September 7, 2018

ONTY POCKY-POCKY







DAY02-TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Anak*

Menjalin Komunikasi Produktif dengan pasangan akan membentuk FoE dan FoR kita. FoE dan FoR ini sudah saya tulis sebelumnya dalam tautan berjudul Good communication Skill. Lalu apa tujuan terbentuknya FoE dan FoR yang sama? Jadi ketika ada informasi yang datang kepada kita akan dipahami secara sama. Ketika saya menyampaikan sesuatu, pasangan juga akan menerima pesan tersebut seperti yang kita inginkan.

Mengenai komunikasi produktif, saya juga berusaha menerapkan hal tersebut kepada keluarga dalam arti melibatkan anggota keluarga besar seperti Mama, Papa, Ibu, Bapak, dan saudara saudara dari saya dan juga dari Suami.

Hari ini Onty, panggilan Mahira kepada adik Suami saya, sedang rindu kepada keponakannya. Kami melakukan video call cukup lama, bercerita banyak hal dan berlanjut hingga aksi membuat Mahira nangis. Onty memang sering kali gemas dan menggoda Mahira hingga ia merengek dan menangis. Saat menjadi tante memang begitu mungkin ya aksinya, gemes lihat ponakannya merengek hingga menangis.

“Ini Onty punya Pocky-pocky, yummy… enak sekali lho” seraya ia menunjukkan wadah jajan yang menggiyurkan lidah Mahira.

Dengan sikapnya yang terus menerus demikian, Mahira merengek.

“Inta! inta! mauk! mauk!” rengek Mahira bilang Minta dan Mau berulang kali.

“Mau yaa… ini ambil.” Goda Ontynya dalam Video Call kami.

Saat itu saya masih berpikir calm down, namun setelah Mahira semakin hebat merengek dan berakhir tantrum. Saya izin menutup percakapan dan berusaha menenangkan Mahira. Mahira masih terus merengek Buk! Buk! Inta bu! Mauk! Seraya menangis tersedu. Tentunya ia begitu menginginkan Pocky-pocky yang ditawarkan Ontynya.



Saya coba tawarkan snack lain yang ada di rumah, namun ia melemparnya dengan kuat dan semakin tantrum. Saya coba ambil nafas dan bersikap tenang. Kemudian saya ambil gawai dan mencari gambar Pocky-pocky via google. Mahira saya tunjukkan gambar tersebut dan terdiam sejenak, setelah itu kembali merengek.

Dengan mengendalikan intonasi dan menggunakan suara ramah, saya menemukan kaidah baru yaitu dengan mengajaknya berimajinasi.

“Mahira, lihat ibu sayang. yam..yam..yam..” seraya saya seolah mengambil makanan tersebut dilayar gawai.

“Mahira mau? Sini aaak dulu.” Tawar saya sambil menyodorkan suapan tangan yang kosong dari gambar di google.

Mahira yang saat itu menangis berangsur diam dan mendekat ke arah saya. Membuka mulutnya dan seketika saya berimajinasi bersama seolah makan pocky-pocky.
Pada suapan berikutnya saya melakukan gerakan yang sama, namun saya isi suapan tangan saya dengan biskuit lain yang kami miliki di rumah. Mahira pun mengunyah dengan lahap, ia kembali happy bahkan begitu riang sekali.

“Nanti ibu titip Ayah untuk membeli Pocky pocky ya.. sekarang makan biskuit ini dulu, Oke anak hebat?” Ucap saya yang diliputi syukur sebanyak mungkin karena Mahira mampu teralihkan. Mahirapun mengangguk seperti paham apa yang saya sampaikan.


*Komunikasi dengan Pasangan*


Menanggapi sikap seperti ini pada awalnya saya selalu merasa kesal dan protes terhadap Suami saya mengenai sikap adiknya. Kebetulan juga saat Mahira menangis, Ayahnya sempat telpon dan saya angkat dengan terburu menutupnya kembali. Suami mengatakan jika ia akan pulang sebentar lagi untuk makan siang setelah jumatan.

