April 30, 2019

Day-06 Mengenal Nominal Uang Koin (Picture Macth)



#Day 06

Beberapa practice dari tantangan game level 8 ini ada yang saya tambahi dan saya geser dari plan. Tentunya setelah melakukan beberapa pertimbangan dan melihat respon serta hasil belajar bersama Mahira.

Pada hari keenam ini saya memutuskan untuk mengenalkan nominal uang koin kepada Mahira. Pada hari pertama saya memang sudah mengajarkan nominal, namun masih secara general karena lebih kepada memberi tahu Mahira bahwa ada uang kertas dan koin. Pada pertemuan kali ini, saya mengangkat kembali materi mengenalkan nominal uang, tapi khusus uang koin.

Setiap barang memiliki harga yang berbeda
Sebelum menginjak ke plan selanjutnya salam mengenalkan kebutuhan, saya ingin Mahira memahami sedikit hal mengenai harga. Setidaknya mengenalkan lebih dini apa itu harga atau nilai dari sebuah barang yang dibelinya.

Anak-anak mempunyai pikiran jika semua barang memiliki harga yang sama, yang pemting bisa dibayar dengan uang. Berapapun nominalnya. Tumbuh menjadi anak yang ngerti duit, anak-anak semakin kritis dengan semua hal yang di sampaikan orang tua baik pada anak maupun perbincangan dengan orang lain. Misal saja, orangtua sudah berkata jika ia tidak ada uang lagi. Maka anak-anak tidak mudah percaya. Banyak respon anak yang tak terduga dan hal itu menunjukkan kemampuan anak-anak dalam menganalisis. Beberapa kasus saya dengar dan lihat dari teman dan tetangga.

"Ambil aja di ATM."
"Mama kan bisa pinjem uang budhe atau mbah."
"Mama kenapa nggak minta Papa aja?"

Respon anak-anak ketika ibunya bilang tidak ada uang begitu beragam. Sehingga saya semakin bersemangat mengajarkan Mahira cerdas finansial sejak dini. Anak-anak yang beranggapan bahwa setiap barang memiliki harga yang sama harus kita bantu agar memahami bahwa setiap barang memiliki harga yang berbeda. Dengan itu pengenalan nominal sangat perlu dilakukan oleh orang tua.

Pada pengenalan nominal kali ini, saya fokus mengenalkan Mahira pada nominal uang koin. Mengingat usianya yang baru dua tahun lebih, saya kembali memikirkan cara yang tepat agar ia mudah memahami apa yang saya maksudkan. Tidak memaksakan juga karena tujuan awal hanya pengenalan.

Mengenal nominal uang koin (permainan picture match)

Tujuan:
-Mengenalkan nominal uang koin 500, 200 dan 1000.
- Display uang ada tampak depan dan belakang.

Kegiatan:
Membuat card berbentuk teddy bear dengan bahan bekas. Seperti kardus bekas bandeng presto yang saya potong sesuai pola. Kemudian bagian belakangnya saya lapisi kertas kado sisa yang biasanya saya kumpulkan dan saya manfaatkan ulang misal bebikin macam ini.
Print tampilan uang koin ambil dengan bantuan google.



Ayah bertugas merapihkan pola
Mahira bertugas membalur card dengan lem.
Ibu menempel kertas pola dan kertas print gambar uang koin serta dokumentasi.

Setelah selesai kami mulai mengenalkan nominal ini dengan cara Mahira diminta mencocokan gambar yang saya minta. Seperti video dibawah ini.

Respon Mahira
Ia sangat senang sekali, ia begitu all out dalam membantu kami menyelesaikan pembuatan card untuk permainan picture match. Berkali-kali ia meminta untuk turut menggunting namun dengan bersabar untuk memberitahunya maka iapun mau diberi tugas lain. Mahira sangat kooperatif dan mampu menyelesaikan picture match saat saya bolak-balik. Walaupun sempat ada yang tertukar.




