Showing posts with label Gratitude Journal. Show all posts
Showing posts with label Gratitude Journal. Show all posts

October 15, 2018

Temukan Ibrah dalam setiap keadaan





DAY12-TantanganGameLevel2

Pada #Harike12 saya mengetik ini sambil sesekali melihat Mahira bermain dengan Utinya. Mendelegasikan Mahira ke Uti karena ia terbangun di jam biologis saya untuk menulis. Sebelumnya saya baru saja bertugas menjadi moderator di WAG Markas dalam acara Star of the day. Antusias audiens yang luar biasa menyebabkan saya harus membuat strategi agar sleep routine Mahira baik. Target saya ia dapat tidur sebelum pukul 20.00 dan itu artinya hari ini Mahira sikat gigi lebih gasik lagi sebelum tidur.

Rencana hanya sebuah rencana, kenyataannya Mahira tidur setelah magrib. Tertidur dalam kondisi belum makan malam dan juga belum sikat gigi. Sehingga saya begitu was-was ia akan terbangun menjelang pukul 23.00 karena lapar dan benar saja Mahira bangun tepat saya menyelesaikan tugas menjadi Pj di WAG Markas Pejuang Literasi.

Sebentar saya menyelesaikan urusan terkait Sharing Today, kemudian saya mengajaknya makan malam, namun ia menolak dan memilih untuk ngemil. Habis itu saya mengabari suami jika saya sudah selesai bertugas dan kami mengbrol banyak hal. Bertukar kabar, bertukar info dan saling mengucapkan sayang serta terimakasih.

Saat Mahira sedang sulit untuk makan dan juga sikat gigi di hari ini, rasanya ada sedikit kekhawatiran yang membuat saya lagi-lagi mengatakan: “Kenapa Mahira tidak mau makan ya?” “Kenapa ya?” kompro yang dijawab dengan tantrum dan sederet rencana variasi menu, ingin saya praktikkan besok. Tidak sabar untuk segera bertemu pagi, menuju pasar, menyiapkan makanan yang mana makanan tersebut dapat dimakan Mahira dengan lahap.

Namun setelah saya telpon suami, sebagai agenda kami ketika malam. Kemudian saling bertukar info cerita bahkan doa dan ucapan sayang. Ada perasaan yang berbeda, lebih tenang dan slow down. Rasanya tiap suara yang disampaikan Suami adalah support dan afirmasi positif ke pada diri saya.

Malam ini, sebetulnya masih ada banyak tugas menanti. Namun setelah saya share link, ada tugas prioritas untuk menemani Mahira bermain. Mahira tantrum, tidak mau makan, tidak mau di ajak ke masjid, bahkan tidak mau sikat gigi, seketika membuat saya bisa saja emosi. Namun hari ini berhasil menghalaunya dengan me time di dapur dengan memasak kripik pisang dan belajar bersama teman-teman di markas.

Terimakasih Mahira, Ibu semakin banyak berlatih sabar. Menemukan diksi yang lebih persuasif, melakukan komprod, memunculkan beberapa kreativitas menu dan banyak lagi lainnya. Membersamaimu dalam proses belajar berlatih mandiri adalah hal yang membawa Ibu mendekat pada banyak Ilmu. MasyaAllah Tabarakallah…

#Harike12
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
#onedayonepost


Lanjut Baca yuk.. >>>

October 11, 2018

Saat si kecil menyadari kapan harus menyikat gigi






DAY08-TantanganGameLevel

Pada #Harike8 Mahira hari ini saya ajak silaturahmi ke rumah teman Mama. Kebetulan Mama saya sudah lama tidak jumpa temannya sejak beliau baru pulang ibadah haji bulan lalu. Begitu tiba disana, Mahira saya saya perlihatkan dengan kegiatan saya mencuci tangan sehabis berpergian. Ia pun dengan spontan meminta agar tangannya juga di cuci. MasyaAllah Tabarakallah..

Hari ini menjadi hari yang cukup pilu, karena Mahira dipaksa untuk makan coklat oleh teman Mama.

“Maaf Tante.. Mahira tidak makan coklat.” Tolak saya perlahan.

Namun dengan cekatan beliau membuka bungkus dan menyodorkannya pada Mahira.

“Tidak apa-apa, hanya sekali ini.” Saya coba jelaskan dengan tegas hingga akhirnya Mahira menangis, saya biarkan suara Mahira memekik telinga penghuni rumah sebagai bentuk ketegasan saya, bahwa tidak ya tidak. Agar orang tersebut tahu keputusan yang sudah saya ambil.

