September 10, 2018

SEPATU ANDALAN




DAY05 -TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Anak*

Untuk menemani langkahnya saat berpergian, Saya selalu pakaikan sepatu ke Mahira. Ia punya beberapa sepatu yang biasanya senada dengan bajunya. Namun sejak saya membeli sepatu mumer disalah satu store, ia begitu menyukai sepatu tersebut diantara sepatunya yang lain.

Warnanya biru ada gambar kartun Pocoyonya. Modelnya simple dan ia bisa mengenakannya sendiri tanpa bantuan saya. MasyaAllah tabarakallah
Mungkin itu menjadi alasan ia menjadikan sepatu biru ini adalah sepatu andalannya.

Sudah begitu lama sepatu ini belum dicuci, hingga warnanya agak coklat karena kotor. Saya berencana mencucinya hari ini, mumpung matahari sedang terik. Namun saat hendak pergi belanja tadi pagi, ia mencari sepatu andalannya tersebut dan dramapun berlangsung.

“No buk! No atuk ni! No buk!” Ucapnya menolak dipakaikan sepatu yang lain.
(Tidak bu! Tidak sepatu yang ini! Tidak bu!)

“Sepatu Mahira sedang dijemur, masih basah sayang…” jelas saya padanya perlahan.

“No buk! Piss bu! Piss buk!” Mahira memohon agar saya mengambilkan sepatu andalannya itu.

Saya berusaha menjelaskan dengan simple dan perlahan, agar Mahira mau mengerti dan tentunya mengalihkan perhatiannya pada sepatu andalannya itu.

“Hiiiii…Sepatunya kotor ya. Harus diapa ini nak? Di cuuuu…?” Saya mengajaknya berdialog

“Ciiiii….” Melanjutkan ejaan saya. MasyaAllah… Mahira pinter ya dan ibu mau kiss Mahira dulu sini. Iapun memberikan pipinya untuk siap saya kecup.

“Waaah… sepatu yang ini ada gambar bunganya Mahira. Bagus sekali ya? Pakai ini yuk, Ibu mau Mahira pakai ini karena sepatu Pocoyo masih dijemur.” jelas saya perlahan mengalihkan perhatiannya.

“Mau ya pakai sepatu ini? Ada bunganya loh” tawar saya dengan ramah.

“Mauk” Jawabnya antusias.

Alhamdulillah Mahira mau untuk mengenakan sepatu lain, saat sepatu andalannya sedang dijemur. Tidak mudah memang saat sudah nyaman dengan suatu hal kemudian harus mengganti dengan hal lain yang kurang nyaman. Namun ternyata komunikasi produktif ini dapat membuat sepatu andalan Mahira istirahat dulu dijemuran. Hehe…



*Komunikasi dengan Pasangan*

Kamipun pergi berbelanja, saya memang terburu untuk belanja jadi tadi dengan cepat mengambil beberapa bahan yang saya perlukan dan saya masak menu yang mudah karena ternyata Ayah Mahira gasik pulang dan harus cepat ke kantor  lagi tanpa memberi tahu saya terlebih dahulu.

Menu siang ini adalah cah kangkung, tempe goreng, telur gobal gabul dan sambel bawang ala SS. Kilat memasak dalam waktu kurleb 30 menit.

“Kali lain Ayah Mahira konfirmasi dulu ya jika buru-buru” ucap saya dengan perlahan saat Suami sudah selesai menyantap makan siangnya.

“Ya..tadikan beli saja bisa sayang. Kamu jangan sampai repot” ucapnya kala itu.

“ya kan Ayah lebih sedep katanya kalau aku yang masak dan pingin makan di SS. Jadi I do the best for you” Jelas saya baik-baik.

“Iya sayang.. aku terimakasih banyak ya dan maaf tadi lupa kabari” ucapnya agak menyesal.

“ Ini enak banget dan sedep sekali, aku nanti kasih hadiah supaya kamu juga semangat ngodop” Timpalnya lagi dengan berbinar.