#KuliahBunsayIIP
#Tantang10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 29, 2019

Day 5- Fungsi uang part 3 (Kewajiban berbagi)




"Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberi infak, niscaya Allah akan menyempitkan rezekimu." (HR. Al-Bukhari)

#Day 05
Alhamdulillah sudah memasuki hari kelima tantangan game level 8, sesuai plan selanjutnya mengenalkan fungsi uang kepada Mahira. Kali ini saya akan mengenalkan fungsi uang sebagai kewajiban berbagi. Berbagi disini tentu saya arahkan kepada berbagi rezeki, rezeki yang dibagi adalah sebagian uang yang kita miliki. Bagaimana kegiatan hari ini dapat berlangsung dengan baik? Tentunya semua atas izin dari Allah yang telah memberi saya kemampuan dan semangat untuk menjalankan tiap proses pendidikan untuk Mahira. Namun, saya juga melakukan banyak upaya untuk memahamkan Mahira kepada konsep berbagi jauh sebelum hari ini.

Perjalanan dalam memahamkan proses berbagi untuk Mahira.
Sebetulnya menurut saya perlu prepare panjang untuk mengenalkan Mahira pada kewajiban berbagi. Saya memang memulainya sejak saat di dalam kandungan karena saya meyakini, sekolah pertama bagi anak berlangsung sejak ia ada dalam rahim ibunya. Sepertinya akan menjadi pekerjaan ekstra bagi orangtua. Jika misal kelak kita ingin anak untuk ikhlas berbagi apa yang ia miliki tanpa eyel-eyelan jika tidak dilakukan proses pengenalan mengenai berbagi sejak dini. Saya melakukan ini semua, karena saya kelak ingin ia tetap berbagi dengan ikhlas kepada siapa saja yang membutuhkan bantuannya baik ide, materi, tenaga dalam hal kebaikan. Aamiin.

Melibatkan ia dalam kegiatan berbagi sangat mengasyikkan. Seperti adrenalin rush yang after finish membuat saya bahagia. Saat ia lahir juga demikian, sampai akhirnya saya mengajarkan konsep berbagi melalui sebuah permainan motorik saat ia berusia tujuh bulan. Saya membuatkannya koin dengan bahan dari kardus untuk dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang saya buat dari dus sepatu. Kegiatan ini adalah kali pertamanya saya mengenalkan padanya stimulus menabung, walaupun tujuan awalnya adalah berlatih motorik halus. Namun kegiatan ini sangat berdampak positif.




Kemudian saya terus menerus kenalkan Mahira pada kegiatan berbagi lain, tentunya dengan tauladan dan melibatkan ia secara langsung. Misal saja kegiatan ramadan berbagi yang diadakan IP Semarang, berbagi makanan dengan tetangga, meminjamkan mainan dengan teman, kegiatan bersama S3, kegiatan santunan bersama Lazis, kegiatan santunan di Mizan Amanah, memberi bantuan kepada anggota keluarga di rumah, menawarkan bantuan kepada anggota keluarga di rumah, dan kegiatan santunan rutin dengan anak-anak yatim piatu yang kami jadikan Family Project. Semua kegiatan berbagi saya kenalkan bahkan hanya sekadar senyum. Semoga istiqomah. Aamiin.








Saya dan suami sepakat kelak kebiasaan orangtua yang menauladani berbagi, dapat terekam dalam otak anaknya sehingga semoganya anak tersebut dapat tumbuh menjadi anak yang memasukkan kegiatan sharing dalam pengelolaan pendapatannya dan juga kebiasaan baik dalam hidupnya. 

Berbagi itu indah!
Tujuan:
- Mengenalkan fungsi uang untuk sharing
- Infak Masjid
- Mengenalkan kewajiban berbagi

Kegiatan:
- Mengajak Mahira untuk berbagi uang sebagai gift kepada musisi yang ada di sebuah restoran saat kami makan.
- Mengajak Mahira untuk berinfak di Masjid, setelah selesai sholat.
- Mengajak Mahira memasukkan uang ke dalam amplop-amplop dan memberikannya kepada para kekasih rasulullah.



Respon Mahira: 
Ia mengikuti semua kegiatan  dengan baik, sambil terus menanyakan apa saja yang ia ingin tanyakan. Masyaallah. Ia begitu bersemangat dan selalu melepas senyum bahagia. Masyaallah.