“Mahira nangis kenapa sayang?” tanyanya kepada saya.

“Mau Pocky-pocky, tadi Ontynya telpon dan pamer jajan itu. Terus dia jadi pingin kan.” Jelas saya masih agak sedikit kesal.

“Ya sudah, nanti beli aja. Beli dimana?” Tanyanya dengan santai.

“ Alfa juga ada. Rasa coklat atau oreo ya mas, gambarnya aku kirim. Terimakasih” Balas saya dengan menggunakan kaidah 2C.

Menyampaikan sesuatu apalagi urusan titip menitip memang harus jelas, dari pada salah beli. (Readers yang sudah bersuami, pasti paham betul terkait urusan titip menitip beli  sesuatu ke suami, iya kan? Haha)

Kaidah 2C yaitu Clear dan Clarify yaitu menyusun pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
Kaidah Choose the right time Yaitu memilih waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.  (Sumber: Ebook Kompro Materi Bunda Sayang)

Sesampainya di rumah, kami makan siang bersama. Selepas kami makan suami menanyakan apa ada yang ingin kamu sampaikan? Suami sangat tahu, saya masih nyimpen unek-unek kali ya.. akhirnya saya coba melakukan komunikasi produktif dengan dua kaidah diatas.

Choose the right time, karena beliau menanyakan langsung kepada saya. Jadi ini kesempatan saya menyampaikan.
“Mas, Aku kurang suka kalau Onty buat Mahira merengek dan nangis. Nanti kasian Mahiranya jadi kebiasaan begitu” Ujar saya dalam aksi protes.

“Ya..kamu ini jangan selalu ambil hati, namanya juga gemes, kangen ya wajar godain anak kita. InsyaAllah Mahira nggak apa apa” Jawabnya kala itu yang membuat saya semakin kesal.

Dalam FoR saya kala itu sangat berbeda dengan suami sehingga ada rasa kesel yang masih hinggap ketika mendapati respon suami begitu. Saya menganggap suami tidak memahami dampak apa yang akan terjadi dengan anaknya jika sering dibuat menangis atau merengek.

Kemudian saya gunakan rumus di bawah ini dalam  menyampaikan komunikasi produktif  yaitu:
BILA NALAR PANJANG EMOSI KECIL
BILA NALAR PENDEK EMOSI TINGGI

Maka saya berusaha panjangkan nalar saya, membuat excuse besar terhadap sikap orang lain yang mungkin kita tidak suka dan memahami berdasarkan FoRnya. Sehingga dengan kecilnya emosi, saya akan nyaman untuk turut menyantap Pocky-pocky. J


Alhamdulillah.. bisa barengan makan pocky-pocky tanpa emosi.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day05













Lanjut Baca yuk.. >>>

September 6, 2018

DARI MEZZANINE HINGGA MUFFIN






Bismillah...
Pembukaan dulu ya Readers...
Saya sudah menyelesaikan kelas matrikulasi, saat ini saya melanjutkan untuk mengikuti kelas Bunda Sayang. Alhamdulillah dari puluhan pendaftar, saya resmi diterima menjadi Mahasiswa Kelas Bunda Sayang Batch #4 di IIP.  Ada dua materi Pra-Bunsay  yang sudah saya lewati dan sekarang saya harus bersiap dalam materi inti kelas Bunda Sayang selama beberapa bulan ke depan.

Materi pertama adalah mengenai “Komunikasi Produktif”, kebetulan ini masih menjadi PR besar bagi saya dalam menjalin komunikasi produktif baik dengan pasangan maupun dengan ananda. Peran komunikasi yang saya anggap sangat penting, karena komunikasi yang baik adalah kunci menjalin hubungan yang baik.