Saya hanya tersenyum dan berharap jika ia sedap makannya saja sudah cukup. Namun support system saya ini memang luar biasa. Jika Mahira punya sepatu andalan, suami saya ini juga support system andalan saya. Ia begitu pandai sekali membuat saya kembali bersemangat untuk melakukan aktivitas selanjutnya dan melupakan hal-hal yang membuat kesal sebelumnya. Bukan sekedar hadiah katanya. Tapi karena dia begitu mengandalkan saya sehingga ia wajib membuat saya bahagia dengan segala cara. MasyaAllah.. saya agak melted, ia pulang dengan membawa bungkusan putih. Gamis bewarna dark mint yang cantikpun langsung saya coba.

“Cantik! Orang dan juga gamisnya.” Kaidah 2C yang ia coba turut sertakan.

Hadiah supaya semangat NGODOP ikut tantangan BUNSAY. MasyaAllah.. Komprod ini luar biasa. hehe...





#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Lanjut Baca yuk.. >>>

September 9, 2018

NEW ALENIA (Part 2: My Support System)




DAY04-TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan pasangan*

Kalisari diguyur hujan dengan derasnya, saat hujan entah kenapa isnpirasi tumpah dengan mudah. Saya ceritakan kepada Suami yang saat itu tengah di kantor.

“Sayang.. banyak yang ingin aku tuliskan. Tapi cuma penuh diotak” chat saya kala itu.

“Tuliskan dulu, untuk stok ODOP” balasnya membuat saya geli.

Terkait join ke dalam komunitas ODOP sebelumnya saya sempat dicurigai, komunitas apa sih? Kamu tidak perlu aneh-aneh. Nulis ya nulis saja. Banyak celetuknya yang membuat saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Saat saya diterima menjadi anggota ODOP batch #6 Suami belum sepenuhnya yakin mengenai komunitas ODOP. Anggotanya ada laki-lakinya? Kamu bisa bagi waktu? Kamu bisa nggak nulis setiap hari? Yakin kamu bisa? dan pertanyaan lain yang saya jawab dengan sabar satu per satu.
Hingga akhirnya suatu malam, saya mengadakan diskusi serius untuk menjelaskan terkait komunitas ODOP ini pada suami.

“Sayang.. jadi ada tiga grup nih. Yang pertama grup besar ODOP yang kedua grup kecil yang di beri nama Pulau Buru, terus grup ketiga adalah grup khusus share link” jelas saya begitu antusias seraya memperlihatkan chat-chat yang berhamburan disana.

Saya membiarkan Suami mengikuti tiap chat yang saya ketik disana, aktivitas yang terbuka dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tujuan utama saya hanya satu, membangun habit menulis itu sendiri.
Sejak suami memahami bagaimana sistem ODOP berlangsung, maka iapun support saya dengan sungguh-sungguh. Tips semangat NGODOP tersebut muncul karena hasil dari Komunikasi Produktif antara lain: Ia memberi label tanggal yang bisa ditempelkan dalam karton yang saya temple di dinding setiap saya selesai share link, ia juga mengeprintkan daftar setoran tulisan dengan judul dan detailnya dan bisa saya isi setiap hari. Tak lupa setiap harinya ia mengingatkan saya dengan sekedar bertanya sudah nulis untuk ODOP? Sudah setor link? Terkadang jika anak saya belum tidur, ia mau menemani Mahira di saat saya sedang menulis. Bahkan beberapa waktu ini saya dibelikan minum entah itu wedang jahe susu, kopi kemasan untuk sekedar menemani saya saat mengetik. Alhamdulillah…



Dalam memutuskan untuk masuk dalam suatu komunitas bahkan terlibat dalam aktivitas didalamnya saya selalu biasakan untuk KomProd dulu agar semua hal yang suatu saat saya hadapi, akan dengan mudah dipahami kondisinya oleh Suami.

*Komunikasi dengan Anak*

Hari ini Mahira terbangun pukul 02.00, dalam masa menyapih memang malam hari saya harus siap mental menanggung rasa tidak enak dengan tetangga karena suara tangis Mahira saat merengek dan merajuk bahkan kadang berteriak.
Saat Mahira tantrum saya berusaha mengalihkan perhatiannya dengan suara yang ramah dan intonasi yang lebih rendah dari suaranya. Dengan lembut dan pelan hingga ia mau melakukan aktivitas lain.