Mahira bersama kakak-kakak luar biasa kekasih rasulullah 
#KuliahBunsayIIP
#Tantang10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 28, 2019

Day 04-Fungsi Uang part 2 (Menabung itu seru!)




"Saat menabung, anak mulai mengenal angka, belajar menahan diri, dan memahami mana yang jadi prioritas," (Ratih Ibrahim)

#Day04

Alhamdulillah setelah mengenalkan fungsi uang sebagai alat tukar, sekarang saatnya mengenalkan fungsi uang untuk menabung. Saya ingin mengajak Mahira melakukan kegiatan menabung dengan asyik, sehingga ia terbiasa menyukai menabung sedini mungkin.

"Menabung itu seruuuu." Ucap saya padanya.

"Yeyyyyyyyy..." Ia sangat senang. 

Saya sering mendengar, banyak yang beranggapan tidak baik untuk mengenalkan uang pada anak, karena orangtua saya sendiri beranggapan bahwa saya terlalu dini mengenalkan uang pada Mahira. Ortu mengkhawatirkan anak akan menjadi konsumtif atau mata duitan dsb. Namun, saya beranggapan mengenalkan uang pada anak sejak dini justru mengajak mereka menghargai uang dan juga bisa belajar mengenal nominal. 

Menanamkan perilaku menabung dengan menggunakan tabungan yang dibuat sendiri dengan bahan bekas dengan harapan akan membuat ia begitu menghargai bahwa ternyata benda disekitar dapat dimanfaatkan.  Kelak ketika ia sudah bersekolah, tahap menabung akan saya lanjutkan pada pengelolaan uang. Insyaallah.

Menabung itu seru! (Membuat tabungan dari bahan bekas)
Tujuan:
- Menstimulasi anak suka menabung
- Mengenalkan fungsi uang 
- Mengenalkan konsep 3S secara sederhana
- Mengenalkan nominal uang kecil
- Berlatih melipat
- Berlatih berhitung
- Mengenal warna
- Berlatih memahami instruksi verbal dengan dua perintah bersamaan.
- Memanfaatkan bahan bekas di rumah

Kegiatan:
Membuat tabungan dari bahan bekas, yaitu dari kaleng snack, properti sisa acara dan kertas origami bekas yang sudah ada coretan. 




Saya mengumpulkan bahan bekas yang ada di rumah dan bisa dimanfaatkan untuk membuat tabungan. Menyiapkan alat dan kebutuhan lain. Mahira membantu saya mengelap kaleng dengan tisu basah. Lalu saya mulai membuat tabungan dan ia membantu saya untuk menghias tabungan itu versinya. Ia memilih sendiri pernak pernik yang akan dipasang. 

Tabungan kali ini penuh dengan warna, dengan tiga tabung yaitu:
- Tabung Kuning untuk Share
- Tabung Pink untuk Spend
- Tabung Biru untuk Save

Kemudian pada akhir sesi, saya mengajak Mahira menabungkan uang kembalian belanja kemarin yang di tambah dengan uang koin dan kertas yang belum ia masukkan ke tabungan. Saya mengarahkan Mahira dengan instruksi verbal. Mengenal nominal dan juga warna. 

Tabungan Mahira bisa dijadikan hiasan meja belajarnya lho, karena ia kasih bunga. Jadi mirip seperti Vas bewarna. Masyaallah.





Respon Mahira
Mahira sangat senang sekali, ia begitu bersemangat mengelap ketiga kaleng bekas snack dan memilihkan hiasan yang cocok yaitu bunga bewarna kuning, sisa dari dekorasi acara yang saya kumpulkan kali saja bermanfaat. 

"Ibu, ini bisa untuk minum." Celetuknya sambil praktik minum.

"Seperti gelas ya?" timpal saya.

"Iyaa, minum dulu." Ia berakting minum dengan serius. 

Mahira sangat senang sekali, ia bilang besok akan menabung lagi. Untuk beli buku. Masyaallah...