Sedih saja bahkan marah yang tertahan karena Mahira tetap merengek untuk meminta coklat. Saya coba lakukan komunikasi produktif pengalihan dengan makanan lainpun tidak bisa dan akhirnya Mahira tetap dipaksa untuk makan coklat tersebut. Saya tidak bisa apa-apa.

Ada sikap yang saya sangat jaga mengingat beliau adalah teman Mama, Mamapun marah dan menyampaikan ketidaksukaannya. 

Biasanya sebelum Mahira memakan coklat, saya harus adakan komunikasi produktif terlebih dahulu.  Sebagai bentuk belajar konsekuensi, misal cukup makan 1 bungkus coklat kecil, hanya boleh lihat bungkusnya saja. Kejadian tadi tanpa preparation dan  menyebabkan Mahira tantrum.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya saat itu betapa hal yang saya jaga namun di porak porandakan begitu saja. Bahkan tidak ada intro saya di tanya “Apa Mahira boleh makan coklat?”

Namun hari ini saya sangat bersyukur, sangat bersyukur dan memahami kenapa kejadian ini menimpa saya. saya jadikan moment ini adalah jalan pembuka untuk saya mengenalkan bentuk kemandirian kedua setelah mencuci tangan sendiri, yaitu agar Mahira menyadari kapan ia harus menyikat gigi. 

Untuk proses menyikat giginya tentu masih saya bantu. Proses belajar mandiri, tidak serta merta mengartikan skill sebagai kemampuan yang berkaitan dengan motorik saja., apalagi usia Mahira yang baru menginjak 22 bulan. Kemandirian ini tidak ingin saya artikan sebagai agar anak cepat bisa semuanya sendiri. Namun saya mengartikan skill ini cukup luas dan game ini sebagai proses belajar. 

Bahkan jika Mahira mampu menyadari kapan ia harus sikat gigi, saya akan sangat bersyukur karena dari titik kesadaran kemandirian itu sendiri artinya ia sudah mengantongi potensi one skill. InsyaAllah, dengan bertambahnya usia, skill yang dimaksudkan secara  tersebut dapat ia praktekkan dengan baik.

Keadaan tadi adalah best a way untuk membuka  babak baru memberi pemahaman ke Mahira, kapan ia harus menyikat gigi. Kebetulan coklat yang dipaksa untuk dilahap Mahira tersangkut di gigi, sehingga ia merasa susah payah menelannya. Saya mengambilnya dengan tisu dan mengatakan jika sampai rumah Mahira harus sikat gigi. Mahirapun mengangguk dan meletakkan coklat tersebut. 

Ia menyuruh saya untuk menghabiskan coklatnya dan ia membuang sendiri bungkus coklat yang teman Mama letakkan di meja ke tempat sampah. MasyaAllah… Saya berusaha mengalihkan Mahira dengan mengajarkan warna dari bungkus -bungkus coklat tersebut. sembari saya mengatur ritme nafas saya dan meminum air putih seraya beristigfar.  Alhamdulillah Mahira antusias belajar dan tidak membuka bungkusan itu kembali.



Tiba di rumah, Mahira sengaja saya perlihatkan kegiatan saya menyikat gigi dan alhamdulillah dia juga mau untuk menyikat giginya. Mahira memang belum konsisten dalam sikat gigi, terkadang mau terkadang berontak. dengan belajar memunculkan kesadarannya, InsyaAllah Mahira akan menyadari kapan ia harus menyikat giginya. Amin..




#Harike8
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
#onedayonepost
#ODOP_6


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 3, 2018

Berburu di Pulau Buru






Bismillah...

Judul dan postingan ini saya pilih untuk mengawali tantangan ODOP Batch #6 hari ini ini. InsyaAllah selama dua bulan, Ibu Mahira akan posting di blog sebagai bentuk menjalankan tugas komunitas hingga terjadi peralihan bahwa “menulis adalah kebutuhan” dan terwujudlah visi saya dalam membentuk habit menulis. Aaamin...

