April 9, 2019

Day 13- Mahira nonton Drum band

Hari ini TPQ Tarbiyatus Sibyan mengadakan gelar acara khotmil Quran. Bagi kami, gelar acara ini merupakan acara besar yang dinantikan oleh kaum ibu terutama ibu yang menyekolahkan anaknya di TPQ tersebut.

Sebelum khotmil Quran berlangsung, anak-anak di arak keliling desa. Dengan menggunakan becak. Aksi drum band MI dan MTS pun bergema di desa kami.
Mereka semua sangat bersemangat.

Tak satupun saya lihat yang nampak sedih, mereka (anak-anak) berbinar dan senang mengikuti rangkaian acara ini...

Mahira baru saja bangun dari tidur siangnya, kami menginfokan jika ada aksi drum band yang akan lewat di depan rumah. Iapun bilang,

"Ibuk lihaaattt!!"

"Ibu ketudung, Ibu sepatu."

Sekalipun agak terburu, ia tetap ingin menggunakan kerudungnya dan mengganti pakaiannya agar menutup aurat. Memang hal ini sudah saya biasakan dari ia bayi, sehingga tak heran jika Mahira berlama-lama dengan hijabnya.

Saat drum band lewat, ia memperhatikan sungguh-sungguh. Ini kali pertamanya ia melihat aksi semacam karnaval.

"Ibu, barongsainya habis." Ucapnya membuat saja terkaget.

"Barongsai? ini bukan barongsai nak, tapi drum band." Jelas saya.

Ia memang pernah melihat barongsai di Pekalongan dan juga saat masih di Jakarta, pakaian mereka tentu beda tapi ada kemiripan dengan bulu-bulu merah khas etnis cina. Saya menatap dengan baik raut wajahnya yang baru saja bangun tidur. Ia masih dapat fokus mengingat beberapa kejadian lalu yang ia kaitkan pada hari ini.

Sekalipun ia tidak begitu enerjik mengingat masih lemas karena bangun tidur, namun memorinya cukup bagus mengingat beberapa kejadian yang sudah lalu. Iapun bercerita, mengingat jika dulu pernah di pegang oleh ondel-ondel saat nonton di pinggir jalan. Ia bilang,

"Hiya kasih uang ondelnya."

"Terus kalau drum band?" tanyaku

"Ndak kasih buk. Ndak ada ondelnya."

Iapun mencoba memahami perbedaan aksi drum band, barongsai dan ondel. Saat saya menjelaskan ia sangat serius menyimak. Masyaallah..






#Day13
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 8, 2019

Day 12- Si Perfeksionis

Bertambahnya hari saya semakin melihat banyak hal yang nampak pada diri Mahira. Tidak hanya fisiknya saja, melainkan cara bicara dan kebiasaan-kebiasannya sehari-hari. Karena Mahira sebagai peniru ulung saya memang sangat berhati-hati menampilkan semua hal yang cenderung dicopy olehnya.  Namun tanpa di sadari beberapa kebiasaan kami orang di rumah menjadi kebiasaan yang dimiliki juga oleh Mahira. Salah satunya adalah kebiasaan menyapu. 


Tak jarang ia melihat anggota keluarga menyapu, dengan senangnya ia juga ikut menyapu. Ia selalu ingin menggunakan sapu yang kami gunakan, namun karena kami menjaga ototnya agar aman maka ayahnya membelikan alat clean up untuk seusianya. Ia begitu sennag sekali dan hampir setiap hari menggunakannya. 


Ada yang berbeda sore ini, ia menggunakan sapu kecilnya untuk menyapu teras dekat fishpond dekat garasi. Biasanya ia hanya menggunakannya untuk di dalam rumah. Kami memiliki pohon kenanga yang daun dan bunganya sering berjatuhan di sana, sehingga Mahira sering kali kesal dan terus menerus membersihkannya jika melihat lantai nampak penuh daun. Sebelumnya saya sudah menyapu dan mengumpulkannya di bagian bawah pohon, nanti biasanya saya ambil dan saya buang di tempat yang seharusnya. 


Melihat daun dan bunga kembali berjatuhan ia pun tiba-tiba mengambil sapu dan menyapu lantai hingga semua sisi bersih sekali. Ia tidak ingin melewatkan ada bagian dari daun atau bungan yang berjatuhan belum tersapu. Masyaallah... Dengan semangatnya ia menyapu layaknya orang dewasa, mengumpulkan di tempat yang  sama dengan saya, bahkan ia jauh lebih perfeksionis karena ia tak melewatkan bagian lain yang terjatuhi daun dan bunga. Ia begitu cool dan penuh rasa kesungguhan dalam mengerjakan pekerjaan sukarelanya itu. 