Saya sangat antusias mengikuti materi pertama ini dengan mengikuti Tantangan Game Level 1 selama tujuh belas hari kedepan, dimulai per 6 September 2018. Sebelumnya kami semua Mahasiswa diberikan materi berupa Ebook yang menjadi dasar untuk mengerjakan Tantangan Game Level 1. Dalam Ebook tersebut, ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi antara saya dan pasangan serta antara saya dan juga ananda.

InsyaAllah dibawah ini saya akan share keadaan yang bisa menjadi rekam jejak saya dalam belajar komunikasi produktif dengan pasangan dan juga ananda. Semoga dengan menuliskannya, saya bisa terus melakukan evaluasi untuk mencapai komunikasi produktif dan untuk readers dapat mengambil secuil kebaikan dari pengalaman saya.


DAY01-TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan pasangan*




Sebelum tanggal 5 September saya coba mengkomunikasikan kepada suami terkait acara bedah buku di Kementrian Keuangan sebagai rangkaian acara Festival Literasi 2018. Salah satu family project kami di bidang literasi adalah berkunjung ke toko buku, membaca buku bersama, membacakan buku Mahira, berkunjung ke acara bedah buku, perpustakaan dll.

Namun Suami saya belum merespon saya dengan serius, dia sekedar mengiyakan saja. Sikapnya yang demikian membuat saya cukup kesal apalagi saat menjelaskan saya begitu antusias bahkan dengan panjang kali lebar. Haha..

Kemudian saya berlakukan Kaidah: I am responsible for my communication result. Seketika saya mengubah mindset dengan berpikir positif terkait keadaan suami saat itu.  Apa mungkin saya belum menyusun kalimat dengan benar, sehingga sepertinya sulit untuk beliau memahami maksud saya. Mungkin juga karena pekerjaan untuk Papua Terang saat itu masih belum selesai, sehingga ia belum bisa fokus untuk memahami proposal saya kala itu.

Saya mencoba kembali menyampaikan kepada Suami pada waktu yang tepat, disaat pekerjaan sudah selesai dan malam hari menjelang tidur. Kaidah Choose the right time , sangat efektif digunakan karena di waktu yang tepat tersebut fokusnya hanya kepada saya atau tidak terbagi sehingga memudahkan Suami untuk merespon dan memahami apa yang saya sampaikan. Alhamdulillah beliau meresponnya dengan antusias bahkan berjanji akan mengambil libur untuk menemani saya dan Mahira datang pada acara tersebut.  


Ruang Mezzanine ada di gedung Djuanda 2, kami berjalan dari shelter Budi Utomo melalui pintu masuk Gedung KPPN dan snow ball question hingga menemukan ruangnya. MasyaAllah... judulnya jalan sehat. hehe...

Tibalah waktu kami menuju Mezzanine, yaitu nama salah satu ruangan di Kementrian Keuangan sebagai tempat berlangsungnya acara. Suami memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum saja, karena hari itu jadwal kendaraan ganjil. Baiklah.. tentunya akan menjadi perjalanan panjang karena kami baru saja mencari tahu terkait kendaraan yang harus dinaiki untuk menuju lokasi.

“Ini kan tempat Presi nikah, sayang” Ucap suami saya saat saya tunjukkan alamatnya.

“Oh iya ya.. tapikan dulu tinggal nurut aja bapak yang nyetir. Mas coba cari tahulah naik-naiknya gimana?” Jawab saya dengan harap.

“Iya..” Balas suami saya dengan serius.

 ***

Kami berpetualang dengan berbagai kendaraan umum, naik grab ke Stasiun UI kemudian perjalanan dengan KRL menuju Stasiun Juanda. Menuruni anak tangga yang seabrek dan menaiki kembali anak tangga menuju shelter busway ke arah PGC. Kami harus transit di Pal Putih dan berlanjut ke arah shelter Budi Utomo. Masih dalam perjalanan panjang, kami harus berjalan kaki menyusuri komplek Kementrian Keuangan untuk mencapai Mezzanine.