Siang itu tanggal 19 Agustus, saya iseng berkunjung ke papan searching instagram hingga saya mendarat dalam sebuah akun yaitu  @komunitas.odop Akun ini memposting oprec peserta ODOP batch #6. Entah karena semangat pitulasan yang masih teradopsi sempurna dalam sanubari atau rasa iri terhadap bendera merah putih yang tak gentar berkibar setiap bulan Agustus. Saya memberanikan diri untuk melakukan registrasi dengan begitu cepatnya.

“Wuuuuuuuzzzzzzzz........!!!”  Seperti Barry Allen saat berwujud The Flash.

Namun sayangnya keinginan menulis belum seperti The Flash yang makwuzz dalam menuliskan tiap ide yang ngendon di pikiran.  Alias belum berbanding lurus dengan keinginan membeli buku yang tak terkendali. Saya merasa belum menemukan balancing antara membaca dan menulis.

Sebagai upaya mencapai visi saya dalam membentuk habit menulis, maka sepertinya keputusan join dengan ODOP adalah tepat. ODOP (One Day One Post) adalah komunitas yang didalamnya akan memaksa anggotanya untuk menulis setiap hari.  Begitulah yang disampaikan oleh Founder ODOP bernama Bang Syaiha dalam materi Sejarah Komunitas ODOP yang di sampaikan oleh Bang MS Wijaya.

Teringat pesan Ayahanda terkait kata “dipaksa” beliau menuturkan kepada saya yang sangat sulit untuk makan buah dan sayur kala masih dibangku SMP,

 Ada kalanya kebaikan sifatnya harus dipaksa terlebih dahulu, seperti belajar agar luas wawasan, seperti olahraga agar sehat, seperti makan buah agar BAB lancar, dengan keterpaksaan itu nantinya kamu akan mendapat manfaat dan semoga dari manfaat kebaikan itu akan lahir keikhlasan.”

Dan untuk sebagian aktivitas terpaksa itu saya merasakan betul dampaknya. Makna terpaksa bergeser beraturan menjadi hal biasa tanpa merasa terpaksa lagi.  Mungkin ini juga akan saya berlakukan untuk habit menulis yang ingin saya wujudkan. Semoga Allah mampukan.

Alhamdulillah.. Pada tanggal 26 Agustus, nama saya berada diantara 138 Peserta yang berhasil masuk dalam batch #6 kali ini. Masuk dalam WAG “Pra ODOP Batch 6” berjumpa dengan beberapa kawan yang sudah saya kenal. Mereka semua teman-teman satu frekuensi yang habit menulisnya sudah cukup bagus dengan bukti banyaknya arsip dalam blognya. Sedangkan saya adalah A Fresh Beginning yang ibarat kena cipratan air dari ban mobil yang melintas genangan air saja bisa menggerutu. Maka dari itu saya beranikan diri untuk nyemplung dan berburu di Pulau Buru.

Pulau Buru
Adalah nama grup kecil yang mewadahi saya dan dua puluh delapan anggota lainnya untuk saling menyemangati, berbagi dan menginspirasi. Ada tiga admin yang bertugas ekstra menjaga Pulau Buru agar layak huni. Saya tidak akan membahas apa itu Pulau Buru dan alasan apa hingga tim memilih nama ini karena saya tidak tahu. Haha... Tapi perlu diketahui, saya disini sedang berburu Ilmu.

Di Pulau buru semua penghuninya kelak memiliki Blog yang memposting masing-masing tulisan mereka setiap hari, dari tulisan-tulisan tersebut biasanya saya agendakan Blog Walking dan itu sama seperti saya sedang berburu ilmu.

Pun tim ODOP sendiri sudah mempersiapkan jadwal kelas dari hari Senin hingga Jumat. Dengan adanya jadwal kegiatan di WAG Besar dan Grup Kecil ( Pulau Buru ) akan penuh manfaat, InsyaAllah. Dan tugas berburu ilmu masih terus berlanjut dengan pencapaian: tulisan saya semakin baik, kontennya menemukan genre yang sesuai, mendapat banyak ilmu dari materi yang di sampaikan Tim dan juga tulisan teman-teman yang saya baca.




Betapa saya sangat bersyukur menemukan komunitas ini, yang mendekatkan mimpi saya untuk dapat membangun habit menulis, membalancingkan kegiatan membaca dengan menulis, mengisi arsip Blog dengan genre yang masih dalam pertimbangan . Semoga saya dapat menjalankan tantangan ODOP, konsisten dalam menulis dan bersinergi dalam mencapai tujuan ODOP itu sendiri. Amin..
Selamat Berburu di Pulau Buru!!