Saya sangat bersyukur Mahira memiliki inisiatif untuk itu namun di sisilain saya terkadang lelah mengikuti beberapa keinginannya yang harus begitu pas. Seperti menyapu harus bersih, makanan jatuh harus segera di ambil, meletakkan kembali barang pada tempatnya, menggunakan obat saat gatal\digigit nyamuk atau pegal, makan harus sesuai lauknya dan membuang sampah pada tempatnya. 


Beberapa hal tersebut kadang membuat saya khawatir jika ia ada di tempat lain ataupun saat tidak ada akses untuk menyediakan sesuai kemauannya. Kami masih berusaha mengobservasi lagi potensi bakatnya tersebut dari sifatnya yang perfeksionis.






Menjadi perfeksionis memang bisa menyenangkan. Namun agar tidak terjebak pada situasi yang melelahkan, si Kecil juga perlu belajar untuk relaks.


#Day12
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 7, 2019

Day 11- Hello Finger

"Ibu.. tolon ambilkan meja Hiya." Pintanya di waktu semua orang masih lelap dalam tidur.

Sebelum subuh ia terjaga dan senang melakukan aktivitas apapun. Namun kali ini ia memilih untuk stay di atas bed dengan meja lipatnya. Ia ingin membuat finger yang ia cetak dari jemarinya sendiri.
Ayahpun turut membantu Mahira menggambar tangannya, kemudian saya membantu menebalkan garis untuk membantunya mengenal batas mewarnai.

Iapun memilih sendiri warna untuk gambarnya.

"Ibu, pakai warna merah."

"Warna ini dak keliatan." Sambil memperlihatkan warna biru muda yang begitu tipis di drawing book.

Kemudian iapun meminta tolong saya untuk menggambar finger, saya menyebutkan warna dan ia bersedia mencari warna tersebut di dalam tempat pensilnya.

"yang ini kita kasih warna hi..jau!"
"Coba mana warna hijau?" tanya saya.

"Emmm... mana ya? mana ya?" mimiknya seolah sambil berpikir.

setelah beberapa saat ia bilang, "Ini diaaaaa....ketemu." Wajahnya penuh dengan tawa yang begitu menggemaskan. Masyaallah.

Mahira pun mewarnai dengan begitu semangat. Ia bertanya apakah caranya memegang pensil warna sudah betul? Ia menanyakan hal tersebut saat saya tidak mengarahkan seperti biasanya.
Biasanya saya selalu mengingatkan,

"Mahira yang betul pegang pensilnya."

Namun saat saya tidak mengingatkannya, iapun menanyakan kepada saya.
Ia berusaha tetap komunikatif walaupun tengah sibuk mewarnai gambarnya dan sayapun berusaha meresponnya agar proses mewarnainya jadi semakin semangat.


#Day11
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 6, 2019

Day 10- Senyum adalah sodaqoh

Mengenalkan Mahira pada macam-macam sadaqoh sedini mungkin. Sodaqoh melalui hal sederhana dulu seperti senyum.

Ia begitu suka senyum. Sejak kami melantunkan anjuran untuk senyum dan mencontohkannya sesering mungkin. Beberapa minggu ini dia begitu semaraknya mengingatkan kami akan Sodaqoh yang paling sederhana tersebut.

"Ibu, senyum." Perintahnya pada saya.

Dalam setiap kesempatan yang ia butuhkan saya tersenyum. Sepertinya melihat saya tersenyum membuat kesan tersendiri untuknya seperti "Ibu baik-baik saja."
Begitupula perintah lain yang sering ia dengungkan kepada kami, karena kebiasaan kami terhadapnya. Seperti
"Ibu sabar ya.."

Maka ketika saya sedang kurang bersemangat. Dialah yang mengingatkan saya untuk senyum.

Maka ketika saya sedang hampir emosi. Dialah yang mengingatkan saya untuk sabar.

"Senyum itu apa Mahira? " tanya saya
"sodaqoh." Jawabnya dengan senyum.

"Sabar itu gimana sayang?" Iapun
Mengelus dada saya sambil tersenyum.

Masyaallah.. Sekalipun hal ini sangat sederhana, namun Ibu ingin Mahira juga bersama-sama gemar sodaqoh. Alhamdulillah.. Perlahan kebiasaan yang kami lakukan itu, poin plusnya sangat terasa untuk kami sendiri.