Alhamdulillah Mahira mau menghentikan tangisnya dan begitu bersemangat untuk melakukan banyak hal. Mulai dari belajar angka, animal, bermain bersama ibu, bercerita dan membaca buku. Ia pun lupa untuk meminta ASI dan ia mau digantikan dengan minum air putih.

Sankin semangatnya, iapun kelaparan dan saya memasakkan nasi goreng telur untuknya. Ia makan begitu lahapnya hingga adzan subuh sayup-sayup terdengar. Diikuti suara adzan masjid terdekat yang membangunkan Ayah Mahira. Maka kami bertigapun bersiap dan bergegas menuju Masjid bersama.  

Ada tenaga, mental dan kesabaran yang ekstra untuk membersamai buah hati yang tengah masuk masa Weaning With Love. Semua itu tidak mudah untuk dilakukan dan Alhamdulillah saya bersyukur sekali memiliki support system yang luar biasa yang mendukung saya baik dalam semua hal termasuk berkomunitas, beraktivitas bahkan fase WWL. Support System itu adalah My Awesome Husband.

  
Label untuk ngodop


#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 8, 2018

MY SATURDAY: ONE BITE AT A TIME







DAY03-TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan pasangan*

Hari ini hari ketiga #TantanganGameLevel1 kelas Bunda Sayang dan juga starting menulis #TantanganODOP dengan tiga kata kunci yang diberikan. InsyaAllah saya bisa sertakan sekaligus dalam tulisan ini  karena kata kuncinya kebetulan sekali available digunakan. Alhamdulillah, jadi bisa sekali dayung  dua pulau terlampaui. Hehe…

Sabtu kali ini menjadi hari yang super busy, beberapa hal yang harusnya di finishing pada hari Minggu, terpaksa maju dan tertumpuk dihari Sabtu. Itu karena hari Minggu Suami akan pergi ke IPB menemani atasannya. Beberapa pekerjaan rumah saya selesaikan lebih cepat agar besok saya bisa membersamai Mahira.

Mengenai clean house dan membersamai Mahira kami memang berbagi tugas. Misal: Sehabis makan, saat Suami menata tempat makan dan memindahkan piring kotor ke belakang, Mahira bersama saya. Kemudian saat saya mencuci piring kotor, Mahira bersama  Ayahnya. Kondisi lain misal saya mencuci baju, Mahira bersama Ayahnya. Kemudian saat Suami menjemur baju, Mahira bersama saya.



Beberapa pekerjaan bisa diselesaikan dengan melibatkan Mahira dalam aktivitas sebagai bonding time seru. Namun untuk efesiensi waktu, kami biasanya pilih waktu tertentu. Karena hal inilah, siang tadi saya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah dengan istilah One bite at a time.

One bite at a time, dalam materi Manajemen Waktu Kelas Bunda Sayang adalah melakukan setahap demi setahap, lakukan sekarang, pantang menunda dan menumpuk pekerjaan. Sehingga saya mendelegasikan Mahira sepenuhnya pada Ayahnya dalam waktu sekitar tiga jam.

Hari ini saya skip kegiatan memasak dan membeli lauk. Saya membeli rendang telur, sayur sop bakso, tempe goreng, kering otak dan cah kangkung. Cah kangkung adalah salah satu sayur hijau yang saya excuse untuk dapat ditelan dengan lahap karena sejauh ini saya belum pernah menemui ulat saat memakannya. untuk beberapa sayuran lain saya cukup pemilih.

Saat bersantai selepas makan siang, suami rencana akan ke kantor untuk menitipkan uang sumbangan kondangan teman kantornya. Iapun mencari amplop dilemari. Namun tak kunjung jua menemukan.

“Sayang.. habis ini mau ke kantor lagi kan? Sekalian beli amplopnya saja diluar dan sekalian ajak Mahira. Apa bisa?” Pinta saya dengan kaidah 2C.