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day 01

Lanjut Baca yuk.. >>>

June 1, 2018

The Best Plan (Part 2)




Kehendak Nya menjadi tumpukan PR teratas yang harus dihadapi. Akhir dari paragraf ini memiliki lanjutan cerita syukur  yang hendak saya tuliskan. Episode HP hilang sudah kami ikhlaskan, sekalipun kemampuan teknologi memudahkan suami saya tahu dengan update dimana posisi HP dan pencurinya, ia tak sedikit pun melangkah meminta kembali HP nya. Dia menyampaikan pemikirannya pada saya; Asalkan HP itu bermanfaat untuk kebaikan maka di perolehlah pahala untuk kami yang mengikhlaskan, jika HP itu di gunakan untuk keburukan maka Allah yang akan memberi balasan. Demikian rapi ketetapan Allah, “kenapa harus dipikirkan?” jelasnya dengan nada yang lembut.

Nampaknya saya tidak bisa mengganggu gugat dengan segala pengalamannya yang membuat ia berpikir demikian mengenai “kehilangan benda” karena memang ini bukan kali pertama nya suami kehilangan benda dengan harga yang kami harus menabung cukup lama untuk membelinya. Dengan ikhlas pula saya membelikan HP untuk suami dengan uang tabungan yang saya miliki, uang ini adalah uang yang selalu saya sisihkan setiap bulan dan rencananya untuk membeli mesin jahit. Tidak ada rasa gelo sedikit pun, alat komunikasi agaknya menjadi terpenting untuk saat ini dari pada mesin jahit.

Esok hari nya kami berkunjung ke rumah sewa yang rencana akan menjadi tempat tinggal kami untuk mengambil kunci rumah, namun pemiliknya ternyata belum juga kembali dari luar kota. Padahal kami sudah sangat berharap untuk silaturahmi dan memindahkan barang-barang tambahan milik Mahira. Singkat cerita kami habiskan beberapa hari di Ibu kota dan kami pulang ke Pemalang bersama.

Binar bahagia Ayah Mahira tak bisa di sembunyikan, di rumah Pemalang sering kali bercerita agenda-agenda apa saja yang akan ia lakukan bersama Mahira saat di Jakarta. Saya hanya mendengarkan dengan amin dalam hati, dengan pemikiran sebentar lagi itu akan terjadi. Dengan sedapnya manusia berencana, namun Allah lah yang memberi keputusan bahkan revisi atas rencana kita. Setelah kabar pemilik rumah sewa kembali dan kunci sudah di tangan suami, suami hendak memindahkan barang-barang pada hari Jumat. Entah mengapa jumat? Ternyata saat itu ada quick respon bencana yang membuat Suami saya begitu sibuknya mengurus kepentingan negara. MasyaAllah... hingga harus memilih hari Jumat waktu yang mungkin baru sempat.

Saat Jumat tiba dan suami hendak chek ke rumah, MasyaAllah... jalan di depan rumah masih dalam proses cor. Tentu suami saya cancel memindahkan barang-barang. Bahkan motor saja sulit lewat apalagi kendaraan roda empat. Proses keringnya tentu lama, belum lagi di hotmix. Rasanya Ramadhan pertama kami tidak bisa bersama dan tentu sudah nanggung kalau harus pindahan menjelang Idul Fitri. Maka kami buat keputusan untuk pindahan saat semua kondisi sudah memungkinkan.

Di saat mungkin hati suami saya bersedih karena tertunda nya kami bersama, Allah antarkan padanya sederet pekerjaan. Menyelesaikan data Mangrove seIndonesia dan proyek bersama salah satu BUMN untuk menerangi Papua Barat dan Maluku. MasyaAllah...
Di iringi lagi tiga hari menjelang puasa adik yang sangat saya sayangi jatuh sakit dan berlanjut opname di RS. Kebetulan Adik perempuan saya  sedang UAS dan mama sangat membutuhkan bantuan saya.
Kami diantarkan pada kesibukan masing-masing yang menjadikan kami tidak berlarut dengan kecewa, mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan justru membuat api semangat menebar karena dapat memberi manfaat.

Saya tidak bisa bayangkan, betapa lebih kecewanya saya tidak bisa membantu mama mengurus adik-adik jika saat itu sudah pindah ke Jakarta.
Saya tidak bisa bayangkan, betapa repotnya saya di awal Ramadhan karena suami sedang sibuk-sibuknya pekerjaan.