"Dalam prosesnya, menabung itu yang penting adalah konsisten, tidak hanya pada waktu tertentu saja,"  (Ratih Ibrahim)


#KuliahBunsayIIP
#Tantang10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Lanjut Baca yuk.. >>>

April 27, 2019

Day 03- Mengenalkan fungsi uang part 1



#Day 03
Pada tantangan yang kedua, saya sudah mengenalkan Mahira pada konsep rezeki secara sederhana dengan tahapan sesuai pemahaman pada usianya. Hari ini sesuai plan kami sebelumnya, tantangan selanjutnya adalah mengenalkan fungsi uang.

Mengenalkan fungsi uang pada Mahira, bukan seperti mengenalkan fungsi uang yang diteorikan oleh kurikulum di sekolah. Saya mengenalkan fungsi uang kepada Mahira dengan pemahaman yang semakna dengan 3S dalam materi bunsay. Spend, saving dan sharing. Hal ini tentu tidak dapat sekaligus. Sehingga saya membaginya beberapa bagian dengan kegiatan yang lebih bervariasi.

Part 1: Fungsi uang sebagai alat tukar (Penjelasan mengenai fungsi uang sebagai alat tukar ini saya memberikan Mahira pengalaman untuk melakukan transaksi pembelian barang yang ia butuhkan. Memberikan Mahira pengalaman tersebut akan menggiringnya untuk memahami uang sebagai alat tukar. Mahira membayar barang yang dibelinya dan ia mendapatkan barang tersebut.)

Part 2: Fungsi uang sebagai tabungan

Part 3: Fungsi uang sebagai bagian dari kewajiban berbagi

Mengenalkan Fungsi Uang (Mengajak Mahira membeli buku) 

*Tujuan:
- Mengenalkan Fungsi Uang sebagai alat tukar
- Melatih Mahira mengantri di kasir
- Memperkenalkan beberapa kosakata seperti: Membayar, membeli, kasir dan nominal uang.
*Kegiatan
Mengajak Mahira membeli buku sebagai bagian dari kebutuhannya. Ini tentu dapat membuat anak cepat mengerti fungsi uang sebagai alat tukar. Sekalipun ia belum bisa memahami dengan baik nominal dan penggunaan uang dengan bijak, menurut perencana keuangan, Prita Ghozie, sebaiknya orang tua mengenalkan uang kepada anak sejak balita. Pengenalan uang kepada anak sejak dini dapat membentuk karakter anak untuk mengendalikan diri mereka.

Jika sejak balita anak tidak diajarkan mengenai kecerdasan finansial, ketidakpahaman anak akan membuat mereka selalu meminta uang dan meminta barang yang dia inginkan. Selain itu, anak juga belum mengerti antara barang sebagai kebutuhan atau bukan. Jadi PR saya kelak akan memberi tahu Mahira mengenai budgeting dalam belanja dan prioritas pembelian.



*Respon Mahira
Sebelum ke toko buku saya berulang kali menyampaikan, jika kami akan ke book store. Setibanya di sana, ia sangat bersemangat melangkahkan kaki ke toko buku. Sejak turun dari mobil,  Mahira ribut harus mengenakan tasnya.

“Hiya mau pakai tas.”
“Ayooo Ibu, cepetan. Tuyuun.” Perintahnya tak sabar.

Kamipun turut bergegas untuk segera turun, ia masih bersabar menunggu Ayahnya memarkir mobil dan menunggu saya yang sedang kerepotan mengechek isi tas untuk membawa mukena, straw cup dan snack untuk Mahira.

Ia berjalan tanpa melihat saya yang mengikutinya dari belakang, seolah hafal saja dimana rak bukunya padahal tidak tahu karena ini book store di luar kota. Kemudian ia menghambur ke rak seperti biasanya.

“Mana buku Hiya?”

Ia pun berkeliling sebentar dan melihat rak buku anak, mengechek isi buku dan meminta persetujuan saya. Buku yang ia beli bukan buku yang asing, karena ia sudah pernah membaca seri yang sama sebelumnya saat di book store Jakarta. Sehingga saya setujui.

“Mahira ke kasir, ini uangnya untuk bayar.”
“Mana kasirnya?” ia pun bertanya.
“Di sana.” Saya sengaja membiarkan ia berjalan sendiri dan mengikutinya dari belakang.