Sebetulnya ada rasa kecewa yang menghebat karena suami ternyata belum mencari tahu rute dengan pasti, jadi perjalanan ini adalah hasil snow ball question ke petugas kendaraan umum. Alamat kami tiba dengan keterlambatan lebih dari tiga puluh menit. MasyaAllah..

Saya  menyadari, jika saat itu mengabaikan kaidah Clear and Clarify. Sehingga dampaknya saya harus merasa kecewa. Pun saat saya kecewa suami juga tidak tahu, akhirnya saya mencoba mengedepankan nalar saya dan memberlakukan kaidah Clear and Clarify. Mengatakan kepada suami dengan bahasa yang mudah untuk dipahami dan juga mengklarifikasi mengenai dampaknya mengabaikan saran saya kala itu.

Suami saya menyadari jika ia mengatakan “iya” namun kenyataannya ia belum berusaha mencari tahu kendaraan apa saja yang digunakan. Akhirnya iapun meminta maaf, namun anehnya setelah ia meminta maaf nalar saya kembali pendek dan merasakan kembali kecewa itu. Hingga pada akhirnya saya luluh hanya dengan traktiran roti maryam rasa coklat di Stasiun Pondok Cina. Haha...

*Komunikasi dengan Anak*



Lelahnya fisik karena perjalanan yang hampir memakan waktu seharian membuat saya menunda pekerjaan rumah. Namun demi kenyamanan bersama perlahan pekerjaan rumah dilakukan satu persatu dibantu dengan suami. Disaat sprei sudah diganti, kipas angin cling bersih, lantai wangi, saya berniat untuk membuka laptop.

Saat itu saya sedang me time dengan satu cup Muffin yang suami saya beli di Bread Talk. Anak saya terbangun dan mendekati saya yang urung menyalakan laptop karena ia tengah terjaga. Diraihlah muffin tersebut dengan sedapnya ia makan. Saya biarkan karena memang saya tau, jika ia menyukainya.
Namun setelah beberapa menit kemudian, dengan cepat muffin tersebut berubah menjadi seperti hamburan pasir coklat di atas sprei yang baru saya diganti. Huwaaaaaaaaaaa..... hingga hampir ke seluruh penjuru lantai yang baru saja dipel dan tentunya anak saya bleput coklat di baju dan wajahnya.

Dia hanya tersenyum, sambil terus asyik bermain tanpa mengetahui apapun. Saat itu saya minum air putih satu gelas, menarik nafas dan membalas senyumnya sambil berkata:
“Waaaah... kotor sekali ya.. Sapunya mana ya? Yang namanya sapu itu yang mana ya?”
Ucap saya dengan harapan Mahira akan menyadari kesalahannya.

Iapun bergegas mengambil kipas dan mengngibas sprei dengan kipas tersebut, setalah saya bantu maka saya ajak ia untuk membersihkan diri, namun ia dengan semangat ke arah sapu berada dan mengambil sapu untuk membersihkannya.

“MasyaAllah... jadi anak hebat! kalau lihat lantai kotor langsung dibersihkan. Sini Ibu cium dulu anak hebatnya!” dan Mahirapun menghambur kearah saya, memberikan bagian pipinya yang siap saya kecup.

Dia memeluk saya tanpa tantrum sedikitpun, mungkin ia menyadari kesalahannya. Saya melihat ada sisi tanggung jawab yang ia lakukan dan dia merasa ini bagian yang seru yaitu menyapu. Sekalipun saya harus dua kali kerja itu tidak akan menjadi soal, karena senyum itu tetap tersungging disana dengan indahnya dan hati saya merasa bahagia. MasyaAllah...

Saya sudah berhasil melakukan beberapa poin komunikasi produktif dengan anak, seperti mengendalikan emosi, intonasi suara dan menggunakan suara ramah, jelas dalam memberikan pujian dan itu menjadi PR saya agar dapat konsisten dalam melakukan komunikasi produktif dengan Mahira.