Maka dari itu saya sangat bersyukur
HP suami saya hilang,
Ibu pemilik rumah pergi begitu lama,
Jalan depan rumah yang mendadak di cor,
Dan segala rencanaNya yang selalu di kemas cantik untuk saya. MasyaAllah...

Kalaupun harus bersedih karena belum bisa bersama itu tidak sepadan dengan menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama. Membantu proses supplay listrik ke pelosok papua dan membantu orang sakit serta orang tua yang sedang kerepotan. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama? MasyaAllah... Semoga Allah limpahkan rahmat dan ridho untuk kami atas keikhlasan yang kami upayakan sebaik mungkin.

Terkadang banyak saat dimana suatu keadaan tidak berjalan sesuai dengan rencana, namun jangan terburu berburuk sangka. Kita harus pandai menyikapi segala bentuk PR dari Nya. Seberat bahkan sepahit apapun itu tetap menjadi ladang amal sholih bagi kita. Jangan pernah izinkan hati dan pikiran sembarangan saja dalam menerima kehendakNya, itu hanya akan menjadi celah bagi syaitan untuk membuat kita mudah kecewa, sedih dan juga seperti merasa paling lelah di dunia. Kebahagiaan yang Allah hadirkan selalu datang beserta antonimnya begitu pula kesulitan datang berserta antonimnya, yess.. The Best Plan.

Ada pula yang ketika hidupnya penuh rintangan justru ia semakin gembira. Gembira sebab Allah sedang menaikkan derajatnmya. Ada pula yang justru ia semakin khawatir. Khawatir dirinya memang tak dimampukan untuk menghadapi ujian. – Muhammad Ghiyats-


Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.



Lanjut Baca yuk.. >>>

The Best Plan (Part 1)






Mahira sudah bertumbuh cepat, di usianya ke tiga belas bulan ia mulai melangkah. Adaptasi yang saya rasakan semakin penuh perjuangan ekstra. Mengikuti kemana langkah kakinya pergi dan menjadi kesibukan tersendiri bagi saya. Sejak penyesuaian itu menemui ritme yang pas, Ayah Mahira mengajak kami pindah ke Ibu Kota. Menyandang status Ayah LDR dengan membacakan kisah sebelum tidur by Video Call adalah kesedihan yang tak tertumpahkan. Saya sadar betul, figur ayah menjadi sangat minin untuk Mahira dapatkan. Bahkan Ayahnya sendiri tak bisa sewaktu-waktu  memeluk, mengecup anaknya berulang kali. Ahhh.. sedih rasanya. Saya juga punya peran ganda dan mendominasi dalam mendidik Mahira, bagian suami terabrasi oleh jarak dan waktu. Itu semua hendak kami usaikan tahun ini. InshaAllah...

Suami saya mencari rumah sewa dan diantara puluhan rumah, kami sudah menemukan yang sesuai dengan kriteria kami. Alhamdulillah... Ini adalah hal luar biasa yang kami syukuri, mengingat betapa sulitnya menemukan rumah yang sesuai dengan kebutuhan dan budget kami di Jakarta. Menjelang Ramadhan kami akan berpindah dan menyambut Ramadhan bersama dalam atap yang kita anggap seperti rumah sendiri. Sankin bahagianya saya ungkapkan hal ini ke teman-teman, semoga doa mereka kerinduan mereka terkemas baik untuk saya walaupun kami berjauhan. Tapi saat saya berkunjung ke Jakarta untuk mengechek calon tempat tinggal kami, kehendak Nya menjadi tumpukan PR teratas yang harus dihadapi.

“ Sayang, aku sudah sampai” demikian saya chat suami.

Beberapa kali dialing juga belum di respon. Mungkin sedang di jalan. Saya berusaha positif thinking. Setelah turun dari kereta, saya menepi ke tempat duduk terdekat dan menyuapi Mahira yang ingin makan. Saya fokus untuk membuatnya dalam mood yang baik, sembari menunggu suami saya menghubungi. Selang beberapa menit, baru saja saya buka kotak makanan Mahira. Suami saya mengucap salam.

“ Assalamu”alaikum...” Ucapnya sambil tersenyum seolah tidak ada apa-apa.

“ Wa’alaikum salam. Sayang kapan tiba? Kok tahu kami menunggu di sini.” Tanya saya penasaran.