Adik saya membantu untuk memantau aktivitas kami. Kemudian iapun di sapa oleh banyak orang. Senyumnya hampir tak pernah usai. Dipegangnya uang yang saya berikan berserta buku yg ia pilih tersebut dengan baik. Bahkan ia mau mengantri dengan tertib. Masyaallah. Tanpa merenggek untuk meminta cepat dan iapun menjalani setiap transaksi pembayaran di kasir.

“Ada uang kembalian Mahira, nnt di tabung ya?” ucap saya padanya.

“Iya Ibu, masukin sini dulu.” Iapun memasukkannya dalam saku celana.

Masyaallah tabarakallah… Ia sangat happy sekali.




#KuliahBunsayIIP
#Tantang10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial


Lanjut Baca yuk.. >>>

April 26, 2019

Day 02- Mengenalkan Konsep Rezeki






#Day 02
Pada hari pertama tantangan game level kali ini, saya sudah mengenalkan wujud dari uang kepada Mahira. Hal tersebut saya pilih sebagai starting yang paling dasar untuk menstimulasi Mahira. Pada hari kedua ini, sayaa akan memberikannya wawasan mengenai  "Dari mana asal uang yang kita miliki?" Hal tersebut merupakan pengenalan Konsep Rezeki secara sederhana kepada Mahira.

Awalnya saya cukup kesulitan, untuk membahasakannya kepada Mahira. Sehingga plan, diksi dan cara penyampainya pun saya perhatikan baik-baik. Mengingat usianya yang baru 28 bulan, tidak mudah mengenalkan konsep rezeki kepada balita.

Ada dua hal yang saya garis bawahi dari pemikiran anak-anak, sehingga konsep rezeki perlu sekali dikenalkan sejak dini. Kedua hal tersebut yaitu:
1. Anak-anak berpikir Ayah dan Ibunya selalu memiliki uang tanpa tahu dari mana.
2. Anak-anak menganggap semua harga itu sama. Dapat dibayar dengan apa yang mereka sebut dengan uang, tanpa mengetahui mengenai nominal.

Dari dua hal tersebut, anak perlu tahu mengenai asal uang yang kita miliki dan hal tersebut erat kaitannya dengan konsep rezeki.

Hakikat Rezeki itu sendiri menurut Islam, harus dipahami dengan baik oleh anak-anak. Jadi, secara etimologis ar-Rizq berarti pemberian dan menurut terminologis, rezeki adalah Apa saja yang bisa diperoleh oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak.

Apa saja yang bisa diperoleh, erat kaitannya dengan semua bentuk rizki, entah itu Halal dan Haram,
Sehat dan Sakit, Cerdas dan Tidak cerdas dan sebagainya
. Semuanya merupakan rezeki. Maka dari itu untuk memudahkan penyampaian agar sesuai penalaran range usia Mahira. Saya membagi pos penyampaian pada dua poin yang terpisah. Kelak seiring bertambahnya usia Mahira, insyaallah ia dapat mengorelasikan hal ini tentunya dengan penjelasan ulang dari saya. Poin tersebut yaitu:

1. Allah sebagai pencipta dan Allah sebagai pemberi rezeki.
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh." (QS Adz Dzariyat; 58)

Dalam beberapa kesempatan dalam proses membersamainya, Mahira sudah memahami melalui lisan jika yang menciptakan Ayah, Ibu, Uti, Tante, Kakung, Om, Onty, Mbah dan semua orang adalah Allah. Begitupula ketika saya tanyakan “Siapa yang menciptakan kucing?, langit?, Pohon? Burung?,” Apapun itu ia kan jawab “Allah.” Ia tahu Allah sebagai pencipta. Kemudian saya menambahkan lagi bahwa Allah sebagai pemberi rezeki.

“Iya Ibu.” Jawabnya menyimak, Masyaallah.

Saya melanjutkan, jika Allah memberikan rezeki kepada Ayah, Ibu, semua orang. Ia berusaha mengikuti saya mengatakan “Rezeki” dengan begitu susah payah. Masyaallah.

“aedeti itu apa ibu?” (rezeki itu apa ibu?) tanyanya bingung.