“Soalnya besok kan sayang mau pergi, jadi aku harus setrika baju hari ini” Jelas saya pada suami.

“Ya..nggak apa-apa Mahira sama aku, tapi kamu jangan capek-capek. Itu kan bisa di setrikakan di laundry” ucapnya berusaha memberiku solusi.

Namun tawaran Suami justru membuat saya tersinggung dan saya berusaha melakukan komunikasi produktif disini. Namun beberapa kali saya menolak dengan baik, Suami kekeuh menyuruh saya untuk menggunakan jasa laundry saja.

“Sayang, mungkin laundry adalah option terakhir kalau aku sudah benar-benar tidak sanggup untuk nyuci dan setrika baju Suami dan anakku. Ini setrikaan tidak banyak, kita bisa lebih berhemat bukan?” ucap saya dengan menatap matanya sungguh-sungguh.

Entah bagian mana dari kalimat ini yang bekerja, namun saya merasakan dengan fungsi dari Intensity of eye contact. Menatap pasangan dengan lembut hingga membuat ia bisa memahami bahwa saya sudah terbuka dan meminta suami percaya saya dapat mengerjakannya tanpa merasa capek. Alhamdulillah.. Mahirapun diajak ke kantor agar bisa bonding time dengan Ayahnya sementara saya menyelesaikan tumpukan baju yang siap disetrika.

*Komunikasi dengan Anak*



Adzan Ashar sudah terdengar, setrikaan sebentar lagi hampir selesai.
Saya mengechek gawai barangkali ada chat dari suami. Ternyata tidak ada. Kemudian sesaat saya meletakkan gawai, terdengar motor suami sudah merapat ke teras. Suara Mahira mengucap mimik mimik pun sudah terdengar. Rasanya gugup sekali ingin segera menyelesaikan.

“Mahira mau mimik nih bu” ucap suami setelah salam dan masuk ke rumah.

Sementara masih ada tiga kemeja lagi yang belum saya setrika. Suami dengan sigap mencuci tangan Mahira dan dirinya.

“Ini Mahira sama ibuk dulu ya..Ayah yang lanjutkan menyetrika” Ucap suami saya seraya mengambil posisi duduk untuk siap menyetrika.

Saat Mahira dengan saya, Mahira merengek untuk meminta mimik (ASI). Saya memang ajarkan kepada Mahira untuk meminta, meminjam ataupun berkata sopan dengan kata “Please”. Namun justru ia merajuk dan menangis, mungkin sankin ngantuknya tadi dibawa Ayah ke kantor dan katanya aktif jalan ke sana kemari.

Kemudian saya bilang dengan intonasi suara yang lembut dan ramah agar Mahira memintanya dengan baik.

“Mahira anak Ibu yang sholiha, coba bilang yang baik. Bagaimana bilangnya?” pinta saya kala itu.

Ia merajuk dan saya tetap tidak memberikan, dengan intonasi yang sama saya meminta Mahira untuk berkata dengan baik tanpa merajuk dan menangis.

“Mahira stop menangis dan bilang please atau no mimik?” saya memberikan pilihan kepada Mahira kala itu.

“Piss buk..piss buk..iyya au mik” ucap Mahira seketika dengan manis dan lembut. Iapun berhenti menangis.

Sayapun memberikan Mahira ASI dan ia tertidur hanya dalam waktu yang singkat. Saya kembali mengambil alih pekerjaan setrika dan memasukkan baju-baju ke lemari. Suami sayapun turut membantu. Alhamdulillah.. betapa saya senang dapat melakukan komunikasi produktif hari ini, sekalipun rasanya setiap lelah dalam melakukan One bite at a time tidak selalu sesabar ini. Semoga kedepannya saya  bisa tetap dengan sabar yang sama sekalipun raga sudah limit tenaga. Aamiin..