Hari ini saya belajar banyak hal untuk mempraktekkan Komunikasi Produktif, bahkan dari Mezzanine hingga Muffin. Mezzanine adalah ruang tambahan yang berada diantara lantai dan plafon. Kata Mezzanine sendiri berasal dari Italia yang berarti bagian tengah atau di tengah. Seperti harapan saya kedepannya bahwa suami dan anak saya akan selalu saya letakkan di tengah atau prioritas karena keberadaan mereka membuat hidup saya lebih manis, semanis kue Muffin, sekalipun berhamburan dilantai Mezzanine.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 5, 2018

Good Communication Skill



“Kalian cocok banget, yang satunya cerewet yang satunya pendiem. Jadi balance gitu!” Ucap seseorang selepas kami berstatus menikah.

“Biasanya ya gitu, kalau pendiem dapetnya ya yang cerewet.” Ucap saudara kepada suami saya kala itu.

Jika mengingat komentar di atas, saya cukup menghela nafas. Terlepas dari yin yang , bagi saya memiliki suami pendiam itu PR. Komunikasi sangat penting, bagaimana bisa jika tetap menjadi pendiam terutama pada istri?, pikirku Ibaratnya sebagai amunisi saya saat berperang, sebagai kail saat saya memancing dan sebagai keyboard saat saya mengetik. 

Maka dari itu karena penting, pada New Alenia saya mengawali tulisan mengenai mendengarkan yang tentunya masih satu paket dengan seni berkomunikasi.

Kejutannya adalah... saat ini saya juga tengah mengikuti kelas Bunda Sayang Batch #4 yang Materi pertamanya membahas mengenai ‘Komunikasi Produktif’. Seperti senada dan seirama, saya akan lebih mudah membahasnya karena memang ini menjadi PR utama saya dalam menjalani pernikahan dengan Pria yang awalnya memang kurang komunikatif alias pendiam.

TANTANGAN!

Mungkin dengan oranglain Suami saya boleh saja tidak banyak bicara. Tapi dengan saya tentunya suami harus sering bicara, bahkan hal yang sepele saja kadang ia bahas. Haha..

Bagaimana bisa berubah seperti ini? tentunya bukan tanpa upaya. Kami berdua berkomitmen untuk memegang kunci bersama. Menurut kami, kunci dari hubungan yang baik adalah komunikasi yang baik.

Pada awalnya selisih paham sering terjadi, karena tidak dikomunikasikan dengan baik.  Cara penyampaian juga berpengaruh besar terhadap kelangsungan komunikasi yang baik.

Saya curhat ke Papa terkait selisih paham yang sering terjadi di awal penikahan, saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan Suami saya. Seperti harus menebak-nebak apa yang sedang ia pikirkan ataupun rasakan. Tentunya tidak bisa terus begini. Kemudian Papa memberi contoh kepada saya terkait cara menyampaikan.

“Misal ada orang yang akan memberikan uang seratus ribu, jika memberikannya dengan cara dilempar dan memberikannya dengan berkata: Ini ada sedikit hadiah untukmu, ditabung ya.. Kiranya kamu pilih yang mana?”

“Yang berkata dengan baiklah pah” Jawab saya dengan cepat.

“Jika dengan sama-sama berkata, nih uang ambil aja jangan boros-boros!  dan contoh sebelumnya, kamu pilih yang mana?” tanya Papa lagi.

“Aku pilih yang menyampaikan dengan baik-baik dong” saya menjawabnya lagi.

“Nah..kalau kamu juga suka dengan cara yang baik-baik, maka sampaikan juga semua hal dengan cara yang baik. Cara menyampaikan itu penting, kamu harus belajar itu” jelas Papa kala itu.

Setelah mendapat nasihat mengenai cara berkomunikasi, banyak hal yang harus saya ubah untuk dapat berkomunikasi dengan Suami. Pertama saya ubah dulu minset saya, jika saya dan Suami adalah dua individu yang berbeda. Bahkan kami dilahirkan dari Ibu yang berbeda, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda sehingga harus disadari betul oleh saya jika Suami memiliki cara yang berbeda juga dalam berkomunikasi.