“Iya tentu lah.. Ibu dan Mahira kan bidadari, wajahnya begitu bersinar di tengah keramaian” Celetuknya membuat saya sedikit melted.

Mata Mahira menscaner Ayahnya, setelah cocok dengan memori maka ia merespon dengan gelagat ingin gendong tapi malu. Ayah mengeluarkan mainan yang ia sempatkan beli di toko mainan sebelum menjemput kami. Bonding time berlangsung cepat, Mahira makan dengan lahap dan kami bersiap menuju hotel.

Kami menggunakan KRL menuju Manggarai, gerbong cukup luang. Mahira sangat happy dengan mainan baru nya tapi ia lebih happy bisa menaiki kereta listrik dengan lorong gerbong yang kosong, begitu pula ibunya. Haha... Kami bertiga pun bisa duduk dengan leluasa, saat suami saya membisikkan pelan kalimat “Sayang...HP aku sebenarnya hilang” Ucapnya dengan nada lirih. Saat itu pula HP saya lagi-lagi bergetar karena mendapat telpon dari Bapak mertua. Sesaat terdistrek, saya masih ingin mendengarkan suami saya bercerita tapi saya juga harus mengangkat telponnya. Antara bingung dan kaget, suami saya memberi aba-aba untuk mengangkat telpon dari Bapak terlebih dulu. Dengan persetujuannya baru saya berani mengangkat telponnya sambil perlahan memanajemen perasaan dan pikiran agar sinkron.

Setelah mengangkat telpon, ia melanjutkan ceritanya. Betapa miris kejadiannya dan membuat saya gregetan dengan sikap pencopet tersebut. Sebanyak apa yang hilang? Seharga HP yang Ayah Mahira tabung cukup lama, sebanyak memori demi memori mengenai Mahira yang terus saya kumandangkan via WA.

“Sayang.. Apa kamu kecewa?” mungkin ini pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak perlu saya ajukan tapi tetap saya ajukan.

Suami saya menatap saya dalam, berlanjut menatap Mahira. Pria yang menjadi imam saya ini memang jarang bicara tapi sekalinya bicara sering kali menggetarkan.

“ Tidak sebanding dengan apa yang Allah berikan ke aku... memiliki kamu dan Mahira” jawabnya dengan menyentuhkan tangan kanannya ke saya dan ke Mahira.

MasyaAllah... dan saya pun bersyukur sangat dalam, ia hadir menjemput kami dengan kondisi yang sehat wal afiat dan kami berkumpul bersama dengan hati yang bahagia. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.   

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 152)

Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.




Lanjut Baca yuk.. >>>

May 19, 2018

Langkah


Lusa sudah masuk satu ramadhan, rasanya warming up cepat sekali berlalu. Tugas survey ke rumah baca kupu-kupu pada minggu lalu masih perlu saya ulangi karena kala itu saya belum mendapatkan alamat yang pasti. Alhamdulillah setelah mendapat kontak dari pemiliknya langsung, saya dapat menyesuaikan jadwal dan berkunjung ke rumah baca kupu-kupu bersama Mahira.

Langkah saya begitu semangat, menuju alamat rumah baca atas arahan pemiliknya yang bernama  Widya. Pertemuan saya dengan mbak Widya adalah rizki yang Allah berikan ke saya melalui komunitas S3 (Sedekah seribu sehari) dan saya sangat bersyukur mengenalnya hingga akhirnya ingin saya tuliskan dalam Gratitude Journal kali ini. 

Saat saya tiba seraya menggendong Mahira, mbak Widya menyambut saya dengan hangat, ia menjabat tangan saya dengan tekanan yang tegas. Cipika-cipiki khas muslimah dan  memperkenalkan dirinya. Saya Widya. Kesan yang pertama kali membuat langkah saya semakin bersemangat untuk masuk ke dalam Rumah Baca miliknya. 
Buru-buru saya letakkan selendang dan tas saya, melepas sepatu Mahira dan menghambur menuju rak besar di depan saya.

“ Waaah... Mahira, look! Banyak buku sayang.. coba kita lihat yuk! Mahira mau baca buku yang mana? “ Ucap saya begitu bersemangat.

Namun Mahira memilih untuk menjabat tangan mbak Widya terlebih dulu, di susul menjabat tangan ketiga anak yang sudah berkunjung lebih awal.

MasyaAllah.. pinternya Mahira” Ucap mbak Widya sambil mengusap lembut Mahira.