Rasanya lebih puas jika setiap baju yang dikenakan Suami dan Anak setiap hari adalah
hasil cuci setrika tangan saya sendiri. hehe,,,



#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#TantanganODOP1
#onedayonepost
#odopbatch6


Lanjut Baca yuk.. >>>

September 7, 2018

ONTY POCKY-POCKY







DAY02-TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan Anak*

Menjalin Komunikasi Produktif dengan pasangan akan membentuk FoE dan FoR kita. FoE dan FoR ini sudah saya tulis sebelumnya dalam tautan berjudul Good communication Skill. Lalu apa tujuan terbentuknya FoE dan FoR yang sama? Jadi ketika ada informasi yang datang kepada kita akan dipahami secara sama. Ketika saya menyampaikan sesuatu, pasangan juga akan menerima pesan tersebut seperti yang kita inginkan.

Mengenai komunikasi produktif, saya juga berusaha menerapkan hal tersebut kepada keluarga dalam arti melibatkan anggota keluarga besar seperti Mama, Papa, Ibu, Bapak, dan saudara saudara dari saya dan juga dari Suami.

Hari ini Onty, panggilan Mahira kepada adik Suami saya, sedang rindu kepada keponakannya. Kami melakukan video call cukup lama, bercerita banyak hal dan berlanjut hingga aksi membuat Mahira nangis. Onty memang sering kali gemas dan menggoda Mahira hingga ia merengek dan menangis. Saat menjadi tante memang begitu mungkin ya aksinya, gemes lihat ponakannya merengek hingga menangis.

“Ini Onty punya Pocky-pocky, yummy… enak sekali lho” seraya ia menunjukkan wadah jajan yang menggiyurkan lidah Mahira.

Dengan sikapnya yang terus menerus demikian, Mahira merengek.

“Inta! inta! mauk! mauk!” rengek Mahira bilang Minta dan Mau berulang kali.

“Mau yaa… ini ambil.” Goda Ontynya dalam Video Call kami.

Saat itu saya masih berpikir calm down, namun setelah Mahira semakin hebat merengek dan berakhir tantrum. Saya izin menutup percakapan dan berusaha menenangkan Mahira. Mahira masih terus merengek Buk! Buk! Inta bu! Mauk! Seraya menangis tersedu. Tentunya ia begitu menginginkan Pocky-pocky yang ditawarkan Ontynya.



Saya coba tawarkan snack lain yang ada di rumah, namun ia melemparnya dengan kuat dan semakin tantrum. Saya coba ambil nafas dan bersikap tenang. Kemudian saya ambil gawai dan mencari gambar Pocky-pocky via google. Mahira saya tunjukkan gambar tersebut dan terdiam sejenak, setelah itu kembali merengek.

Dengan mengendalikan intonasi dan menggunakan suara ramah, saya menemukan kaidah baru yaitu dengan mengajaknya berimajinasi.

“Mahira, lihat ibu sayang. yam..yam..yam..” seraya saya seolah mengambil makanan tersebut dilayar gawai.

“Mahira mau? Sini aaak dulu.” Tawar saya sambil menyodorkan suapan tangan yang kosong dari gambar di google.

Mahira yang saat itu menangis berangsur diam dan mendekat ke arah saya. Membuka mulutnya dan seketika saya berimajinasi bersama seolah makan pocky-pocky.
Pada suapan berikutnya saya melakukan gerakan yang sama, namun saya isi suapan tangan saya dengan biskuit lain yang kami miliki di rumah. Mahira pun mengunyah dengan lahap, ia kembali happy bahkan begitu riang sekali.

“Nanti ibu titip Ayah untuk membeli Pocky pocky ya.. sekarang makan biskuit ini dulu, Oke anak hebat?” Ucap saya yang diliputi syukur sebanyak mungkin karena Mahira mampu teralihkan. Mahirapun mengangguk seperti paham apa yang saya sampaikan.


*Komunikasi dengan Pasangan*


Menanggapi sikap seperti ini pada awalnya saya selalu merasa kesal dan protes terhadap Suami saya mengenai sikap adiknya. Kebetulan juga saat Mahira menangis, Ayahnya sempat telpon dan saya angkat dengan terburu menutupnya kembali. Suami mengatakan jika ia akan pulang sebentar lagi untuk makan siang setelah jumatan.

“Mahira nangis kenapa sayang?” tanyanya kepada saya.