Dalam Materi Bunsay sesi #1 ada istilah FoR (Frame of Reference) yaitu cara pandang, keyakinan, konsep dan tata nilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari didikan orangtua, buku yang dibaca, pergaulan dll. Kemudian ada istilah FoE(Fram of Experience) yaitu serangkaian kejadian yang dialami seseorang dan dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang. FoR dan FoE inilah yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang.

Dari penjelasan itu saya jadi semakin memahami bahwa Suami saya juga memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda atas sesuatu karena FoR dan FoE yang ia miliki berbeda dengan yang saya miliki. Komunikasi bermasalah saat masing-masing dari kita “memaksakan” agar pendapatnya dapat diterima. Terpaku dalam sudut pandang masing-masing tanpa saling memahami.

Nah..setelah mendapat materi ini. saya hanya ingin  ilmu yang saya peroleh dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Masih dalam perjalanan panjang untuk melangsungkan komunikasi produktif sebagai komponen penting menjalani suatu hubungan. Semoga Allah selalu mampukan saya dan juga pembaca semua dalam melakukan komunikasi produktif, baik itu ke pasangan (suami/istri), orang tua, saudara, teman dan juga anak.

Komunikasi adalah sebuah keterampilan yang dapat kau pelajari. Belajar berkomunikasi itu seperti mengendarai sepeda atau mengetik. Jika kau mau mengerjakannya, kau akan dapat mengubah kualitas dari semua bagian hidupmu” _Brian Tracy

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day03



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 4, 2018

NEW ALENIA (Part 1: Letakkan Handphonemu!)






"Salah satu bentuk hormat yang paling tulus adalah benar-benar mendengarkan orang lain.”

__ Bryant H. Me Gill



Seperti menjadi Alenia Baru bagi saya, menulis dalam sebuah blog. Kiranya bisa diambil hikmah bagi pembaca dan tempat ini menjadi ruang yang saya sebut sebagai Dapur Kata Ibu Mahira (tempat saya belajar meramu aksara).

Setelah The Best Plan dari Allah dapat saya lalui kini telah menjadi keputusan saya dalam memenggal status Ayah LDR untuk Mahira. Tanggal 9 Agustus menjadi hari bersejarah bagi kami, melewati rangkaian jalan panjang yang saat kita melintasinya, kita harus membayar. Tak apa membayar, tidak ada harga setara dengan kebahagiaan saat kita bersama. Tinggal dalam atap yang sama.

Dalam perjalanan ada sedih yang saya hempaskan begitu keras, mengedepankan logika untuk dapat melangkah dengan pasti. Sekalipun masih terasa berat jika semua detailnya teringat.

Hari cukup terik, matahari mulai meninggi dan bergerak ke arah Barat. Saya menurunkan sun visor mobil untuk menghalau sinar yang perlahan mengganggu pandang. Suami saya masih menyetir mobil dengan serius seraya menikmati pemandangan tol Palimanan yang begitu sepi kala itu. Mahira anak saya tidur dalam pangkuan, mungkin saya ini adalah car seat ternyaman dan termahal yang Mahira miliki.

Teringat jika hari itu adalah deadline untuk mengumpulkan sinopsis kelas lanjutan cernak di Pejuang Literasi. Tangan saya perlahan merogoh tas yang saya letakkan dibagian kursi belakang. Suami saya melirik sebentar sambil tersenyum, saya juga tahu ,di tengah fokusnya ia juga memperhatikan saya.

“ Pasti nyari HP” tebaknya.

“Sayang..aku diizinkan bikin outline ya? Karena ada DL hari ini.” Pinta saya padanya dengan penuh harap.

Kami memang mengadakan perjanjian, saat kita bersama sebisa mungkin jangan ada yang mengoperasikan HP. Apalagi saat perjalanan. Seperti perjanjian Linggar jati yang begitu menguntungkan pihak Belanda. Terkadang saya sering ingkar. Jadi sudah tahu ya siapakah pihak Belanda tersebut? Haha...