Hal ini seperti kejutan tak terduga dan saya sangat bersyukur atas itu karena artinya Mahira paham bagaimana Ia memperkenalkan diri di tempat baru. Saya tulis ini sebagai bentuk syukur saya atas perkembangan Mahira yang terkadang tidak dapat saya duga. Kemudian langkahnya perlahan menuju rak buku, dilihat-lihat seolah iya paham apa saja yang berjejer disana. MasyaAllah...

Mbak Widya dengan senyumnya yang hangat mempersilahkan saya menikmati suasana di rumah baca, ia pun sedang mempersiapkan sesuatu.

“Hari ini ada lomba hafalan mbak” celetuk mbak Widya memberi informasi.

Mbak Widya merupakan ibu dari dua orang putra Sa’ad (5yo) dan Sa’id (2yo), saat itu mereka di ajak ayahnya berbelanja di pasar. Suami mbak Widya mengajak anak-anak bukan tanpa alasan, agar istrinya bisa lebih leluasa dalam mengisi kegiatan untuk pengunjung rumah baca. Badan yang proporsional membuat ia begitu cekatan melangkah mempersiapkan kegiatan lomba, setelah selesai kami berbincang banyak hal terkait rumah baca.

Dalam percakapan kami mbak Widya menuturkan, tujuan utama ia dan suami mendirikan rumah baca kupu-kupu adalah karena ia ingin menumbuhkan minat baca di lingkungannya, mengisi hari minggu anak-anak sekitar dengan kegiatan yang positif dan penuh manfaat. Mbak Widya juga berharap dirinya dapat menjadi agen perubahan bagi ibu-ibu di sekitar rumahnya agar gemar membaca dari pada harus ngerumpi atau membiarkan suami-suaminya sibuk dengan kecanduan togel. Masya Allah... dengan membaca akan banyak pengetahuan yang masuk sehingga menjadi penggerak diri untuk melakukan perbaikan. Dengan kesederhanaannya beliau menjeda percakapan kami, kemudian berjalan kedalam rumah yang dindingnya penuh gambar hasil dari goresan kapur anak-anaknya.

“ Apa Mahira boleh makan ice cream? Saya bikin sendiri. InsyaAllah aman. Ayoooo Mega, Gita dan yang lain ice creamnya di makan dulu” Ucapnya dengan senyum yang ramah.

Tak ragu ia juga harus mengeluarkan dana membuat cemilan untuk anak-anak kala itu. Mungkin ini salah satu trik mbak Widya untuk membuat mereka senang berkunjung ke rumah baca. Keramahan, kebaikan dan ketulusan hati beliau membuat anak-anak betah berlama-lama di sini. Bahkan Mahira dengan cepat mudah berbaur bersama kakak-kakak yang usianya jauh di atas Mahira. Mahira hati itu sangat happy, ia tak henti-hentinya tertawa, menyunggingkan senyum, sesekali berlari ke arah saya dan kembali dengan kesibukannya bersama anak-anak lain. Saya sendiri juga merasa nyaman dan betah berlama-lama di sana. Banyak hal yang dapat saya pelajari dari kunjungan survey saya kali ini.

Pertama, saya sangat bersyukur mengenal mbak Widya karena betapa saya sulit menemukan teman yang seirama dengan langkah saya dan atas izin Allah saya di rizki kan teman baik seperti mbak Widya. Alhamdulillah...

Kedua, langkah saya yang penuh semangat menuju rumah baca bukan suatu pemborosan energi melainkan pengalaman luar biasa yang menyuntikkan saya semangat baru untuk berperan dalam masyarakat. Di sini saya dapat melihat perkembangan sosial-emosi Mahira saat berbaur dalam lingkungan baru dan tiap langkahnya dalam merespon teman yang usianya jauh di atasnya. Apa yang saya ajarkan untuknya seperti shake hand, konsep sharing, listen when  somebody asking to you dapat Mahira aplikasikan dengan baik di sini. Saya belajar lagi mengenai menjaga mood anak, karena ketika anak dalam kondisi mood yang baik, ia akan lebih mudah accepted apa yang kita sampaikan. Begitu juga akan lebih mudah anak aplikasikan apa yang ia terima saat mood nya dalam kondisi baik dalam hal ini saya sebut happy.