“Mau Pocky-pocky, tadi Ontynya telpon dan pamer jajan itu. Terus dia jadi pingin kan.” Jelas saya masih agak sedikit kesal.

“Ya sudah, nanti beli aja. Beli dimana?” Tanyanya dengan santai.

“ Alfa juga ada. Rasa coklat atau oreo ya mas, gambarnya aku kirim. Terimakasih” Balas saya dengan menggunakan kaidah 2C.

Menyampaikan sesuatu apalagi urusan titip menitip memang harus jelas, dari pada salah beli. (Readers yang sudah bersuami, pasti paham betul terkait urusan titip menitip beli  sesuatu ke suami, iya kan? Haha)

Kaidah 2C yaitu Clear dan Clarify yaitu menyusun pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
Kaidah Choose the right time Yaitu memilih waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.  (Sumber: Ebook Kompro Materi Bunda Sayang)

Sesampainya di rumah, kami makan siang bersama. Selepas kami makan suami menanyakan apa ada yang ingin kamu sampaikan? Suami sangat tahu, saya masih nyimpen unek-unek kali ya.. akhirnya saya coba melakukan komunikasi produktif dengan dua kaidah diatas.

Choose the right time, karena beliau menanyakan langsung kepada saya. Jadi ini kesempatan saya menyampaikan.
“Mas, Aku kurang suka kalau Onty buat Mahira merengek dan nangis. Nanti kasian Mahiranya jadi kebiasaan begitu” Ujar saya dalam aksi protes.

“Ya..kamu ini jangan selalu ambil hati, namanya juga gemes, kangen ya wajar godain anak kita. InsyaAllah Mahira nggak apa apa” Jawabnya kala itu yang membuat saya semakin kesal.

Dalam FoR saya kala itu sangat berbeda dengan suami sehingga ada rasa kesel yang masih hinggap ketika mendapati respon suami begitu. Saya menganggap suami tidak memahami dampak apa yang akan terjadi dengan anaknya jika sering dibuat menangis atau merengek.

Kemudian saya gunakan rumus di bawah ini dalam  menyampaikan komunikasi produktif  yaitu:
BILA NALAR PANJANG EMOSI KECIL
BILA NALAR PENDEK EMOSI TINGGI

Maka saya berusaha panjangkan nalar saya, membuat excuse besar terhadap sikap orang lain yang mungkin kita tidak suka dan memahami berdasarkan FoRnya. Sehingga dengan kecilnya emosi, saya akan nyaman untuk turut menyantap Pocky-pocky. J


Alhamdulillah.. bisa barengan makan pocky-pocky tanpa emosi.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day05













Lanjut Baca yuk.. >>>

September 6, 2018

DARI MEZZANINE HINGGA MUFFIN






Bismillah...
Pembukaan dulu ya Readers...
Saya sudah menyelesaikan kelas matrikulasi, saat ini saya melanjutkan untuk mengikuti kelas Bunda Sayang. Alhamdulillah dari puluhan pendaftar, saya resmi diterima menjadi Mahasiswa Kelas Bunda Sayang Batch #4 di IIP.  Ada dua materi Pra-Bunsay  yang sudah saya lewati dan sekarang saya harus bersiap dalam materi inti kelas Bunda Sayang selama beberapa bulan ke depan.

Materi pertama adalah mengenai “Komunikasi Produktif”, kebetulan ini masih menjadi PR besar bagi saya dalam menjalin komunikasi produktif baik dengan pasangan maupun dengan ananda. Peran komunikasi yang saya anggap sangat penting, karena komunikasi yang baik adalah kunci menjalin hubungan yang baik.

Saya sangat antusias mengikuti materi pertama ini dengan mengikuti Tantangan Game Level 1 selama tujuh belas hari kedepan, dimulai per 6 September 2018. Sebelumnya kami semua Mahasiswa diberikan materi berupa Ebook yang menjadi dasar untuk mengerjakan Tantangan Game Level 1. Dalam Ebook tersebut, ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi antara saya dan pasangan serta antara saya dan juga ananda.