“Kamu sudah nggak sedih lagi sayang?” Suami saya mencoba membuka percakapan, mumpung jalan begitu senggang. Tingkat fokus dan akomodasi mata tidak sedang ekstra.

“Nggaklah.. aku kan ada DL” jawab saya mengingatkan kembali terkait izin tadi.

“Kamu bisa mengerjakan di mobil? Nanti ajalah kalau sampai rumah.” Tawarnya meragukan kemampuan saya.

Tanpa pikir panjang saya tidak menjawab lagi percakapan tersebut dan membuat suami saya melirik kembali saya dengan wajah tanpa senyum.

“10 menit ya? Aku mau ditemani” Celetuknya lagi

Seketika itu saya merasa bahwa saya lah yang membutuhkan fokus dan akomodasi mata sangat ekstra dari pada suami saya yang sedang nyetir.

10 menit berlalu...

Setelah saya selesai membuat outline dan menyetorkannya kepada PJ. Saya kembali diingatkan oleh Suami untuk meletakkan Hpnya kembali dan fokus menikmati jalan panjang menuju Ibu Kota. Wajahnya sumringah, ngguyu-nguyu terus. Saya juga senang dengan pemandangan di samping saya (baca; melihat suami saya senyum-senyum). Mungkin beginilah seharusnya perjanjian berlangsung. Kedua belah pihak sama-sama bahagia.

Saat LDR saya biasa terbebas menggunakan HP kapanpun, namun dalam alenia baru ini saya belajar menghormati pasangan, menghidupkan quality time dan menjalankan perjanjian. Sekalipun tidak mudah, saya merasa berhasil memanfaatkan 10 menit tersebut untuk profesionalitas saya saat itu. Walaupun saya harus resend outline yang lebih baik lagi di esok harinya, namun setidaknya saya sudah berusaha menyelesaikan tugas sesuai DL.

Alenia baru membuat saya juga belajar memahami orang lain dan mendengarkan, sekalipun itu hal sepele menurut saya namun bisa jadi itu hal besar yang sedang diinginkan pasangan. Dalam batin saya sempat terkekeh sambil berkata: Nyetir aja minta ditemenin.

“Sayang, terimakasih ya sudah nemenin nyetir tanpa main HP. Waktu itu aku ngantuk banget. Jadi aku butuh kamu untuk mengingatkanku. Makanya aku suruh kamu jangan pakai HP dulu karena bisa saja menjadi bahaya.” Celetuknya saat kami sedang menikmati Soto Boyolali Pak Widodo ditemani gerimis yang menyambut kedatangan kami di Kalisari.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day 02
#My New Alenia



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 3, 2018

Berburu di Pulau Buru






Bismillah...

Judul dan postingan ini saya pilih untuk mengawali tantangan ODOP Batch #6 hari ini ini. InsyaAllah selama dua bulan, Ibu Mahira akan posting di blog sebagai bentuk menjalankan tugas komunitas hingga terjadi peralihan bahwa “menulis adalah kebutuhan” dan terwujudlah visi saya dalam membentuk habit menulis. Aaamin...

Siang itu tanggal 19 Agustus, saya iseng berkunjung ke papan searching instagram hingga saya mendarat dalam sebuah akun yaitu  @komunitas.odop Akun ini memposting oprec peserta ODOP batch #6. Entah karena semangat pitulasan yang masih teradopsi sempurna dalam sanubari atau rasa iri terhadap bendera merah putih yang tak gentar berkibar setiap bulan Agustus. Saya memberanikan diri untuk melakukan registrasi dengan begitu cepatnya.

“Wuuuuuuuzzzzzzzz........!!!”  Seperti Barry Allen saat berwujud The Flash.

