepes menjadi sapu lantai.

Semua hal yang ada ditangan simbah bisa menjadi benda yang menakjubkan menurutku saat kecil dulu. Namun entah kenapa kemampuan DIY ku tidak menuruni simbah. Simbah adalah wanita yang mandiri, semua bisa ia jadikan uang. Kelapa di halaman, cabe, tomat, daun ketela bahkan sapu lidi dan sapu lantai. Mbah juga menjual bunga-bunga yang ia tanam, saat itu bunga kenanga, cempaka dan melati banyak sekali yang mencari. Terutama jika tiba waktunya nyekar.

Ada satu skill yang aku bisa ikuti dari mbah, yaitu menggeni (membuat api di pawon), aku sangat suka menggeni. Menggeni bagiku sebuah seni, keahlian yang tidak semua anak kecil bisa saat itu. sekalipun aku tidak pandai menggunakan korek api merk cap tiga duren, mbah mempunyai pemantik api yang bisa aku gunakan dengan mudah. Aku bisa belajar kesabaran hanya melalui proses menggoreng tempe, di banding zaman sekarang yang tinggal cleeekk kompor gas.

Di rumah mbah Putri, aku tahu bahwa tronggong adalah bunga turi yang bisa aku petik bebas dengan carang (bamboo kecil dan panjang) di sepanjang sungai yang letaknya beberapa ratus meter dari rumah. Mbah juga memperkenalkan aku dengan krokot, sayur yang dapat dijadikan urab yang begitu sedap. Pernah aku takjub melihat mbah memetik daun lebar, sangat lebar. Kini aku tahu jika itu adalah lompong, daun yang bisa di sayur dengan santan dan rasanya begitu enak.

Masa kecilku begitu menyenangkan, aku banyak belajar dari sosok orang-orang hebat yang membesarkan kedua orangtuaku. Belajar bagaimana caranya survive menjalani hidup, menjadi wanita yang produktif sesuai era dan kemampuannya, belajar bersabar dalam setiap proses yang kita tempuh dan mengajarkan sesuatu dengan tauladan. Semua learning itu  aku dapat dari sosok yang sangat aku sayangi seperti Ibu kedua bagiku, dia adalah mbah putriku.

A grandmother is a little bit parent, a little bit teacher, and a little bit best friend

#wanita&pena
#10dayschallange
#RumbelLM
#onedayonepost
#ODOP_6
#odopbatch6

Lanjut Baca yuk.. >>>

October 21, 2018

Perjalanan Sang Mangga






Ide Cerita: Obrolan dengan Adik
Judul Cerita: Perjalanan Sang Mangga
Jenis Tulisan: Fiksi
POV: Orang Ketiga


Beberapa orang sudah berkali-kali datang menemui pemilik rumah, dalam sehari bisa mencapai lima orang yang menanyakan perihal kami. Kamipun mencoba mendengar pembicaraan mereka. Entah kesepakatan apa yang mereka lakukan, kami hanya menerima saja.

Untuk sekian kali dalam beberapa tahun ini, kami tidak lagi masuk keranjang rotan khas pengumpul buah. Melakukan perjalanan panjang hingga akhirnya kami memiliki kemasan dan berjajar rapi saat tiba waktunya berpindah dari kardus.

Mengingat hal tersebut kami berdoa agar panen kali ini, pemilik rumah menolak tawaran para pengumpul untuk mengangkut kami di keranjang rotannya yang sudah penuh dengan tungau. Apalagi harus dipetik dengan cara yang kasar, hingga anak ranting banyak yang harus menjadi korban.

Pernah dulu kami berdesakan dalam keranjang rotan, melintasi jalanan dengan pemandangan lepas sawah yang luas. Udara segar bercampur asap knalpot yang berjarak hanya beberapa centi dari keranjang dimana kami berada.

“Kita mau dibawa kemana ya?”

“Entahlah.. Semoga kita bisa menikmati akhir hidup ini dengan menjadi buah yang bermanfaat”

“Lebih tepatnya dimanfaatkan bukan?”

“Begitulah tugas kita kawan, ayooo jangan menyerah begitu saja. Ini adalah perjalanan yang begitu menyenangkan”

“Lihat padi di sawah sana kawan! Mereka enak sekali ya.. tidak harus berdesak-desakan di keranjang sempit ini.”

“Hei!!! Jangan salah, aku pernah melihatnya di banting-banting agar bulirnya terlepas dari tangkai.”

“Betul, aku juga pernah melihatnya diinjak-injak dengan begitu kasar.”

“Itu cara tradisional kawan, sekarang sudah ada mesin combat yang memudahkan para petani mengemas padinya dalam bentuk bulir”

“Waahhhh… kasian juga ya, tidak ada kesempatan untuk tukang nyesrek untuk menemukan bulir padi lagi di tangkai, karena panen dengan mesin membuat tangkai menjadi bersih tak tersisa”

“Kemajuan teknologi membuat semua menjadi cepat, tidak lagi terlihat mengerikan dengan proses yang panjang”

“Lalu.. apa kita juga akan mengalami hal yang sama?”

Bersambung…..

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi


Lanjut Baca yuk.. >>>