InsyaAllah dibawah ini saya akan share keadaan yang bisa menjadi rekam jejak saya dalam belajar komunikasi produktif dengan pasangan dan juga ananda. Semoga dengan menuliskannya, saya bisa terus melakukan evaluasi untuk mencapai komunikasi produktif dan untuk readers dapat mengambil secuil kebaikan dari pengalaman saya.


DAY01-TantanganGameLevel1
*Komunikasi dengan pasangan*




Sebelum tanggal 5 September saya coba mengkomunikasikan kepada suami terkait acara bedah buku di Kementrian Keuangan sebagai rangkaian acara Festival Literasi 2018. Salah satu family project kami di bidang literasi adalah berkunjung ke toko buku, membaca buku bersama, membacakan buku Mahira, berkunjung ke acara bedah buku, perpustakaan dll.

Namun Suami saya belum merespon saya dengan serius, dia sekedar mengiyakan saja. Sikapnya yang demikian membuat saya cukup kesal apalagi saat menjelaskan saya begitu antusias bahkan dengan panjang kali lebar. Haha..

Kemudian saya berlakukan Kaidah: I am responsible for my communication result. Seketika saya mengubah mindset dengan berpikir positif terkait keadaan suami saat itu.  Apa mungkin saya belum menyusun kalimat dengan benar, sehingga sepertinya sulit untuk beliau memahami maksud saya. Mungkin juga karena pekerjaan untuk Papua Terang saat itu masih belum selesai, sehingga ia belum bisa fokus untuk memahami proposal saya kala itu.

Saya mencoba kembali menyampaikan kepada Suami pada waktu yang tepat, disaat pekerjaan sudah selesai dan malam hari menjelang tidur. Kaidah Choose the right time , sangat efektif digunakan karena di waktu yang tepat tersebut fokusnya hanya kepada saya atau tidak terbagi sehingga memudahkan Suami untuk merespon dan memahami apa yang saya sampaikan. Alhamdulillah beliau meresponnya dengan antusias bahkan berjanji akan mengambil libur untuk menemani saya dan Mahira datang pada acara tersebut.  


Ruang Mezzanine ada di gedung Djuanda 2, kami berjalan dari shelter Budi Utomo melalui pintu masuk Gedung KPPN dan snow ball question hingga menemukan ruangnya. MasyaAllah... judulnya jalan sehat. hehe...

Tibalah waktu kami menuju Mezzanine, yaitu nama salah satu ruangan di Kementrian Keuangan sebagai tempat berlangsungnya acara. Suami memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum saja, karena hari itu jadwal kendaraan ganjil. Baiklah.. tentunya akan menjadi perjalanan panjang karena kami baru saja mencari tahu terkait kendaraan yang harus dinaiki untuk menuju lokasi.

“Ini kan tempat Presi nikah, sayang” Ucap suami saya saat saya tunjukkan alamatnya.

“Oh iya ya.. tapikan dulu tinggal nurut aja bapak yang nyetir. Mas coba cari tahulah naik-naiknya gimana?” Jawab saya dengan harap.

“Iya..” Balas suami saya dengan serius.

 ***

Kami berpetualang dengan berbagai kendaraan umum, naik grab ke Stasiun UI kemudian perjalanan dengan KRL menuju Stasiun Juanda. Menuruni anak tangga yang seabrek dan menaiki kembali anak tangga menuju shelter busway ke arah PGC. Kami harus transit di Pal Putih dan berlanjut ke arah shelter Budi Utomo. Masih dalam perjalanan panjang, kami harus berjalan kaki menyusuri komplek Kementrian Keuangan untuk mencapai Mezzanine.

Sebetulnya ada rasa kecewa yang menghebat karena suami ternyata belum mencari tahu rute dengan pasti, jadi perjalanan ini adalah hasil snow ball question ke petugas kendaraan umum. Alamat kami tiba dengan keterlambatan lebih dari tiga puluh menit. MasyaAllah..