Namun sayangnya keinginan menulis belum seperti The Flash yang makwuzz dalam menuliskan tiap ide yang ngendon di pikiran.  Alias belum berbanding lurus dengan keinginan membeli buku yang tak terkendali. Saya merasa belum menemukan balancing antara membaca dan menulis.

Sebagai upaya mencapai visi saya dalam membentuk habit menulis, maka sepertinya keputusan join dengan ODOP adalah tepat. ODOP (One Day One Post) adalah komunitas yang didalamnya akan memaksa anggotanya untuk menulis setiap hari.  Begitulah yang disampaikan oleh Founder ODOP bernama Bang Syaiha dalam materi Sejarah Komunitas ODOP yang di sampaikan oleh Bang MS Wijaya.

Teringat pesan Ayahanda terkait kata “dipaksa” beliau menuturkan kepada saya yang sangat sulit untuk makan buah dan sayur kala masih dibangku SMP,

 Ada kalanya kebaikan sifatnya harus dipaksa terlebih dahulu, seperti belajar agar luas wawasan, seperti olahraga agar sehat, seperti makan buah agar BAB lancar, dengan keterpaksaan itu nantinya kamu akan mendapat manfaat dan semoga dari manfaat kebaikan itu akan lahir keikhlasan.”

Dan untuk sebagian aktivitas terpaksa itu saya merasakan betul dampaknya. Makna terpaksa bergeser beraturan menjadi hal biasa tanpa merasa terpaksa lagi.  Mungkin ini juga akan saya berlakukan untuk habit menulis yang ingin saya wujudkan. Semoga Allah mampukan.

Alhamdulillah.. Pada tanggal 26 Agustus, nama saya berada diantara 138 Peserta yang berhasil masuk dalam batch #6 kali ini. Masuk dalam WAG “Pra ODOP Batch 6” berjumpa dengan beberapa kawan yang sudah saya kenal. Mereka semua teman-teman satu frekuensi yang habit menulisnya sudah cukup bagus dengan bukti banyaknya arsip dalam blognya. Sedangkan saya adalah A Fresh Beginning yang ibarat kena cipratan air dari ban mobil yang melintas genangan air saja bisa menggerutu. Maka dari itu saya beranikan diri untuk nyemplung dan berburu di Pulau Buru.

Pulau Buru
Adalah nama grup kecil yang mewadahi saya dan dua puluh delapan anggota lainnya untuk saling menyemangati, berbagi dan menginspirasi. Ada tiga admin yang bertugas ekstra menjaga Pulau Buru agar layak huni. Saya tidak akan membahas apa itu Pulau Buru dan alasan apa hingga tim memilih nama ini karena saya tidak tahu. Haha... Tapi perlu diketahui, saya disini sedang berburu Ilmu.

Di Pulau buru semua penghuninya kelak memiliki Blog yang memposting masing-masing tulisan mereka setiap hari, dari tulisan-tulisan tersebut biasanya saya agendakan Blog Walking dan itu sama seperti saya sedang berburu ilmu.

Pun tim ODOP sendiri sudah mempersiapkan jadwal kelas dari hari Senin hingga Jumat. Dengan adanya jadwal kegiatan di WAG Besar dan Grup Kecil ( Pulau Buru ) akan penuh manfaat, InsyaAllah. Dan tugas berburu ilmu masih terus berlanjut dengan pencapaian: tulisan saya semakin baik, kontennya menemukan genre yang sesuai, mendapat banyak ilmu dari materi yang di sampaikan Tim dan juga tulisan teman-teman yang saya baca.




Betapa saya sangat bersyukur menemukan komunitas ini, yang mendekatkan mimpi saya untuk dapat membangun habit menulis, membalancingkan kegiatan membaca dengan menulis, mengisi arsip Blog dengan genre yang masih dalam pertimbangan . Semoga saya dapat menjalankan tantangan ODOP, konsisten dalam menulis dan bersinergi dalam mencapai tujuan ODOP itu sendiri. Amin..
Selamat Berburu di Pulau Buru!!


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day 01

Lanjut Baca yuk.. >>>