Saya kembali mengobrol santai dengan Mahira, bahwa rezeki itu banyak macamnya. Bisa uang, bisa makanan,
“Mahira bisa senyum?” tanya saya.
“Bisa kok.” Jawabnya sambil tersenyum.
Mahira bisa berjalan?, Mahira bisa pup?, Mahira punya kaki, tangan, dan mata. Itu juga rezeki.

Tak hanya sampai di situ, saya pun memperlihatkan dua video anak dengan kemampuan luar biasa yang tetap bersemangat untuk sekolah sekalipun memiliki cacat fisik sejak lahir sehingga mengharuskannya jalan dengan menggunakan tangannya.

Respon Mahira kala itu cukup sedih, ia menyaksikan dengan seksama video tersebut dengan raut wajah akan menangis. Sesekali ia menatap kakinya dan melihat kembali video. Kakak yang dalam video sangat berbeda dengan dirinya. Sayapun menyampaikan, jika Mahira harus bersyukur memiliki kaki dan dapat berjalan. Kaki ini rezeki dari Allah. Ucap saya. Ia kembali memahami dengan lisan bahwa semua yang ia peroleh merupakan rezeki dari Allah, bahkan pilek Mahira kemarin juga rezeki.
Tak ingin dengan contoh yang sedikit, sebelum perjalanan kami hari ini. Saya menunjukkan pohon cabe yang berbuah dan saya mengatakan jika iru rezeki dari Allah. Saat perjalanan dengan lantang ia bertanya,
“Ibuk, kalau pohon pisang?”
“Ya sama juga, Itu rezeki dari Allah yang menciptakan juga Allah.”

Dari obrolan saya dengan Mahira dalam berbagai kesempatan seharian ini. Saya berusaha mengajaknya memahami bahwa selain pencipta, Allah juga sebagai pemberi Rezeki dan perlahan saya mengenalkan padanya macam-macam rezeki tersebut yang patut kita syukuri.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS Ibrahim : 7)

2. Dari mana asal uang yang kita miliki?
“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.”
(QS An-Najm: 39)

Dalam hal ini, saya langsung menyebutkan uang yang dimiliki oleh Ayah. Kenapa langsung saya kerucutkan pada satu subyek yaitu Ayahnya? Karena tentu untuk memudahkan pemahamannya mengenai perolehan uang Ayah, sebagai orang yang ia ketahui memiliki dompet yang berisi uang. Sampai saat ini, saya tidak menunjukkan aktivitas kepemilikan uang, jadi yang ia tahu ya Ayahnya lah yang memiliki uang.
“Ayah kemana Mahira?” tanya saya selepas kami berpisah di halaman saat Ayahnya berangkat kerja.
“Ayah kerja.” Jawabnya.
“Kerja di mana?”
“Di kantor.” Jawabnya lagi.

Biasanya saya akan menanyakan “Di kantor apa?” dan dia akan menjawab instansi tempat Ayahnya bekerja. Namun pada kesempatan kali ini, saya memberikan pertanyaan baru.

“Ayah kerja, ke kantor, supaya dapat uang. Uangnya untuk beli baju Mahira, sepatu Mahira….”
“Susu juga, ibuk. Buku jugaaaa.” Lanjutnya.
Masyaallah, ia dapat merespon penjelasan saya dengan baik. Saat itulah saya perlahan memberikannya wawasan baru bahwa dengan bekerja kita akan mendapat uang dan uangnya untuk membeli.

Stop sampai kata membeli, perlahan nanti saya akan mengenalkan Mahira pada fungsi uang yang lainnya. Tidak hanya untuk membeli namun untuk menabung (save) dan untuk dibagikan (sharing). Sehingga konsep 3S tersebut perlahan dapat dipahami olehnya. Tentunya dengan repeat mengenai Allah sebagai pemberi rezeki, mengenai macam rezeki itu sendiri dan mengenai asal uang Ayah.

Pada kesempatan lain seiring bertambahnya usia Mahira, korelasi ini perlu diperjelas lagi dengan obrolan saya kelak mengenai rezeki yang telah dijamin dan rezeki karena suatu usaha (bekerja di kantor, berjualan, dsb)



#KuliahBunsayIIP
#Tantang10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial


Lanjut Baca yuk.. >>>