Dalam acara pernikahan saudara kali ini. Mahira begitu happy. Ia tersenyum saat melihat banyak saudara mengarah padanya. Memang Mahira tidak mudah membaur dengan cepat, kadang malu-malu dulu, ia selalu protect terhadap dirinya, mengawasi satu persatu orang disekitarnya dan lebih nyaman berkegiatan sendiri. Namun sesekali membutuhkan untuk diperhatikan dan ia akan perhatian dengan orang tersebut. Jika sudah kenal baik, ia yakin orang tersebut nyaman untuk dirinya ia mulai melakukan communication dengan caranya. Seperti senyum, menyapa, menawarkan sesuatu. Masyaallah tabarakallah...

Saya melihat bakat tersendiri pada diri Mahira yang saya nilai sebagai sikap yang wara' dan juga gemar mengingatkan.



#Day10
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>

April 5, 2019

Day 09- Mahira Sinoman



















Sinoman menurut KBBI adalah sekelompok pemuda yang membantu orang yang sedang mempunyai hajat sebagai pelayan tamu (terutama di pedesaan). 

Mungkin menjadi hal umum jika pernikahan di kota itu tanpa ada sinoman, karena urusan apapun terkait pelayanan bahkan makanan akan di serahkan oleh Wedding Oraganizer ataupun jasa catering. Beberapa kebiasaan pernikahan modern ini sudah banyak juga di adopsi oleh orang-orang daerah, sehingga tak jarang MUA berbakat juga muncul dari daerah. 

Namun pernikahan saudara kami kemarin adalah pernikahan yang semua preparenya dilakukan sendiri terutama dalam mengurus makanan untuk tamu, saudara kami memasak di dapur miliknya. Proses memasaknya itu biasanya di bantu para tetangga, saudara yang pandai di pekerjaan masing-masing. Tak jarang di pedesaan masih banyak orang yang ringan tangan membantu pekerjaan saudaranya yang punya hajat. 

Seperti membungkus jajan kering, mencuci gelas piring, menyajikan minuman, membungkus berkat, membuat aneka kue basah dll. Sinoman ini biasanya dilakukan oleh semua usia, begitulah jika di desa kami. Namun KBBI menjelaskan bakhwa hanya sekelompok pemuda saja. Mungkin beberapa tempat lain ada yang demikian. Tapi saat acara di saudara kami kemarin kebanyakan orang-orang yang sudah tua. Mereka menahan kantuknya untuk bekerja membantu saudara dalam segala hal persiapan pernikahan.

Mahira saya ajak bersama membungkus lemper bersama mbah-mbahnya yang cukup banyak. Saat ia tampak jenuh terutama karena suasana yang hiruk pikuk dan banyak  nyamuk, saya mengajaknya keluar. Iapun mulai happy lagi, bertemu sebayanya, melihat mbahnya mengatur posisi peletakan meja prasmanan dan dengan pedenya ia bertingkah layaknya penjual. 

"Ibu.. beli baso." Ucapnya di dekat stand makanan untuk prasmanan besok.

Saya baru menyadari bahwa diamnya Mahira ternyata ia begitu memperhatikan dengan baik apa yang di ucapkan saudara bahwa stand ini nantinya untuk bakso dan grombyang. Dalam batinpun aku terkaget dan bertanya padanya, 

"Kata siapa ini untuk jualan bakso?"

"Iyaaa... basooooo Ibu." Ucapnya tegas.

"Oke,,,oke itu besok untuk tempat bakso."

"Baksonya mana Ibu?" tanyannya lagi

"Baksonya besok ya nak, besok basonya akan di layani di sini."

Percakapan kamipun mengundang banyak pasang mata saudara, karena Mahira berkali kali merengek minta segera bakso di sajikan. Beberapa orang membantu saya untuk menjelaskan kepada Mahira dan ia baru percaya jika baksonya disediakan besok. Masyaallah..

Mahirapun membantu hal lain, saya ajak ia mengechek toples jajan. Sambil ia makan kacang dengan sedapnya. Kemudian dia menuju pelaminan. Ia begitu aktif sekali saat kamera saya terarah olehnya, sehingga saya memintanya duduk. Iapun duduk dengan senyum manisnya, ia bilang jika senyum adalah sodatoh (Sodaqoh).

Mahira lihat, ada bunga yang lepas. Dengan kerelaan hatinya iapun mau membantu saya memasang bunganya lagi dan merapihkannyaa. Semoga Mahira paham hal lain yang merupakan bagian dari sodaqoh yaitu saling membantu dalam sabar dan ikhlas. 




#Day09
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Lanjut Baca yuk.. >>>