Saya  menyadari, jika saat itu mengabaikan kaidah Clear and Clarify. Sehingga dampaknya saya harus merasa kecewa. Pun saat saya kecewa suami juga tidak tahu, akhirnya saya mencoba mengedepankan nalar saya dan memberlakukan kaidah Clear and Clarify. Mengatakan kepada suami dengan bahasa yang mudah untuk dipahami dan juga mengklarifikasi mengenai dampaknya mengabaikan saran saya kala itu.

Suami saya menyadari jika ia mengatakan “iya” namun kenyataannya ia belum berusaha mencari tahu kendaraan apa saja yang digunakan. Akhirnya iapun meminta maaf, namun anehnya setelah ia meminta maaf nalar saya kembali pendek dan merasakan kembali kecewa itu. Hingga pada akhirnya saya luluh hanya dengan traktiran roti maryam rasa coklat di Stasiun Pondok Cina. Haha...

*Komunikasi dengan Anak*



Lelahnya fisik karena perjalanan yang hampir memakan waktu seharian membuat saya menunda pekerjaan rumah. Namun demi kenyamanan bersama perlahan pekerjaan rumah dilakukan satu persatu dibantu dengan suami. Disaat sprei sudah diganti, kipas angin cling bersih, lantai wangi, saya berniat untuk membuka laptop.

Saat itu saya sedang me time dengan satu cup Muffin yang suami saya beli di Bread Talk. Anak saya terbangun dan mendekati saya yang urung menyalakan laptop karena ia tengah terjaga. Diraihlah muffin tersebut dengan sedapnya ia makan. Saya biarkan karena memang saya tau, jika ia menyukainya.
Namun setelah beberapa menit kemudian, dengan cepat muffin tersebut berubah menjadi seperti hamburan pasir coklat di atas sprei yang baru saya diganti. Huwaaaaaaaaaaa..... hingga hampir ke seluruh penjuru lantai yang baru saja dipel dan tentunya anak saya bleput coklat di baju dan wajahnya.

Dia hanya tersenyum, sambil terus asyik bermain tanpa mengetahui apapun. Saat itu saya minum air putih satu gelas, menarik nafas dan membalas senyumnya sambil berkata:
“Waaaah... kotor sekali ya.. Sapunya mana ya? Yang namanya sapu itu yang mana ya?”
Ucap saya dengan harapan Mahira akan menyadari kesalahannya.

Iapun bergegas mengambil kipas dan mengngibas sprei dengan kipas tersebut, setalah saya bantu maka saya ajak ia untuk membersihkan diri, namun ia dengan semangat ke arah sapu berada dan mengambil sapu untuk membersihkannya.

“MasyaAllah... jadi anak hebat! kalau lihat lantai kotor langsung dibersihkan. Sini Ibu cium dulu anak hebatnya!” dan Mahirapun menghambur kearah saya, memberikan bagian pipinya yang siap saya kecup.

Dia memeluk saya tanpa tantrum sedikitpun, mungkin ia menyadari kesalahannya. Saya melihat ada sisi tanggung jawab yang ia lakukan dan dia merasa ini bagian yang seru yaitu menyapu. Sekalipun saya harus dua kali kerja itu tidak akan menjadi soal, karena senyum itu tetap tersungging disana dengan indahnya dan hati saya merasa bahagia. MasyaAllah...

Saya sudah berhasil melakukan beberapa poin komunikasi produktif dengan anak, seperti mengendalikan emosi, intonasi suara dan menggunakan suara ramah, jelas dalam memberikan pujian dan itu menjadi PR saya agar dapat konsisten dalam melakukan komunikasi produktif dengan Mahira.

Hari ini saya belajar banyak hal untuk mempraktekkan Komunikasi Produktif, bahkan dari Mezzanine hingga Muffin. Mezzanine adalah ruang tambahan yang berada diantara lantai dan plafon. Kata Mezzanine sendiri berasal dari Italia yang berarti bagian tengah atau di tengah. Seperti harapan saya kedepannya bahwa suami dan anak saya akan selalu saya letakkan di tengah atau prioritas karena keberadaan mereka membuat hidup saya lebih manis, semanis kue Muffin, sekalipun berhamburan dilantai Mezzanine.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6


Lanjut Baca yuk.. >>>