Ketiga, saya belajar mengenai langkah. Langkah kaki yang semangat baiknya diiringi hati yang tulus. Ketulusan akan mengantarkan kita dalam ruang tanpa kecewa dan kebaikan akan mengantarkan kita pada kebaikan selanjutnya. Mengenai memulai langkah, jangan pikirkan sepatu apa yang harus kita kenakan, tapi pikirkanlah ke arah mana tujuan langkah kaki kita?

Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.


Lanjut Baca yuk.. >>>

May 11, 2018

TakTerhitung


My Gratitude Journal
Pagi ini saya bangun dengan keadaan sehat dan badan segar. Rasanya ini nikmat yang tiada kira. Saya ingin langsung menuliskannya dalam blog yang baru saya buat beberapa hari kemarin.

Syukur saya adalah...

Pertama, Malam harinya mama membuatkan saya jahe merah hangat  yang nikmat sekali. Alhamdulillah... Rasa pedasnya cukup kuat, manis dan hangatnya pas. Saat saya hendak minum, Mahira memandang gelas kemudian memandang saya. Kembali ia mengulangnya. Wajahnya diliputi rasa penasaran apa ya yang ibu minum? Hehe..

"Mahira mau?" Tanya saya dengan santai.

Ia mengangguk seraya berusaha menggapai gelas saya. Saya mengambil sendok dan mencelupkannya saja kemudian mendekatkan ke bibirnya dengan perlahan. 
Ingin saya mengakhiri rasa penasarannya terhadap apa yang saya minum. Ternyata Mahira minta lagi dan lagi. Sekalipun ia mengatakan:

" Pedes... Hah...hah.. Pedes.." sambil berkecap bibir karena pedas.


Mahira terus saja meminta. Entah berapa kali saya celupkan sendok untuk memenuhi inginnya. Pikir ku ini jahe, akan sangat baik untuk kesehatan asalkan tidak terlalu banyak minumnya. 

" Positive anything is better than negative thinking.” — Elbert Hubbard

Saya tetap berpikir positif dan luar biasa pagi harinya Mahira pun bangun dengan kondisi badan segar bahkan pileknya langsung mampet. Sepertinya akan sembuh total. Alhamdulillah...

Kedua, Siang harinya saya pergi survey calon target S3 (Sedekah Seribu Sehari) Pemalang ditemani Mahira. Kami berpetualang mencari alamat di dusun, bertanya sana dan sini. Betapa serunya perjalanan kami karena mengisi siang yang garang dengan langkah tulus kebaikan. Harapannya Mahira dapat merekam segala aktivitas kebaikan ini untuk menjadi memory yang indah yang dapat Mahira baca kelak dan  Mahira akan bertumbuh menjadi sosok yang aktif dalam melakukan kebaikan. 

Ketiga, Malam hari seperti biasa, setelah kami bersama menidurkan Mahira by Video Call (Mahira memilih buku ceritanya, ayah menceritakannya, kemudian di tutup dengan berdoa sebelum tidur) Suami saya berganti menelpon. Biasanya pukul 22.00 kami membuat jadwal untuk saling mengevaluasi kegiatan kami. Bertukar informasi, bercerita dengan siapa saja kami berjumpa, melakukan kegiatan apa saja hari ini, perkembangan Mahira, menanyakan keadaan sebelum tidur, mengingatkan hal yang perlu di ingatkan, saling mengucap sayang dan lain sebagainya. Tak lupa pula saya selalu menanyakan:

"Berapa persen ridho mu untuk saya hari ini?" 

Alhamdulillah..sejauh ini saya selalu mendapat jawaban 100 %. Dalam percakapan kami, suami bercerita jika dirinya tengah di terlibat dalam dua proyek penelitian. Mengaharap doa yang tulus dari istri, untuk semua kesibukannya agar senantiasa Allah ridhoi.

Rasanya masih begitu banyak sekali rasa syukur saya sehari ini. Tapi tiga hal tersebut mewakili tulisan syukur saya hari ini. Dengan badan saya yang sehat, hari ini saya bisa menyelesaikan cucian dengan bahagia, mengikuti langkah Mahira kesana dan kemari, membacakan banyak buku untuknya, menemaninya bermain balok angka, makan dengan lahap dan sedap. Saya sangat bersyukur, atas rahmat yang Allah berikan untuk saya setiap detiknya hingga saya tak mampu menghitungnya. 

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (An-Nahl;8)

Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.
www.ibuprofesionalsemarang.com
Lanjut Baca yuk.. >>>